KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

OLYMPUS DIGITAL CAMERAInternational Knowledge Sharing on Best Practices in Contaminated Site Remediation

Jakarta, 30 September 2014 – Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Drs. Rasio Ridho Sani, MPM, M.Com, menyatakan, “Persoalan lingkungan tidak dapat ditanggulangi hanya oleh satu institusi tunggal saja. Perlu kolaborasi dengan semua pihak dalam memecahkan persoalan lingkungan  terkait pemulihan lahan terkontaminasi. Oleh sebab itu, Kementerian Lingkungan Hidup pada kesempatan ini menjalin kemitraan dengan berbagai negara yang berbentuk resource sharing  mencarikan cara terbaik menanggulagi lahan terkontaminasi.” Hal ini disampaikan dalam WorkshopInternational Knowledge Sharing on Best Practices in Contaminated Site Remediation” yang merupakan tindaklanjut kerjasama KLH dengan United States Environmental Protection Agency (US EPA).

Pada acara ini, hadir sebagai narasumber perwakilan KLH, pakar dari US EPA dan EPA Taiwan yang dihadiri pula pakar dari Denmark, perwakilan pemerintah daerah. Para narasumber berkesempatan  melakukan site visit lahan terkontaminasi di Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara dan Tegal, Provinsi Jawa Tengah. “Amerika dan Taiwan memiliki pengalaman dalam menanggulangi masalah lingkungan seperti yang terjadi di indonesia baik akibat pencemaran industri kecil, tambang atau kegiatan lainnya. Pertemuan ini merupakan awal dari upaya bersama mengatasi masalah pemulihan lahan terkontaminasi.” lanjut Rasio Sani.

Tujuan site visit  dan workshop ini untuk mengembangkan wawasan dan meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan terkait pemulihan lahan terkontaminasi di Indonesia. Materi yang dibahas (i) Pengembangan sistem dan kebijakan yang paling sesuai untuk Indonesia, (ii) Pembaruan informasi, pengetahuan teknik dan teknologi baru pemulihan lahan terkontaminasi, metode identifikasi dan survei yang efektif, metode penentuan batas lahan terkontaminasi (delineasi), ambang batas nasional kualitas tanah hasil pemulihan (target threshold value).

Para pakar dari US EPA dan Taiwan EPA berkesempatan berbagi pengetahuan dan masukan/ pandangan internasional mengenai berbagai metode pemulihan lahan terkontaminasi, khususnya pada lokasi dengan luasan yang kecil dan lahan terkontaminasi yang telah ditinggalkan dan tidak jelas penanggung jawabnya.

Jika hasil temuan di Tarakan, perlunya menutup lahan terbuka terkontaminasi minyak di daerah hunian yang membahayakan keselamatan masyarakat, maka temuan di Tegal yang terkontaminasi logam berat disarankan antara lain untuk segera melokalisir areal produksi peleburan aki bekas skala kecil dan bekerjasama dengan instansi kesehatan untuk meminimalkan dampak kepada masyarakat. Para narasumber juga menggali dan membahas praktek terbaik dan kisah sukses pemulihan lahan terkontaminasi di dunia sebagai input perbaikan bagi sistem kegiatan pemulihan lahan terkontaminasi di Indonesia.

Informasi Lebih Lanjut:

Deputi KLH Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun,
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan Sampah
Tlp/Fax: (021) 85905637,