KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

ST Andrews, Skotlandia (ANTARA News/AFP) – Pertemuan G20 gagal mencapai kesepakatan mengenai pembiayaan perubahan iklim sebulan menjelang KTT PB, sementara pada hari Sabtu berjanji untuk tetap menjaga berbagai langkah stimulus karena "tidak seimbangnya" perekonomian dunia.

Ke-20 perekonomian utama itu berkomitmen untuk bekerja bagi tercapainya sebuah "hasil yang ambisius" pada konferensi perubahan iklim, Desember, di Kopenhagen, tetapi tidak bisa mencapai tujuan mereka untuk menyepakati bagaimana mendistribusikan dana ke negara-negara miskin untuk mengatasi masalah perubahan iklim itu.

"Kami berkomitmen untuk mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman perubahan iklim dan bekerja menuju hasil yang ambisius di Kopenhagen" dimana berbagai negara akan mencari kesepakatan mengenai pemangkasan emisi gas rumah kaca, kata sebuah komunike.

Para menteri keuangan juga mengatakan mereka akan tetap mendukung stimulus darurat, meskipun ada pertanda bahwa dunia akan keluar dari pusaran krisis keuangan selama 12 bulan.

"Kami belum keluar dari hutan dan kita perlu terus mempertahankan langkah yang telah diambil," kata Alistair Darling, menteri keuangan Inggris dan presiden G20.

Dengan perekonomian terbesar di dunia yang hampir keluar dari resesi, Menteri Keuangan AS, Tim Geithner, mengatakan ada "konsensus yang sangat luas bahwa pertumbuhan tetap menjadi kebijakan yang dominan."

Sementara itu, proposal yang diajukan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, mengenai pajak transaksi keuangan global mendapat respons hangat, meski Amerika Serikat tidak memberikan dukungan.

Sebulan sebelum KTT di Kopenhagen 7-18 Desember, G20 mengatakan mendukung sepenuhnya perjuangan melawan perubahan iklim, meskipun hanya berjanji untuk "maju" bekerja mengenai pendanaan dan tidak memberikan angka.

"Kami berkomitmen mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman perubahan iklim dan bekerja menuju hasil yang ambisius di Kopenhagen," kata komunike.

"Kami opsi membahas perubahan iklim dan mengakui perlunya peningkatan secara signifikan dan dalam skala mendesak dan pembiayaan yang dapat diprediksi bagi penerapan perjanjian internasional yang ambisius."

Tapi ada tanda-tanda perselisihan dalam masalah ini.

Sumber dari delegasi Perancis, Jumat malam, mengatakan kepada AFP bahwa beberapa negara-negara berkembang mengatakan bahwa G20 bukanlah "forum yang tepat" untuk membahas masalah ini.

Darling sebelumnya mengakui ada "pandangan yang berbeda" di

tabel yang akan mengarah pada "berbagai alasan."

"Jika tidak ada kesepakatan mengenai pembiayaan, jika tidak ada kesepakatan mengenai kontribusi untuk memastikan kita dapat mengatasi masalah ini, maka kesepakatan Kopenhagen akan menjauh, jauh lebih sulit," katanya.

Hasil ini dikritisi oleh para kampanye termasuk kelompok lingkungan WWF.

Dalam pernyataannya, dikatakan G20 telah "gagal untuk mencapai kesepakatan mengenai pembiayaan yang diperlukan untuk kesepakatan global guna mencegah bencana perubahan iklim" dan menyuarakan "skeptisme" tentang janji-janji untuk membuat kemajuan lebih lanjut sebelum Kopenhagen.

Brown sebelumnya mendesak G20 untuk mempertimbangkan pajak transaksi keuangan global, yang dikenal sebagai Pajak Tobin, sebagai bagian dari "kontrak sosial" baru untuk perbankan.

Langkah ini akan menjadi salah satu cara yang mencerminkan "tanggung jawab global" lembaga keuangan kepada masyarakat, kata Brown, yang di masa lalu berhati-hati karena pajak menyebabkan ketakutan yang bisa membahayakan sektor keuangan Britania.

Ditanyakan oleh Sky News televisi apakah ia mendukung Pajak Tobin, Menteri Keuangan AS, Tim Geithner, mengatakan: "Tidak, itu bukan sesuatu yang siap kita dukungan."

Di akhir konferensi pers, ia menambahkan: "Saya fikir adil untuk mengatakan bahwa kita setuju bahwa kita harus membangun suatu sistem di mana para pembayar pajak tidak menanggung risiko kerugian di masa depan."

Dia mengatakan bahwa "kami menantikan kerja sama dengan mitra kami" mengenai bagaimana menghindari ini walaupun menolak mengatakan apakah AS akan secara aktif menentang kebijakan mengenai pajak ini.

Brown menekankan Inggris tidak akan bertindak sendirian di Pajak Tobin, dengan mengatakan pajak Tobin ini juga harus diimplementasikan oleh seluruh pusat keuangan utama dunia, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Swiss.

"Biarkan saya memberi penjelasan: Inggris tidak akan bergerak kecuali orang-orang lain bergerak dengan kami bersama-sama," katanya.

Sebelumnya, sekitar 200 orang, banyak mengenakan setelan bankir " yang bergaris-garis", berkumpul di sebuah pantai di St Andrews untuk memprotes pertemuan – dengan mengklaim mereka harus berhenti berbicara dan mengambil tindakan tegas.(*)

Sumber:
RSS-Antara News