KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

London (ANTARA News/AFP) – Upaya menyokong pemulihan ekonomi dunia dan merangkai kesepakatan untuk memerangi perubahan iklim akan menjadi agenda utama untuk pertemuan para menteri keuangan G20 di Skotlandia dari Jumat.

Para menteri ditambah gubernur bank sentral dari 20 negara kaya dan yang perekonomiannya paling cepat tumbuh akan menyelengarakan pertemuan ketiga mereka di tahun 2009 selama dua hari di St Andrews, kota tepi pantai yang dikenal sebagai rumah olah raga golf.

Sekarang negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Prancis telah keluar dari resesi setelah tahun lalu mengalami krisis keuangan global dan fokus G20 adalah beralih dari manajemen bencana menjadi pembangunan untuk mengamakan masa depan ekonomi.

Tapi kali ini, kelompok itu juga harus mengalihkan perhatiannya pada perubahan iklim menjelang konferensi utama PBB di Kopenhagen, Desember mendatang yang ditujukan untuk memperkuat perjanjian untuk menggantikan Protokol Kyoto, meskipun harapan untuk mencapai kesepakatan memudar.

Rodrigo Delgado Aguilera, peneliti dari pusat penelitian urusan luar negeri, Chatham House, mengatakan, pertemuan di St. Andrews kemungkinan besar hanya menghasilkan perubahan "tambahan" dan bukan perkembangan besar.

"Krisis ini adalah bukti yang cukup bahwa kita tidak benar-benar mengerti bagaimana dunia bekerja. Mungkin untuk sekarang ini berbagai langkah yang lebih kecil lebih baik, tetapi tidak boleh ada alasan untuk tidak berpikir besar," katanya kepada AFP.

Dalam upaya untuk memastikan tidak terulangnya kejadian tahun lalu ketika mendekati krisis yang terlihat dari runtuhnya bank investasi AS Lehman Brothers, para pemimpin dunia pada pertemuan G20 di Pittsburgh September menyetujui sistem baru untuk mengkoordinasikan pengambilan keputusan ekonomi dan mendorong kestabilan, dan pertumbuhan dalam jangka panjang.

Prioritas utama di akhir pekan ini untuk mencari rincian tentang bagaimana sistem saling menilai akan bekerja, kata para pejabat G20, berbicara dengan syarat tidak mau disebut namanya.

Strategi keluar dari langkah darurat diberlakukan untuk melawan kemerosotan global juga akan dibahas.

Tetapi diperkirakan para menteri cenderung menggemakan kebutuhan untuk menjaga mereka tetap ditempat sampai "terjaminnya pemulihan yang tahan lama", seperti kata pemimpin di Pittsburgh.

Berbicara sebelum pertemuan, seorang pejabat senior Departemen Keuangan AS menekankan AS hanya terlihat tumbuh satu kuartal – diumumkan minggu lalu – dan bahwa ekonomi masih dalam keadaan rapuh.

Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, menegaskan Eropa telah mencapai keselarasan mengenai masalah ini, menyusul diselengarakannya KTT Uni Eropa pekan lalu.

"Kami secara bulat sepakat tanpa satu negara pun berbeda pendapat dengan mendukung berbagai kebijakan yang tidak membolehkan dukungan ditarik sampai pemulihan terjamin," katanya.

Bank sentral AS, Federal Reserve, Rabu, terus mempertahankan tingkat suku bunganya mendekati nol dan mengelola dana triliun dolar AS untuk mendukung perekonomian yang sakit, dengan menambahkan bahwa sejak September telah "terus meningkat".

Pertemuan di St Andrews seminggu setelah berita ekonomi yang memalukan untuk tuan rumah yang masih dalam resesi.

Pada Selasa, dikatakan bahwa negara itu mengguyur dana tambahan senilai 30 miliar poundsterling (33 miliar euro, 49 miliar dolar) untuk mendukung Royal Bank of Scotland dan Lloyds banking Group, yang masing-masing sahamnya kini dikuasai negara sekitar 84 persen dan 43 persen.

Dan Bank of England (BoE), Kamis, akan memutuskan apakah akan menyuntikkan dana tambahan miliaran poundsterling ke dalam perekonomian untuk membantu keluar dari kemerosotan.

Di bidang lingkungan, kampanye perubahan iklim diharapkan mencapai kemajuan menjelang pertemuan di Kopenhagen.

Sumber dari G20 mengatakan pembicaraan di Skotlandia akan difokuskan pada bagaimana uang tunai dari negara kaya digunakan untuk membantu negara berkembang mengatasi perubahan iklim harus sampai.

Perdana Menteri Denmark, Lars Loekke Rasmussen, yang negaranya akan menjadi tuan rumah Konferensi iklim PBB hadir untuk memantau kemajuan.

Para pemimpin Uni Eropa pekan lalu sepakat bahwa negara-negara berkembang akan membutuhkan 100 miliar euro (150 miliar dolar) setiap tahun mulai tahun 2020, tetapi gagal untuk meletakkan angka yang harus disumbang oleh Eropa.

KTT di Pittsburgh juga melihat kemajuan dalam isu reformasi regulasi bank, termasuk ditangguhkan bonus untuk para bankir dan membuat pembayaran dikenai "clawback" jika kinerjanya buruk.

Tapi Prancis telah menghidupkan kembali isu itu sampai ke St Andrews, dengan resmi mengatakan itu adalah "kekhawatiran" karena kurangnya kemajuan sejak itu.

Secara khusus, Amerika Serikat "meluncurkan konsultasi di bawah naungan The Fed, tapi tanpa meletakkan angka di atasnya," kata seorang pejabat Perancis, yang tidak mau disebut namanya.(*)

Sumber:
RSS-Antara News