KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Penggalian Pasir dan konversi hutan mangrove menjadi tambak membuat desa-desa di sepanjang pesisir Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, semakin terabrasi.

Salah satu contoh di Pantai Desa Karangserang, Sukadiri, Kabupaten Tangerang, enam gundukan pasir setinggi satu meter teronggok di pinggir pantai. Beberapa orang tengah mengangkut pasir dengan sebuah gerobak, kemudian menurunkannya di pinggir jalan untuk memudahkan truk mengangkutnya ke daerah lain.

“Satu truk pasir dijual Rp 170.000,” menurut beberapa penambang pasir di Karangserang” Penggalian pasir ini membuat Pantai Karangserang lebih cepat terabrasi ombak laut. Aktivitas penggalian pasir membuat sebagian besar Pantai Karangserang menjadi curam.

Bangunan pemecah gelombang (breakwater) hanya ada di satu lokasi sepanjang sekitar 200 meter, sedangkan lokasi lain yang lebih luas yang tidak terlindungi membuat Pantai Karangserang semakin mudah terabrasi. Tanaman-tanaman pelindung pantai seperti mangrove sudah tidak ada lagi.

Menurut pengamatan, abrasi pantai terjadi sepanjang satu kilometer, apalagi ombak besar telah menelan 20-100 meter pantai di Kampung Garapan.

Menurut data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Tangerang pada tahun 2001, abrasi di Karangserang sudah mencapai 3 kilometer sepanjang tepi pantai.

Kejadian serupa juga terjadi di Kampung Garapan, Dusun Bakau Tinggi, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Namun di kawasan ini, abrasi terjadi karena pembabatan hutan mangrove (bakau) untuk dijadikan tambak. Menurut pengamatan, abrasi pantai terjadi sepanjang satu kilometer, apalagi ombak besar telah menelan 20-100 meter pantai di Kampung Garapan. Banyak rumah penduduk yang akhirnya harus dipindahkan. Kampung Garapan sendiri sekarang dihuni oleh 390 kepala keluarga.

Abrasi terjadi setelah hutan mangrove di daerah itu ditebangi untuk dijadikan beberapa tambak, namun kenyataannya setelah hutan mangrove hilang dan dijadikan tempat budidaya udang, hasilnya lebih banyak merugi karena harga udang dan ikan merosot.

Selain berakibat abrasi, penggundulan hutan mangrove juga mengakibatkan intrusi air laut. Akibatnya, air tanah di Kampung Garapan sudah tidak ada lagi yang tawar. Untuk keperluan air tawar yang bersih, penduduk terpaksa membeli air tawar seharga Rp 250-500 per jerigen (sekitar 20 liter). Guna menjalankan aktivitas sehari-hari mulai dari mencuci, mandi sampai masak, tiap kepala keluarga rata-rata membutuhkan 200 liter air bersih.

Intrusi air laut, sekarang membuat tumbuhan mulai pohon kelapa, pisang, dan lainnya mati karena tidak tahan air yang berkadar garam tinggi.

Kampung Garapan sudah dibangun breakwater sepanjang 350 meter untuk tahap pertama. Kini mulai dibangun lagi breakwater sepanjang 600 meter.

Inginkan rehabilitasi

Namun, pembangunan breakwater diakui warga Kampung Garapan kurang memadai kalau cuma breakwater, suatu saat akan rusak juga. Gelombang juga masih bisa melewati breakwater. Tapi, kalau ada hutan mangrove, mereka bisa akan lebih aman.

Untuk itu warga Kampung Garapan mengharapkan pemerintah mengadakan rehabilitasi hutan mangrove di Kampung Garapan.

Kasie Pembinaan Teknis Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang Eddy Kasyanto, menyatakan daerahnya tahun 1998 mempunyai 254,98 hektare di tujuh kecamatan, kini hutan mangrove sudah tidak ada lagi.