KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 16 Oktober 2003. Salah satu fokus dari program kerja Kementerian Negara Lingkungan Hidup adalah upaya pencegahan, pengrusakan lapisan Ozon oleh bahan-bahan perusak lapisan ozon, seperti halon, freon (CFC) dan lain sebagainya yang banyak di konsumsi dan diproduksi oleh masyarakat. Halon banyak di jumpai pada bahan pemadam api berupa senyawa hidrokarbon, senyawa ini mengandung bromin dan klorin yang dapat merusak lapisan Ozon.

Halon-1211 berpotensi merusak lapisan ozon 6 kali lebih besar dari CFC dan halon-1301 merusak 10 kali lebih besar. Oleh sebab itu Pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Perindustrian dan Perdagangan didukung Kementerian Negara Lingkungan Hidup melarang memproduksi dan memperdagangkan barang menggunakan bahan perusak ozon, pemerintah menjadwalkan penghapusan BPO (Bahan Perusak ozon) pada tahun 2005.

Pada bulan Maret 2000, Pemerintah Indonesia mendapat mandat dari Multilateral Fund membentuk Bank Halon Nasional (Indonesian Halon Bank). Indonesian Halon Bank merupakan sistem manajemen yang mengelola dan mengendalikan sisa persediaan halon secara terencana dan tepat guna.

Indonesian Halon Bank dikelola oleh Garuda Maintenance Facility (GMF AeroAsia) dibawah manajemen PT. Garuda Indonesia, dengan kegiatan utamanya adalah inventarisasi konsumsi halon, membuat database, clearing house, testing facillity, sosialisasi alternative bahan pengganti halon dan menentukan kriteria essensial user.

Dalam hal ini pengelolaan Bank Halon, GMF AeroAsia berkoordinasi dengan Unit Ozon Kementerian Negara Lingkungan Hidup bertindak sebagai “Clearing House”, dibantu oleh tim teknis terdiri dari wakil instansi, lembaga riset, industri dan asosiasi profesi. Peresmiannya dan penandatangan prasastinya diadakan di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, jalan D.I. Panjaitan – Jakarta Timur, pada tanggal 16 Oktober 2003. Dalam kata sambutan Menteri LH Nabiel Makarim mengemukakan komitmen pemerintah terhadap Konvensi Wina dan Protokol Montreal yang diwujudkan dalam Keppres No. 23 tahun 1992. “Sampai akhir tahun 2002, jumlah BPO yang sudah berhasil dihapus penggunaannya tercatat sekitar 3900 MT, dari industri yang memproduksi foam, peralatan pendingin, pemadam kebakaran, peralatan kosmetik, cairan penghapus dan produksi rokok. Melalui alih teknologi pada 3 industri yang memproduksi alat pemadam kebakaran, Indonesia telah menghapus penggunaan halon sebanyak 682,4 MT pada tahun 1998″.

Tetapi sangat disayangkan halon yang beredar di masyarakat masih banyak oleh sebab itu perlu dibentuk fasilitas Halon bank yang bertugas untuk mengelola halon yang beredar di pasar, sehingga akan tercapai target penghapusan sisa halon sebesar 2005 MT.

Senada dengan Nabiel Makarim, Direktur PT GMF AeroAsia Hadinoto Soedigno sebelum peresmian secara simbolik pengoperasian Indonesian Halon Bank mengemukakan, “Sebagaimana diketahui pada tanggal 22 Maret 2000, GMF ditunjuk sebagai penyedia fasilitas pengelolaan Halon Bank di Indonesia dengan bantuan dana Multilateral Fund melalui Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, penunjukan ini merupakan keputusan yang tepat karena sejak tahun 1985, Garuda Maintenance Facility telah mengelola pemakaian halon sebagai alat pemadam api. Kami menyadari program perlindungan lapisan ozon tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tapi merupakan tanggung jawab kita bersama, sehingga keikutsertaan GMF dalam program perlindungan lapisan ozon merupakan bentuk dukungan kami atas keputusan Internasional melalui Protokol Montreal tahun 1987 yang kemudian diratifikasi Presiden Republik Indonesia No. 23 tahun 1992″.

Dalam pelaksanaan program tersebut PT. GMF Telah membangun fasilitas pengelolaan halon di area seluas lebih kurang 500 meter persegi yang terletak di area Garuda Maintenance Facility, Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Jakarta.

Informasi Lebih Lanjut:

Asdep Urusan
Atmosfir Dan Perubahan Iklim (Asdep 3/VI)
Telp/Fax: (021) 851-7164