KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Batam (ANTARA News) – Kongres Vegetarian Asia ke-4 di Batam, Kepri, 6-10 November, diharapkan dapat melahirkan rekomendasi dunia tentang makan sayuran, suatu langkah untuk menyelamatkan dunia.

"Kongres ini nantinya akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah tentang pentingya menjadi vegetarian," kata Humas Kongres Vegetarian Asia ke-4 Alvin Yolanda di Batam, Jumat.

Ia mengatakan ilmuwan dari seluruh dunia berkumpul di Batam untuk merumuskan rekomendasi vegetarian.

Kongres, kata dia, dibagi dalam beberapa grup fokus yang membahas berbagai hal yang terkait vegetarian, mulai dari hidup sehat hingga penyelamatan bumi.

"Ada juga fokus grup yang membahas etika bersama hewan. Kita tidak boleh menendang hewan sembarangan," kata dia.

Di tempat yang sama, seorang pembicara dari Inggris Tony Deep mengatakan vegetarian dapat menyelamatkan lingkungan.

Menurut dia, dengan tidak membunuh hewan, maka ruang hidup manusia menjadi lebih luas, karena peternakan membutuhkan lahan yang relatif besar.

"Dengan tidak memakan hewan, maka ruang hidup kita jadi lebih luas, sehingga lebih bebas, dan otomatis menghindari perusakan alam," kata dia.

Ia menyatakan, ruang hidup manusia sempit karena harus berbagi dengan peternakan hewan, maka manusia mencari jala untuk memperluas lahan hidup, dengan melakukan hal-hal yang dapat merusak alam.

Selain Deep, belasan profesor akan mengisi Kongres Vegetarian Asia itu, di antaranya peraih Nobel Perdamaian yang juga Ketua Panel Antarpemerintahan soal Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau IPPC, Rajendra Pachauri, dan mantan ilmuwan NASA, Art-Ong Jumsa.

Sekitar 1.000 peserta dari 14 negara mengikuti Kongres Vegetarian Dunia ke-4 di Batam.

Meskipum Kongres Asia, namun beberapa ilmuan Eropa seperti Inggris, Prancis dan Belgia juga hadir merumuskan rekomendasi dunia tentang vegetarian.(*)

Sumber:
RSS-Antara News