KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

"Kapitalisme itu bagaikan narkoba. la memberi kenikmatan tapi sekaligus menghancurkan. Para kapitalis serta jaringan kompradornya tak ubahnya jaringan pengedar pil setan itu. Sebagai suatu sistem, kapitalisme memang membuai dengan janji-janji tentang kemakmuran yang dapat diraih melalui percepatan pertumbuhan ekonomi. Tapi, kenyataannya telah menimbulkan dampak yang mempercepat bumi menuju kiamat." Inilah komentar pembaca Suar yang disampaikan ke redaksi melalui surat elektronik.

Masyarakat dunia, lanjut dia, kini tunggang langgang menghadapi ancaman pemanasan global, apalagi gejala perubahan iklim sudah sering melanda berbagai belahan dunia. Tapi, lihat saja sikap para kapitalis, tetap saja tidak acuh terhadap keprihatinan global. Dalam pertemuan KTT G-8 di Toyako, Hokkaido, Jepang, beberapa bulan silam, misalnya, perdebatan paling alot terjadi dalam isu perubahan iklim. Negara-negara G-8, terutama AS, menyatakan tidak bisa mencapai target pengurangan emisi 50 persen tahun 2050 jika negara berkembang yang ekonominya sedang tumbuh pesat tidak melakukan hal yang sama.

Sementara di dalam negeri, para kapitalis dari waktu ke waktu semakin membuai masyarakat yang sudah terjebak dalam pola hidup yang konsumtif. Bagi kalangan kapitalis, pertumbuhan konsumsi masyarakat memang yang menjadi tujuan. Sebab pertumbuhan konsumsi merupakan mesin penggerak penghimpunan laba, dan menurut mereka dari situ pula akan menetes butir-butir kemakmuran.

Sedangkan ancaman bencana akibat kerusakan lingkungan, bagi mereka itu soal lain, apalagi bila hal itu menuntut biaya ekstra. Belakangan, pemerintah menggalakkan kampanye penanggulangan dampak pemanasan global, antara lain melalui pengurangan emisi gas buang kendaraan bermotor dan pabrik. Tapi, upaya tersebut tampak mustahil membuahkan hasil. Sebab bertolak belakang dengan kepentingan kapitalis yang hanya berpikir bagaimana mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya.

Bagi kapitalis, pabrik dan kendaraan harus terus menerus mengepulkan asap, soal pencemaran CO2 itu bukan masalah. Produksi harus digenjot terus sebanyak-banyaknya sesuai dengan permintaan pasar. Para agen pemasaran tentu juga ingin menjual sebanyak-banyaknya agar omzet pendapatannya meningkat. Sementara masyarakat yang sudah sangat konsumtif tentu terus bermimpi memiliki kendaraan pribadi, bila perlu sebanyak-banyaknya demi gengsi dimata masyarakat.

Bagi kapitalis, pemanasan udara dan perubahan iklim juga dimaknai sebagai peluang pasar. Sebab dengan itu, mereka dapat mendorong masyarakat membeli mesin pendingin udara sebanyak-banyaknya. Para isteri tentu bisa merengek-rengek pada suami supaya membelikan kulkas dan berbagai peralatan rumah tangga, tanpa mempartimbangkan faktor energi yang diperlukan untuk itu. Suami yang sayang isteri tentu tidak enak menolak permintaan itu, meski terpaksa harus putar otak, bila perlu korupsi uang negara.

Pada level atas, para kapitalis juga tak segan-segan menyiksa orang banyak melalui permainan harga barang kebutuhan pokok, terutama bahan bakar minyak. Dengan kekuatan modal yang dimiliki, melalui bursa mereka mengendalikan proses permintaan penawaran yang jadi kunci utama pergerakan harga minyak. Semakin besar permintaan maka akan semakin mudah pasar dimainkan, dan masyarakat dibuat kalang kabut karena kelangkaan pasokan. Dengan itu, mereka bisa sesuka hati menentukan harga.

Jejaring kapitalis yang merusak bumi sudah sangat menggurita, karena itu, kata dia, untuk menghadapinya tidak cukup,dengan gerakan penyelamatan lingkungan yang sporadis, parsial dan fragmentaris. Tapi mesti dengan suatu jejaring yang kuat, melibatkan semua elemen, efektif bergerak disemua lini, memiliki jangkauan yang mendunia, dan terus menerus sepanjang masa,  Paulus Londo

Sumber:
Koran Akar Rumput
6 – 12 Oktober 2008
Hal: 8