KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Semarang, (ANTARA News) – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto mengatakan Pulau Jawa sudah mengalami krisis air bersih sehingga perlu upaya pengelolaan dan penghematan sumber daya air.

"Jawa sudah krisis air dan karenanya kita harus berhemat," katanya dalam pencanangan pembangunan Waduk Jatibarang dan normalisasi Kali Garang atau Banjir Kanal Barat, di Taman wisata Goa Kreo, Semarang, Kamis.

Djoko mengatakan, dalam undang-undang (Undang-undang Tentang Sumber Daya Air, red.) juga sudah mengamanatkan air dimanfaatkan dengan adil dan baik, konservasi air dengan baik, serta tidak merusaknya.

"Jika sebelumnya mencuci mobil setiap hari, sekarang bisa dua atau tiga hari sekali. Masyarakat harus menghemat penggunaan air bersih," katanya.

Cara lain, lanjut Djoko adalah dengan cara pengelolaan air hujan dengan membuat waduk buatan serta penghijauan hutan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri PU setelah mencanangkan pembangunan Waduk Jatibarang dan normalisasi Kali Garang atau Banjir Kanal Barat, di tempat lain juga mencanangkan rehabilitasi sistem drainase Kota Semarang.

Djoko menghadiri ucapara penggalian pertama perbaikan fasilitas tiga drainase primer (Kali Semarang, Kali Asin, dan Kali Baru) dan pembangunan stasiun pompa drainase dan kolam retensi di Muara Kali Semarang untuk mengatasi banjir di bagian tengah Kota Semarang.

Investasi perbaikan sistem drainase Semarang Tengah berasal dari pinjaman Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) senilai Rp277 miliar serta APBD Jawa Tengah dan APBD Kota Semarang sebesar Rp20 miliar.

Pembangunan dan rehabilitasi tersebut diharapkan bisa menjadi solusi yang lebih baik dalam mengatasi banjir di Semarang, karena dapat menghemat biaya untuk peninggian fasilitas umum dan transportasi maupun penyesuaian arah saluran drainase sekunder sekitar Rp126,4 miliar.

Perbaikan sistem drainase Kali Semarang, Kali Asin, dan Kali Baru tersebut akan bermanfaat bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan harga tanah di daerah yang telah bebas dari genangan banjir karena rob.

Terkait perbaikan sistem irigasi di Kabupaten Grobogan, Djoko mengatakan, Bendungan Lanang yang berada di Kabupaten Grobogan bagian barat sudah dibangun sejak tahun 1992, namun belum dilengkapi saluran irigasi yang menghubungkan ke Waduk Kedungombo.

Saat ini, sistem irigasi tersebut dibenahi dan diharapkan sawah tadah hujan seluas 1.900 hektare di Kabupaten Grobogan dapat menjadi irigasi teknis.

Sementara produksi pertanian ditargetkan bisa meningkat dari rata-rata 2,1 ton hingga 3 ton per hektare bisa menjadi 5 ton hingga 6 ton per hektare, karena terjadi peningkatan intensitas tanam dari 100 persen menjadi 250 persen.(*)

Sumber:
RSS-Antara News