KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Denpasar (ANTARA News) – Dewan Masa Depan Dunia (WFC) mengajukan satu usulan pendanaan baru dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mendanai transisi energi terbarukan global sebagai salah satu upaya mencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDG).

Korespondensi yang dilakukan ANTARA di Denpasar, Kamis malam, menyebutkan, para pemimpin Uni Eropa dalam pertemuan di Brussel pada 29 hingga 30 Oktober selayaknya memberikan otoritas dalam hal penghimpunan dana melalui cara lain.

"Jumlah total limit atas yang diperlukan bagi penghimpunan dana ini seharusnya ditentukan hanya oleh keperluan tertentu untuk menjamin bahwa kinerja target capaian bisa diperoleh. Akhirnya, barang-barang dan pelayanan-pelayanan baru bisa dibuat sebagaimana seharusnya," kata pendiri WFC, Jacob von Uexkull, dari Hamburg, Jerman.

WFC dalam pendiriannya memiliki cita-cita mewakili kepentingan generasi mendatang di mata para peletak kebijakan inti dunia. Ke-50 anggota tetapnya di seluruh dunia telah bisa memotori perubahan-perubahan positif secara berhasil.

Dewan ini juga aktif menyuarakan sejumlah tantangan bagi kepentingan masa depan bersama dan menyediakan solusi yang mangkus bagi para pengambil kebijakan dunia.

Penelitian mendalam mendasari sejumlah usaha advokasi bagi kesepakatan internasional, kerangka kerja regional, dan pembuatan undang-undang nasional, pula membuat keputusan yang sangkil dan bisa diterapkan.

Dana baru yang bisa dihimpun kelak dari IMF dalam kerangka "Special Drawing Rights" (SDR) tidak akan meningkatkan gangguan terhadap hutang satu negara jika aturan main terkait SDR itu direformasi. Ini akan membuat mereka bebas bunga sebagaimana yang diamanatkan dalam cita-cita penghimpunan dana baru itu.

Memberikan SDR baru, menurut WFC, juga tidak akan menimbulkan inflasi sejak dana itu bisa menghadirkan berbagai fasilitas produktif bagi pemakainya sesuai keperluan yang berbeda-beda.

Seorang ahli diperlukan bagi penyusunan skema SDR itu, katakanlah dari UNEP dan Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), untuk membantu mengembangkan rencana emerjensi global guna memaksimalkan pemakaian Energi Terbarukan, melindungi sumber daya alam, dan mendorong transisi ke sistem produksi energi berkelanjutan.

Rencana aksi ini, menurut WFC, harus diterjemahkan menjadi proyek-proyek regional, yang didasarkan pada aspek kompetitif. "Kerangka kerja harus tidak berakhir dalam 10 tahun saja, sehingga bisa menawarkan kesempatan pembukaan lapangan kerja berkesinambungan," kata von Oexkull.

Saat IMF dilengkapi secara baik untuk mengorganisasikan pendanaan baru itu, Dewan Pendanaan PBB bisa mengawasi implementasi dari berbagai proyek itu. Kalaulah bukan mereka, maka alternatif bisa dijalankan kepada UNDP, UNEP, dan IRENA.(*)

Sumber:
RSS-Antara News