KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Stockholm,(ANTARA News) – Para ilmuwan energi kenamaan dunia, Selasa, menyerukan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil (BBF), dalam proses menuju Konferensi Perubahan Iklim Copenhagen, yang diselenggarakan pada Desember.

Mereka mengeluarkan seruan tersebut dalam satu pernyataan yang dikeluarkan pada akhir Simposium Energi Internasional 2050 mengenai pilihan energi bebas fosil yang diselenggarakan oleh Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, sebagaimana dikutip dari Xinhua-OANA.

"Waktu adalah inti bagi perubahan radikal sistem energi global sementara ilmu ekonomi ekogologi dan analisis lingkungan hidup adalah prasyarat mendasar bagi pemikiran kebijakan masa depan," kata pernyataan tersebut.

"Kegiatan energi manusia harus dikembangkan sehingga tanah, air dan udara tidak terpengaruh secara drastis. Semua pilihan energi masa depan mesti mengandalkan bahan bangunan dan bahan bakar yang berkesinambungan yang pada prinsipnya dapat didaur-ulang dan bertahan lama," tambah pernyataan itu.

Pernyataan tersebut juga menekankan produksi pertanian terutama mesti dimanfaatkan buat pangan dan pada saat yang sama menghindari penggurunan global serta mempertahankan keragaman.

Menurut pernyataan itu, listrik harus menjadi pengantar energi utama pada masa depan, karena kebanyakan sumber energi non-fosil menyediakan energi listrik.

Lima-belas ilmuwan utama, termasuk Profesor Carlo Rubbia, Peraih Hadiah Nobel bidang Fisika 1984, dan George A Olah, Peraih Hadiah Nobel bidang Kimia 1994, menyajikan penelitian mereka di bidang kendaraan karbon rendah, bio-energi, angin, sinar surya, dan nuklir, serta masalah efisiensi energi di hadapan sebanyak 350 peserta.(*)

Sumber:
RSS-Antara News