KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

London (ANTARA News) – Pertemuan Perubahan Iklim di Barcelona, Spanyol, ditutup tanpa menunjukan tanda kemajuan berarti, semua pihak masih belum mau mundur dari posisi masing-masing yang diperkirakan akan membuat kesepakatan Kopenhagen semakin sulit.

Hal itu disampaikan Chair Working Group of Post Kyoto 2012, National Council on Climate Change, Tri Tharyat, dalam keterangan persnya yang diterima koresponden Antara London, Sabtu.

Harapan tinggi dari Barcelona tampak tidak tercermin dari hasil akhir perundingan, sekalipun terdapat kesepakatan pengurangan jumlah teks negosiasi, namun tidak tercapai persetujuan pada isu-isu krusial seperti penetapan target global jangka panjang dan aspek keuangan, ujarnya.

Menurut Tri Tharyat, yang lebih mendasar adalah tidak disepakatinya bentuk akhir hasil Kopenhagen. Beberapa negara menginginkan adanya perjanjian baru sementara negara lain menginginkan bentuk hukum yang tidak mengikat.

Ketua Sidang secara tegas menyatakan bahwa tidaklah realistis untuk berharap bahwa Kopenhagen akan menghasilkan suatu perjanjian baru.

Mempertimbangkan perkembangan tersebut, Delegasi RI yang diketuai Rachmat Witoelar mengadakan serangkaian pendekatan bilateral dengan beberapa negara kunci guna mencari jalan tengah.

Hasilnya adalah gagasan RI agar Kopenhagen menyepakati `kesepakatan payung` berisi tujuan global jangka panjang, hingga disepakatinya perjanjian internasional baru sebelum bulan Juni 2010.

Usulan ini ditujukan untuk menjembatani beragam pandangan dan akan didiskusikan secara lebih mendalam di Kopenhagen.

Penasihat Senior Delegasi RI yang juga Dubes RI untuk Jerman, Eddy Pratomo mengatakan yang pasti, usulan RI ini menekankan bahwa `kesepakatan payung` ini harus disepakati dalam satu paket dengan kesepakatan pengurangan emisi gas rumah kaca negara-negara maju dalam konteks Protokol Kyoto.

Menurut Dubes Eddy Pratomo, terdapat pula beberapa usulan negara lainnya yang akan juga dibahas.

Sementara itu, Delegasi RI terus mengupayakan diterimanya secara adil elemen kehutanan dalam kerangka pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi kehutanan (REDD) dan elemen kelautan dalam konteks adaptasi sebagai bagian integral dari hasil Kopenhagen.

Kemajuan perundingan di Barcelona untuk kedua isu ini cukup positif, sebagaimana tercermin dalam teks akhir perundingan.

Delegasi Indonesia terus mendorong agar pendanaan adaptasi juga mencakup konservasi dan rehabilitasi atas fungsi ekosistem laut yang terkena dampak perubahan iklim.

Ketua Delegasi RI Rachmat Witoelar, memanfaatkan kesempatan di Barcelona ini untuk bertemu dengan negara-negara kunci untuk memuluskan jalan ke Kopenhagen.

Sekalipun perjalanan ke Kopenhagen masih cukup panjang, Indonesia akan terus berkontribusi bagi pencapaian kesepakatan akhir.

"Selain melalui proses UNFCCC, Indonesia akan memanfaatkan berbagai forum internasional lainnya untuk mendorong kesepakatan dimaksud sebagai akhir dari pelaksanaan mandat Rencana Aksi Bali," demikian Ketua Pengganti Delegasi RI Agus Purnomo.(*)

Sumber:
RSS-Antara News