KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jember (ANTARA News) – Kebakaran hutan konservasi di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen diprediksi semakin meluas karena cuaca kemarau masih berlangsung hingga akhir Oktober.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jatim di Jember, Budi Utomo, Selasa, mengatakan, kawasan hutan konservasi Ijen merupakan savana (padang rumput ilalang) yang mudah terbakar bila tersulut api di musim kemarau.

"Sejak musim kemarau berlangsung, sudah dua kali kebakaran terjadi di kawasan hutan konservasi milik BKSDA Wilayah III Jatim di Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi itu," katanya.

Ia menjelaskan, luas lahan hutan konservasi yang terbakar selama beberapa pekan terakhir sebanyak 30 hektare (ha) dari 2.560 ha hutan konservasi karena keterbatasan jumlah petugas dan sejumlah titik api meluas ke beberapa blok Gunung Ringgit, Penataran, dan Banyupahit.

"Dugaan sementara titik api berasal dari hutan lindung milik Perhutani, namun penyebab titik api muncul di kawasan hutan lindung itu belum bisa dipastikan," katanya.

Sejauh ini, kata dia, hutan lindung milik Perhutani Bondowoso berbatasan dengan hutan konservasi BKSDA, bahkan kebakaran sempat meluas hingga kawasan hutan lindung Perhutani di Banyuwangi Barat.

"Ada kemungkinan titik-titik api masih ada di kawasan hutan konservasi, apabila cuaca cukup panas dan ada pemicu api yang mudah terbakar maka kebakaran hutan diprediksi akan terjadi lagi dan meluas," katanya.

Untuk itu, kata dia, petugas BKSDA yang bertugas di TWA Kawah Ijen dibantu dengan petugas dari Perhutani Bondowoso dan Polsek Sempol Kabupaten Bondowoso berusaha memadamkan sejumlah titik api di kawasan hutan setempat.

"Hampir setiap tahun terjadi kebakaran hutan konservasi di kawasan TWA Ijen, meski petugas BKSDA sudah mengantisipasi dengan menyiagakan satu unit mobil pemadam kebakaran," katanya.

Ia mengimbau kepada semua pihak untuk menjaga ekosistem hutan konservasi dan masyarakat diminita tidak membuka lahan di kawasan Perhutani dengan cara membakar karena loncatan api dari hutan lindung Perhutani dikhawatirkan menjadi pemicu kebakaran hutan konservasi Ijen.

"Saya juga mengimbau kepada pengunjung untuk tidak membuang puntung rokok secara sembarangan di hutan konservasi supaya tidak terjadi kebakaran hutan," katanya.(*)

Sumber:
RSS-Antara News