KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 JAKARTA, SUAR– "Tahun ini ada delapan orang pecinta lingkungan akan mendapat penghargaan negara berupa satya lencana pembangunan. Penyerahan penghargaan tersebut akan dilakukan pada peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN), 5 Nopember di Istana Negara," demikian penjelasan Sekretaris Kementerian Negara Lingkungan Hidup (Sesmen LH), Ir. Arief Yuwono dalam jumpa pers menyambut HCPSN di Kantor KLH, 30 Oktober.

"Siapa saja penerima satya lencana itu, nanti disampaikan kemudian. Tapi yang pasti mereka yang telah mendarmabaktikan dirinya kepada lingkungan hidup, minimal selama lima tahun berturut-turut tanpa cacat cela," lanjur Arief Yuwono.

Sebelumnya, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta menjelaskan bahwa penghargaan kepada mereka yang telah berjasa adalah hal yang wajar dan manusiawi. "Setiap orang yang telah melakukan sesuatu yang bermanfaat tentu patut dihargai. Apalagi mereka yang melestarikan lingkungan khusus
nya flora dan fauna yang menjadi kekayaan alam bangsa kita," kata Prof. Gusti M Hatta.

Tema peringatan HCPSN tahun ini adalah "Lindungi Puspa dan Satwa Nasional sebagai Cermin Peradaban Bangsa." Indonesia, kata Prof Gusti M Hatta, akan dicitrakan dengan bagaimana kita memperlakukan kekayaan alam yang merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Keanekaragaman hayati kita juga merupakan terkaya di dunia adalah salah satu modal pembangunan nasional bagi kesejahteraan bangsa.

Peringatan HCPSN kali ini akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pada kesempatan tersebut, presiden juga akan melakukan penandatanganan Sampul Hari Pertama (SHP) perangko seri puspa dan satwa, penyerahan penghargaan "Raksaniyata" dalam rangka program "Menuju Indonesia Hijau (MIH)" dan dilanjutkan dengan penyampaian amanat Presiden RI.


Menuju Indonesia Hijau Program
"Menuju Indonesia Hijau"
yang diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup sebagai instrumen evaluasi terhadap pemerintah kabupaten dalam pelaksanaan penaatan di bidang konservasi sumber daya alam dan pengendalian kerusakan lingkungan. Program ini dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Istana Negara, 12 Juni 2006.

Menurut Deputi III Menteri Negara Lingkungan Hidup, Masnellyarti Hilman, pelaksanaan program ini didasari oleh berbagai pertimbangan terhadap kualitas lingkungan hidup saat yakni, laju degradasi hutan yang masih tinggi (1,08 juta hektar per tahun pada kurun 2000-2005), lahan kritis yang mencapai 77,8 juta hektar, kerusakan hutan mangrove dengan luasan 5,3 juta hektar (57,6% dari total luasan hutan mangrove 9,2 juta hektar), ancaman terhadap berbagai tumbuhan dan satwa, kerusakan daerah aliran sungai (DAS) yang diindikasikan dengan semakin meningkatnya DAS kritis, serta munculnya bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, dan lain-lain yang kini diperparah oleh dampak perubahan iklim.


Ditegaskannya, indikator-indikator Yang dipakai antara lain: 1. Penguatan kelembagaan lingkungan hidup di daerah; 2. Penurunan laju kerusakan hutan dan upaya penambahan tutupan vegetasi; 3. Penyusunan database tutupan lahan seluruh Indonesia. Sedangkan parameter dan kriteria penilaian dalam pelaksanaan pengawasan terdiri dari: a. Tutupan vegetasi berhutan b. Kesesuaian fungsi kawasan; s. Keanekaragaman Hayati; d.Daerah penyangga (kawasan hutan konservasi); e. Peran" serta masyarakat; f. Manajemen pemerintah kabupaten; g. Penambahan tutupan vegetasi.


Dengan parameter dan kriteria tersebut, saat ini ada 11 kabupaten yang dinominasikan untuk mendapat penghargaan Raksaniyata. "Sekarang sedang dalam pembahasan Tim Pengarah dan Dewan pertimbangan yang anggotanya terdiri dari berbagai instansi, termasuk kalangan akademisi, lembaga swadaya
masyarakat dan media massa. Dewan Pertimbangan penilai diketuai oleh Prof. Emil Salim," jelas Masnellyarti Hilman.

Dari 175 kabupaten yang terpantau, upaya penambahan tutupan vegetasi Yang melebihi 1% dari luas wilayah adalah di Kabupaten Sleman, Temanggung dan Lombok Timur pada tahun tahun 2008, dan pada tahun 2009 adalah di Kabupaten Kulonprogo, Batang, Sragen, sampang dan Enrekang.  Paulus Londo

Sumber:
Koran Akar Rumput
Hal. 5 / 02-08 November 2009