KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Hasil teknologi modern memang memberi banyak kemudahan bagi manusia. Namun, patut waspada. Sebab di balik itu juga dapat mengancam keselamatan manusia. Bekas botol air mineral, misalnya. Menurut satu sumber, sebaiknya tidak memakai botol air mineral (aqua, dan berbagai merek sejenis) secara berulang-ulang karena bisa memicu penyakit kanker. Botol air mineral, cukup dipakai dua kali saja. Sebab bahan plastic botol ini yang disebut polyethylene terephathalate (PET) mengandung zat-zat karsinogen (atau DEHA) yang penyebab kanker.

Jika hendak memakai lebih lama, sebaiknya tidak lebih dari seminggu dan jauh dari sinar matahari. Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastic rusak dan zat karsinogen itu masuk ke air yang kita minum.

Zat berbahaya, bisa juga dating dari kemasan makanan yang kita santap. Menurut sumber tersebut beberapa kertas kemasan dan non kemasan (kertas Koran dan majalah) yang dipakai membungkus makanan, terdeteksi mengandung timbale (Pb) melebihi batas yang ditentukan. Timbale itu masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan atau tangan saat makan. Timbale yang masuk ke pencernaan menuju system peredaran darah dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain, seperti : ginjal, hati, otak, saraf dan tulang.

Keracunan timbale pada orang dewasa ditandai dengan gejala 3 P, yaitu pallor (pucat), pain (sakit), dan paralysisi (kelumpuhan). Keracunan yang terjadi bisa bersifat kronis dan akut. Menghindari kontaminasi logam berat timbale, memang tidak mudah. Banyak makanan jajanan seperti pisang goring, tahu goring dan tempe gorenga dibungkus dengan Koran bekas, padahal bahan yang panas dan berlemak mempermudah perpindahan timbale di kertas ke makanan. Karena itu sebaiknya makanan jajanan ditaruh di atas piring.

Saat ini pemekaian kemasan Styrofoam atau polystyrene untuk makanan semakin popular di masyarakat. Padahal menurut beberapa pakar, Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styrene ini memang praktis untuk bisnis makanan karena selain tidak mudah bocor juga bentuknya tidak mudah berubah. Bahan ini juga mampu bertahan dari panas, nyaman dipegang dapat mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, murah dan ringan.

Namun Divivi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan, residu Styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan endocrine disrupte (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada system endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan.

Sumber :
Koran Surya Pagi
Edisi 07-13 Juli 2008