KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Banjarmasin (ANTARA News) – Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta mengirim tim untuk melakukan penelitian atas pencemaran tambang batubara PT Adaro di Balangan, Kalimantan Selatan.

"Kita sudah kirimkan tim ke PT Adaro untuk meneliti dan menghitung kerugian akibat pencemaran itu," kata Hatta di Banjarmasin, Sabtu.

Ia mengatakan, dengan terbitnya Undang-Undang No.32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup, pihaknya punya landasan hukum untuk melakukan tindakan menangkap maupun membawa suatu perkara ke persidangan.

Hatta mengemukakan tim telah menemukan tempat yang menjadi penyebab dugaan terjadinya pencemaran di Sungai Balangan.

"Ada penampungan limbah yang meluap akibat hujan deras, namun saat ini tempat tersebut sedang diperbaiki," katanya.

Mantan Pembantu Rektor I Unlam Banjarmasin itu meminta PT Adaro untuk mengantisipasi terjadinya musibah yang sama, dengan cara membangun tempat penampungan limbah yang lebih besar dan kuat.

"Jangan seperti tahun lalu, membuat penampungan seadanya, sehingga saat banjir yang tidak diduga-duga seperti ini meluap," tegasnya.

Tentang ganti rugi, menteri mengatakan pihaknya tidak akan gegabah karena terlebih dahulu harus ada penelitian dan analisa.

"Kita juga menjaga agar perusahaan jangan sampai menjadi resah gara-gara kita sembarangan menuntut ganti rugi kepada mereka," katanya.

Menurut menteri, jika PT Adaro terbukti lalai, tidak tertutup kemungkinan akan diberikan tindakan tegas seperti PT Pertamina.

"PT Pertamina kita tuntut denda Rp50 miliar dan sudah dibayar sekitar Rp20 miliar," kata Hatta dengan tidak menyebutkan kesalahan PT Pertamina.

Seperti yang telah diberitakan ANTARA sebelumnya, Kepala Humas PT Adaro Andriansyah mengatakan, pencemaran sungai Balangan disebabkan kolam pengendapan lumpur yang berada di lokasi SP 6A meluap setelah hujan cukup deras melanda kawasan itu.

Lumpur yang berasal dari kolam bukan galian tambang batubara itu tidak sempat diendapkan sehingga ikut meluap dan mencemari sungai.

"Seharusnya sebelum dibuang ke sungai air bukaan yang bercampur lumpur itu diendapkan di kolam tersebut, namun pada Jumat (23/10) itu hujan cukup deras sehingga air kolam meluap bersama lumpur," katanya. (*)

Sumber:
RSS-Antara News