KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Peninggian dan pelebaran jalan Tol Sedyatmo dalam waktu dekat akan dikebut, untuk agar akses lalulintas ke bandara Soekarno-Hatta (Soetha) tidak terganggu banjir pada musim hujan mendatang. Langkah ini perlu dilakukan, sebab itulah satu-satunya cara untuk mengatasi gangguan banjir yang sudah rutin terjadi setiap musim hujan.

Tapi proyek yang diharapkan dapat menyelamatkan citra Indonesia di mata duniajustru disorot tajam oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pro lingkungan hidup. Setidaknya terdapat enam LSM merasa prihatin atas pelaksanaan proyek ini.

Keprihatinan enam LSM yakni Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, Environmental Task Force, Indonesia Center for Environmental Law (ICEL), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) dan Koalisi Rakyat Perikanan dan Kelautan (Kiara), karena pengerjaan proyek tersebut menyebabkan penebangan belasan hektar hutan bakau, yang amat vital bagi kelestarian ekosistem kawasan ini.

Bagi LSM yang pro lingkungan hidup, penebangan hutan bakau di kawasan ini,jelas-jelas merusak ekosistem lahan basah (Wetland) hutan mangrove. Ini bakal berdampak serius bagi lingkungan sekitarnya. Menurut Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Selamet Daroyani, akibat penebangan belasan hektar hutan bakau, maka kehidupan masyarakat di kapuk Muara, Muara Angke, Penjaringan, Tegal Alur dan Kamal Muara bisa hancur. Karena itu, LSM pro lingkungan mendesak agar proyek peninggian dan pelebaran jalan tol dihentikan. Mereka juga mempertanyakan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) dari proyek in.

Gagasan peninggian badan jalan tol Sedyatmo sebagai upaya mengatasi genangan air di ruas jalan mengatasi genangan air di ruas jalan tersebut, sebenarnya sudah pernah dikemukakan oleh beberapa pihak di awal dasawarsa 1990-an, ketika untuk pertama kali jalan tol ini digenangi banjir. Namun, gagasan tersebut ditolak oleh beberapa kalangan, karena selain tidak menjamin seratus persen jalan tol tidak akan tergenang air, juga bisa menimbulkan genangan air yang lebih luas di kawasan sekitarnya.

Menurut seorang sumber di Departemen Pekerjaan Umum, satu-satunya cara yang bisa menjamin jalan tol bebas dari genangan air adalah dengan membangun jalan layang. Bukan dengan meninggikan badan jalan, memang dapata mengatasi genangan air, namun harus disertai dengan perbaikan system drainase agar aliran air ke laut berjalan lancer. Jika tidak, badan tol yang sudah ditinggikan bakal membendung aliran air, yang pada akhirnya menggenangi kawasan sekitarnya.

Pendapat tersebut dibenarkan oleh konsultan pembangunan. Bahkan menurut dia, jikan peninggian dan pelebaran jalan tol tidak disertai dengan kajian cermat terhadapa damapaknya bagi kawasan sekitarnya, justru dapat mengancam fungsi dari bandara Soekarno-Hatta. “Jika genangan air terus terbendung hingga permukaannya melebihi ketinggian areal bandara, maka air tentu akan mengalir menggenangi areal bandara, “kata dia.

Menurut sumber di Departemen Perhubungan, berbagai kemungkinan tersebut sebenarbya sudah mereka pikirkan. “Tapi mau bagaimana lagi. Peristiwa banjir tahun lalu (2007), landasan pun sempat tergenang air. Kalau begini terus, tentu perlu membangun bandara baru di lokasilebih aman, “ucap dia.

Potensi gangguan terhadap fungsi bandara, lanjut dia, bukan hanya dari perubahan fungsi di sekitar, tapi juga oleh menjamunya bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya bandara Soekarno-Hatta. Bangunan-bangunan itu, dapat mengganggu keselamatan penerbangan, terutama saat take off dan landing.

Lantas, jika peninggian dan pelebaran jalan dapat mengganggu fungsi bandara, mengapa pihak otoritas jalan tol tetap ngotot mengerjakan proyek tersebut?

Menurut beberapa sumber, sebenarnya tujuan proyek ini tidak hanya untuk melancarkan akses jalan menuju bandara, tapi juga ke kawasan perumahan mewah yang kini terus menjamur di kawasan ini. “Kalau hanya untuk bandara, kenapa tidak membangun jalan layang, atau jalur kereta api saja. Artinya, tak menutup kemungkinan
ada aroma bisinis dibalik ini. “kata dia.
Paulus Londo

Sumber :

Media cetak, Koran Suara Akar Rumput
Edisi 27 Oktober- 02 Nopember 2008, hal 8