KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

POPULARITAS Sungai Siak yang membelah Riau daratan semakin populer saja. Apalagi dalam kurun waktu sekitar setahun belakang. Pemicunya adalah Pemerintah Kabupaten Siak yang baru berumur jelang lima tahun, mKangun jembatan di atas sungai terpanjang di Riau itu.

Bukan jembatannya yang menjadi persoalan, tapi ketinggiannya. Dengan ketinggian 23 meter di atas pasang tertinggi, jembatan tersebut menarik perhatian banyak pihak, dari daerah sampai orang-orang di Jakarta sana. Dari rakyat bisa sampai sejumlah menteri di Kabinet Indonesia Bersatu. Dengan tinggi 23 meter itu, ada pihakpihak yang merasa dirugikan tentu berkaitan dengan bisnis.

Namun terlepas dari kontroversi tarik ulur kepentingan di atas, Sungai Siak memang sudah sangat menderita. Dan alasan ini pula yang diusung oleh Pemkab Siak untuk hanya membangun jembatan setinggi 23 meter. Dengan demikian tidak semua ukuran kapal yang leluasa melintasi batang air yang dalam tersebut. Sehingga hempasan air yang berpuluh tahun menggerogoti tanah di pinggiran sungai (proses abrasi) bisa diminimalisir.

Bisa dimaklumi, saban hari, Sungai Siak menjadi aluran pelayaran yang ramai untuk angkutan barang maupun orang. Kapal yang melintasinya juga berukuran besar yang menyuplai keperluan maupun mengeluarkan berbagai produk dari banyak perusahaan di sepanjang sungai. Sehingga pergerakan kapal-kapal menimbulkan gelombang lumayan deras dan menggerus tanah bibir sungai.

Sesepuh lingkungan Indonesia, Prof Dr Emil Salim, juga tertarik ke pusaran Sungai Siak. Emil Salim berpendapat perlu segera dilakukan konservasi terhadap
Sungai Siak sehingga fisik sungai dan biota yang ada dapat diselamatkan. Untuk itu, pemerintah kabupaten dan provinsi harus membuat aturan tentang tata ruang Sungai Siak, karena saat ini belum ada tata ruangnya sebagai daerah konservasi.
Cucu pahlawan Agus Salim itu juga mendukung usaha Pemkab Siak untuk membangun jembatan dengan ketinggian tertentu sebagai usaha untuk melestarikan Sungai Siak. Persoalannya sekarang, mengapa ketika Pemkab Siak ingin membangun jembatan dengan ketinggian tertentu itu mendapat halangan dari sejumlah pihak, tentunya harus dicarikan solusi terbaik.

Menteri Lingkungan Hidup RI Rahmad Witoelar juga menyempatkan diri melihat Sungai Siak di Desa Okura Raso Sakti, Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru. Malah sempat berkomentar dengan nada kaget karena abrasi sungai yang sudah menelan lebih kurang 20-30 meter daratan.

“Wah, kalau seperti ini kondisinya, memang sudah terjadi abrasi yang sangat berat,” gumannya sambil mengamati tepian sungai yang runtuh hingga nyaris ke rumah penduduk.

Kondisi banyak sungai di negeri memang tidak lagi baik. Selain karena hantaman alami juga karena ulah manusianya. “Sungai mana di Sumatera ini yang kualitasnya tidak mengalami penurunan. Semuanya mengalami penurunan kualitas baik fisik maupun airnya,” tegas Drs Nursiwan Taqim MSi, Asisten Deputi Meneg LH Wilayah Sumatera. Kerusakan kualitas tersebut bisa karena masuknya berbagai jenis limbah ke perairan ataupun sebab alami seperti abrasi, sedimentasi dan ulah perusakan fisiknya oleh manusia:
Diakui oleh Nursiwan, di Sumatera sering terjadi pencemaran terhadap sungai-sungainya. Namun jika itu terjadi semua disibukkan dengan urusan mencari siapa yang berwenang. Di samping itu, di mata Nursiwan, banyakkebijakan yang dilakukan birokrasi bersifat reaktif alias baru ditangani jika telah terjadi pencemaran atau perusakan terhadap lingkungan.

