KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Selasa, 13 Februari 2007. Manado, Kompas – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menolak pengoperasian perusahaan pertambangan emas PT Meares Soputan Mining di Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulut. Limbah tambang emas senilai 140 juta dollar AS itu dinilai mengancam lingkungan.

Gubernur Sulut SH Sarundajang di Manado, Senin (12/2), mengatakan telah mengirim surat ke Kementerian Negara Lingkungan Hidup, isinya menolak analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang dikeluarkan pejabat di Jakarta.

Gubernur memiliki kewenangan menolak pengoperasian PT Meares Soputan Mining (MSM) karena limbah akan dibuang di daratan.

Terkelin Purba dari Bagian Humas PT MSM enggan menanggapi pernyataan Sarundajang karena hal itu urusan internal pemprov dan pemerintah pusat. Hingga tahun 2006 PT MSM telah merealisasikan dana 80 juta dollar AS untuk pembangunan infrastruktur jalan dan kantor pabrik pengolahan emas. PT MSM mempekerjakan sekitar 500 tenaga kerja lokal. Tahun 2007 mereka akan mengeluarkan 60 juta dollar AS.

Pemprov Sulut mengatakan, pembuangan limbah tambang emas sangat berbahaya bagi lingkungan hidup di sekitar wilayah Bitung, Minahasa Utara, dan Manado karena wilayah Sulut berbentuk semenanjung.

Dicemooh DPR

Alasan lain, ujar Sarundajang, adalah wilayah di sepanjang pantai Likupang ke Bitung merupakan taman nasional laut, salah satunya laut dengan taman nasional, bahkan salah satu wilayah lautnya merupakan warisan kekayaan dunia yang mesti dilestarikan. Tidak jauh dari lokasi penambangan terdapat Cagar Alam Tangkoko, tempat tinggal monyet terkecil di dunia, Tarcius spectrum.

"Kami tidak antiinvestor asing, namun rakyat membutuhkan investasi yang ramah lingkungan. Sulut berbentuk peninsula (ramping) dan tidak memiliki lahan besar untuk kegiatan investasi emas," kata Gubernur.

"Keputusan ini tidak populer karena menolak investasi, tetapi apa boleh buat. Akan sangat berdosa bagi saya sebagai gubernur melihat rakyat menderita di kemudian hari," katanya tegas. Penolakan itu dinyatakan dalam pertemuan dengan Komisi VII DPR pekan lalu. Ia dicemooh karena menolak investasi.

Sarundajang mengatakan telah mengkaji aspek pengoperasian tambang emas PT MSM yang didanai investor Australia. Pembuangan limbah akan merusak Cagar Alam Tangkoko, laut Likupang, dan warisan dunia kekayaan laut di perairan Bitung (World Heritage Marine Site).

Tsunami dari gunung

Direktur Eksekutif Aliansi Masyarakat Menolak Limbah Tambang Sulut Didi Koleangan menyambut gembira keputusan itu. Menurut dia, penerbitan amdal oleh pihak Kementerian Negara LH merupakan skandal besar.

"Bagaimana caranya pihak KLH bisa merekomendasi pembuangan limbah di kepala (di atas gunung) dengan kapasitas dam 10 juta metrik ton," katanya.

"Apabila dam bocor atau rusak karena gempa, akan muncul tsunami dari gunung. Amdal PT MSM merupakan skandal," lanjut Didi. Menurut dia, jika PT MSM beroperasi dengan model pembuangan limbah di atas gunung, 48 perusahaan pariwisata di Sulut siap gulung tikar karena lingkungan akan rusak. (zal)