KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Keterangan Foto: Kandang Sapi sumber biogas (kiri) 1 unit Biogester penghasil biogas (kanan).

Saat ini, pemanfaatan biogas dari kotoran sapi perah semakin meningkat. Di Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung saja sudah 202 unit. Sementara sejak beberapa tahun silam program  ini juga sudah dikembangkan diberbagai daerah. Selain tidak memerlukan biaya tinggi, teknologinya juga sederhana. Karena itu, menurut Deputi VII Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas, Drs. Sudarijono, Kementerian Lingkungan Hidup akan terus mendorong pemanfaatan biogas dengan melalui kerjasama dengan berbagai pihak.

Secara teknologis, prinsip pembuatan biogas adalah memanfaatkan gas metana –gas yang mudah terbakar– yang terdapat didalam kotoran sapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, terutama untuk konsumsi keluarga. Untuk itu, tentu selain perlu adanya hewan sapi sebagai pemasok kotoran, juga perlu sarana penampungan kotoran itu agar dapat berproses menghasilkan gas metana.

Tangki penampung kotoran hewan yang terbuat dari fibreglass itu disebut Biodigester. Didalam Biodigester yang tertutup rapat, kotoran hewan diencerkan dengan air. Ini untuk mempercepat proses keluarnya gas dari kotoran hewan. Dengan memanfaatkan tekanan gas di dalam Biodigester, gas metan yang terbentuk dialirkan ke penampungan gas. Tempat penampungan gas itu ada berupa kantong plastik berukuran besar, tapi ada pula berbentuk tabung dari fibreglass. Dari wadah penampungan ini, gas metan dapat dialirkan langsung ke kompor yang ada di dapur.

Manfaat Biogas
Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh dengan pemanfaatan Biogas sebagai bahan bakar antara lain:

  1. Masyarakat tak perlu menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar.
  2. Proses memasak jadi lebih bersih, dan sehat karena tidak mengeluarkan asap.
  3. Kandang hewan menjadi semakin bersih karena limbah kotoran kandang langsung dapat diolah.
  4. Sisa limbah yang dikeluarkan dari biodigester dapat dijadikan pupuk sehingga tidak mencemari lingkungan.
  5. Dapat berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca melalui pengurangan pemakaian bahan bakar kayu dan bahan bakar minyak.
  6. Realatif lebih aman dari ancaman bahaya kebakaran.
  7. Biodigester dapat dimanfaatkan secara bersama-sama dengan para tetangga sehingga secara tidak langsung ikut mendorong terbentuknya rasa kebersamaan diantara sesama warga. (Paulus Londo)