“Mestinya kita kan bersikap preventif bukan reaktif. Kalau kita bicara soal pengelolaan lingkungan selama ini dianggap menghalangi pembangunan. Kita bukan menghalangi tapi untuk pembangunan yang keberlanjutan. Pembangunan itu bertujuan menyejahterakan masyarakat. Maka enaknya punya pemimpin yang berwawasan lingkungan,” ungkap Nursiwan.

Selain faktor pemimpin, lanjutnya, juga diperlukan membangun data lingkungan. Misalnya berapa banyak industri di sebuah daerah dengan data ditelnya. Dari berapa jumlah dan bahan apa saja yang dipakai untuk sebuah produksi inaka dari situ bisa dihitung berapa kadar limbah dan seberapa besar kapasitas fasilitas pengolahan limbah sebuah industri itu bekerja. Dari situ nanti bisa dicari tahu berapa banyak kadar limbahnya masuk ke parairan.

Dibenarkan Nursiwan, semua itu perlu biaya tinggi dan kesediaan perusahaan. Tapi akan lebih parah lagi jika pengelolaan lingkungan tidak dilakukan sejak sekarang.

Penanganan akan dampaknya akan lebih mahal dan rumit lagi. Belum lagi waktu pemulihan lingkungan yang memerlukan waktu lama.

Selain itu, diperlukan pula keterpaduan semua pihak baik lintas sektoral maupun lintas batas administratif birokrasi. Dengan kata lain, pencemaran sungai misalnya, tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu daerah karena sungai juga melintasi banyak kotalkabupatan. Pencemaran dan Ikan Di Dustin Rasau Sati Kelurahan Okura Rumbai Pesisir, abrasi Sungai Siak luar biasa dahsyatnya. Menurut keterangan warga setempat, Idris (55), abrasi yang terjadi di tempatnya mencapai 30 meter. “Dulu rumah saya berjarak 30 meter dari sungai. Sekarang tinggal segini saja,” ujarnya sambil menunjuk.

Jarak rumah Idris dengan bibir sungai hanyalah tinggal 1,5 meter. Menurut Idris, penyebab runtuhnya dinding sungai dan terjadinya abrasi di tempat ini adalah karena banyaknya spead boat dengan kecepatan tinggi yang melintas di tempat ini. Biasanya membawa penumpang, bukan karena kapal besar.

“Mau pindah tak mungkin karena di sini tempat saya. Biar sajalah saya di sini,” ujar Idris yang rumahnya tinggal sedikit lagi akan runtuh jika abrasi terns meluas.

Warga lainnya, Zulbaidi juga cemas dengan persoalan lain yakni pencemaran di Sungai Siak yang juga membahayakan. Dia menyebut saat ini sudah sulit mencari ikan karena adanya pencemaran.

Terkait musnah ikan-ikan, Direktur Rona Lingkungan Hidup Unri, T Ariful Amry mengatakan bahwa banyak sekali ikan yang sudah punah di Sungai Siak. Dia menyebutkan, dari penelitian pihaknya, tahun 1960 terdapat sebanyak 120 spesies ikan di Sungai Siak. Pada tahun 1983, ternyata hanya tinggal 103 spesies ikan. Penelitian terakhir pada 8 Juli 2004 lalu, ternyata hanya ada sebanyak 20 jenis ikan saja di Sungai Siak. “Sudah banyak ikan langka yang punah,” ujarnya.

Di antara ikan langka yang punah adalah udang loreng, udang galah, patin kunyit, kelabau, tapah dan ikan tilan. Menurutnya pencemaran sangat parah dari hulu hingga muara sungai ini. Di hulu terjadi pencemaran oleh limbah pabrik kelapa sawit (PKS). Di tengah terdapat pencemaran oleh limbah manusia. Terdapat
1.078.000 jiwa penduduk di Pekanbaru dan empat kabupaten lain yang membuang limbahnya di sungai Siak ini. Terakhir di muara ada pencemaran oleh pabrik dan industri lainnya baik pulp atau sejenisnya.(berbagai sumber)

Dikutip dari:
Majalah Suara Bumi
Asdep MenLH Urusan Wilayah Sumatera
Telp: (0761) 62962
e-mail:: suarabumi_sumatera@menlh.go.id