KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Banjarmasin, 5/9 (ANTARA) – Anggrek terbaik dunia jenis anggrek bulan lokal (Phalaenopsis amabilis) dari Kabupaten Tanah Laut kini tidak bisa ditemukan lagi di hutan Kabupaten Tanah Laut maupun di kawasan hutan Kalimantan Selatan lainnya.

Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kalimantan Selatan, Aida Muslimah, di Banjarmasin Sabtu mengatakan, anggrek lokal yang terkenal di dunia ini hanya ada pada tiga tempat.

Ketiga tempat tersebut, yaitu di Filipina dan di Indonesia yaitu di Bogor dan di Tanah Laut atau di Pelaihari ibukota kabupaten tersebut.

Dari tiga tempat tersebut, kata Aida yang hadir dalam acara buka bersama komunitas jurnalis “Pena Hijau” Kalsel, anggrek bulan Pelaihari yang paling bagus untuk dijadikan sebagai inti silang karena adanya berbagai kelebihan yang tidak terdapat pada anggrek jenis lainnya di daerah lain.

Beberapa kelebihan tersebut, kata Aida yang didampingi sekretaris PAI Yulianto, antara lain, anggrek bulan Pelaihari memiliki masa bunga cukup lama antara tiga sampai enam bulan sedangkan anggrek biasa tidak lebih dari satu bulan.

Selain itu, kata dia, jumlah kuntum dalam satu tangkai bisa mencapai antara 25-50 buah sedangkan anggrek biasa hanya sekitar 10-15 kuntum, dan banyak cabang dalam tangkai, sedangkan anggrek lainnya hanya satu cabang.

Anggrek bulan Pelaihari ini juga merupakan salah satu jenis anggrek yang memiliki bunga yang sangat indah berwarna putih bersih sehingga harganya pun cukup mahal bisa mencapai Rp5 juta satu pohon.

Sayangnya, kata Yulianto, jenis bunga yang dinobatkan sebagai bunga terbaik dunia di jenisnya tersebut, kini tidak ditemukan lagi di habitatnya, karena kesalahan kebijakan pemerintah masa lalu.

“Dulu anggrek merupakan tanaman hasil komoditas yang bisa diperjualbelikan, sehingga pada saat itu penjualan anggrek Pelaihari ke berbagai negara cukup marak, hingga akhirnya anggrek kebanggaan tersebut sulit ditemukan bahkan tidak ada lagi di hutan Pelaihari,” katanya.

Beruntung, kata dia, beberapa penghobi di Pelaihari maupun di daerah Kalsel lainnya, masih menyimpan dan berhasil mengembangbiakkan bunga langka tersebut, kendati jumlahnya tidak sebanyak yang diharapkan.

Menurut Yulianto, saat ini penghobi hanya mengembangbiakkan tanaman langka tersebut dengan mengandalkan proses alam, antara lain yaitu penyebaran biji yang masak melalui angin.

Pengembangbiakan cara tersebut, kata dia, tingkat keberhasilannya hanya sekitar satu persen dari ribuan serbuk biji anggrek tersebut.

Selain itu, pengembangbiakan juga melalui anakan yang tumbuh disamping induk dan juga pengembangbiakan anakan yang tumbuh ditangkai.

Cara-cara tersebut diatas, kata dia, tingkat keberhasilannya sangat sedikit, karena hanya mengandalkan faktor alam atau alamiah tanpa media apa pun.

“Sebenarnya ada media lain yang tingkat keberhasilannya tinggi dan cepat yaitu dengan media adar(persemaian) , namun biayanya cukup tinggi, sehingga jarang penghobi yang memanfaatkan media tersebut,” katanya.

Seharusnya, kata dia, pemerintah daerah dan provinsi Kalsel bisa peduli dengan hal tersebut, karena anggrek langka tersebut bisa menjadi salah satu kekayaan alam Kalsel yang tidak terhingga dan akan sangat diburu oleh pecinta anggrek dari belahan dunia.

Jangan sampai, kata Yulianto, Kalsel kembali kehilangan tiga jenis anggrek khas Kalsel seperti, “dendrobium lowii”, “spathoglottis aurea” atau anggrek tanah kuning dan anggrek jenis “denbrobium” lainnya, yang kini tidak bisa lagi ditemukan baik di hutan maupun di penghobi.

Ketua Komunitas jurnalis “Pena Hijau” Denny Susanto mengatakan, pihaknya akan terus mendukung upaya pelestarian anggrek Pelaihari maupun anggrek lokal Kalsel lainnya.

“Kita akan mendorong pemerintah untuk lebih peduli dengan kekayaan alam Kalsel yang tidak terhingga ini,” kata Denny usai acara buka bersama dengan anggota Pena Hijau, PAI dan PT Adaro Indonesia.


Langka

Secara nasional kata Sekretaris PAI Yulianto, terdapat sekitar 4000 jenis anggrek, yang 1000 di antaranya berada di Kalsel serta 3000 lainnya hidup di provinsi-provinsi lainnya di Kalimantan.

Dari 1000 jenis anggrek Kalsel tersebut, tujuh di antaranya merupakan anggrek langka yang dilindungi oleh undang-undang sehingga tidak bisa diperjualbelikan.

Ketujuh jenis anggrek yang dilindungi tersebut yaitu “paraphalaenopsis laycocki”, “paraphalaenopsis labukensis” dan “paraphalaenopsis serpentilingua”, ketiganya merupakan jenis anggrek tikus yang kini sulit didapat.

Selanjutnya, “phalaenopsis gigantea” atau anggrek bulan gajah, “coelogyne pandurata” atau anggrek hitam, “spathoglottis aurea” atau anggrek tanah kuning dan “grammatophylium speciosum”.
(T.U004/A011/P003)

SUMBER:
ANTARANEWS.COM
Minggu, 5 September 2010 12:54 WIB