KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

SUMBA_2.jpgWaitabula, 2 Agustus 2007. Sejak tahun 1980 hingga 2007, jumlah penerima penghargaan Kalpataru mencapai  240  orang/kelompok. Sebanyak 14 orang/kelompok di antaranya berasal dari Propinsi Nusa Tenggara Timur dan empat di antaranya berasal dari Pulau Sumba, masing-masing:Yayasan Tananua Sumba di Kabupaten Sumba Timur, kategori Penyelamat Lingkungan tahun 2001, kegiatan pendampingan pemberdayaan masyarakat; Katrina Koni Kii, kategori penyelamat lingkungan tahun 2005, kegiatan budidaya cendana; Samuel Ngongo Lewu, kategori Perintis Lingkungan tahun 2006, kegiatan rehabilitasi lahan kritis dan budidaya cendana; dan Elan Wukak Victor, kategori Perintis Lingkungan tahun 2007 kegiatan pengembangan sekolah  berwawasan lingkungan dan  pembinaan kader lingkungan.

Para penerima anugerah Kalpataru adalah kader lingkungan yang benar-benar  telah melakukan sesuatu yang nyata guna mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kualitas lingkungan hidup maupun  kualitas sosial sekitarnya. Nilai-nilai kearifan yang terkandung pada kegiatan Kalpataru, perlu disebarluaskan kepada masyarakat luas, ditingkatkan kapasitasnya, bahkan direplikasi sebagai model pengelolaan lingkungan hidup berbasis masyarakat. 

Pada hari Kamis tanggal 2 Agustus 2007 bertempat di SMP Katolik St. Aloysius, Waitabula, dilaksanakan serangkaian kegiatan pemberdayaan melalui Revitalisasi Peran Penerima Anugerah Kalpataru se-Sumba. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi: dialog interaktif, pengukuhan 150 orang kader lingkungan, penanaman pohon dan kunjungan lapangan ke lokasi kegiatan penerima Kalpataru.

SUMBA_1.JPGDialog interaktif penguatan kapasitas kader lingkungan ini dihadiri oleh 300 undangan, antara lain Pejabat Bupati Sumba Barat Daya, Wakil Bupati Sumba Barat, Ketua DPRD Sumba Barat, Kajari, Kepala Pengadilan Negeri Sumba Barat, Dandim Sumba Barat, tokoh adat, tokoh masyarakat, para penerima Kalpataru, pelajar dan guru, petani, pengusaha, LSM, para Kepala Dinas terkait, dan seluruh unsur Muspida Sumba Barat. Dalam sambutannya, Deputi MENLH Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Sudariyono, mengutip pernyataan mantan Gubernur NTT, El Tari, yang mengajak seluruh warga Sumba untuk menanam, menanam dan menanam pohon, serta merawatnya. Menanam pohon sangat penting dengan pertimbangan kondisi Nusa Tenggara Timur secara umum yang kering dan kritis.

Pada kesempatan  itu juga dilakukan kunjungan lapangan ke lokasi kegiatan  penerima Kalpataru di Yayasan Kasimo di Kecamatan Waitabula sebagai salah satu model sekolah berbasis lingkungan binaan Victor Elan Wukak, dan ke Desa Tenggaba Kecamatan Wewewa Selatan, lokasi kegiatan Samuel Ngogo Lewu,  yang berhasil merehabilitasi lahan kritis seluas 40 ha dengan tanaman kemiri, cendana, gaharu, kaliandra, mahoni, dan jati. Prestasi Samuel Ngongo Lewu menjadi contoh sukses keberhasilan mengelola lahan kritis, kering dan berbatu yang memberi manfaat pelestarian dan  kesejahteraan penduduk dari hasil kebun dan ketersediaan sumber mata air untuk konsumsi. ***

Sumber:

Asdep Urusan Masyarakat Pedesaan , Deputi VI
Ged. B Lantai 5 Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Jl. D.I. Panjaitan, Kebon Nanas, Jakarta Timur 13410
Telp (021) 8520392; Faks. (021) 8580087
E-mail: kalpataru@menlh.go.id