KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

PEMBALAKAN LIAR
Operasi Hutan Lestari yang digalakkan pemerintah tahun ini, ternyata belum mampu menghapus praktik penjarahan hutan Indonesia, Sebagaimana kekhawatirkan banyak pihak, para pembalak liar itu masih tetap merajalela dan bergentangan membabat hutan secara tak bertanggung jawab. Salah satu korbannya adalah hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bahkan, saat ini para pembalak liar lebih lihai dengan beralasan kayu-kayu yang mereka ambil untuk kepentingan pembangunan kembali Serambi Mekkah yang luluh lanak akibat tsunami akhir tahun lalu……..BACA SELENGKAPNYA, SUARA PEMBARUAN, SELASA 25 OKTOBER 2005, HAL. 11 BERITA TERKAIT: PEMBALAKAN LIAR DI LEUSER BERBUAH BANJIR BANDANG, SUARA PEMBARUAN, SELASA 25 OKTOBER 2005, HAL. 11; PULUHAN POHON DITUMBANGKAN SETIAP HARI, SUARA PEMBARUAN, SELASA 25 OKTOBER 2005, HAL. 11; WALHI PASTIKAN BANJIR BANDANG DI ACEH AKIBAT PEMBALAKAN LIAR, SUARA PEMBARUAN, SELASA 25 OKTOBER 2005, HAL. 14; PENYELUNDUPAN KAYU DI KALBAR MARAK, SUARA PEMBARUAN, SELASA 25 OKTOBER 2005, HAL. 14

DEBIT AIR IRIGASI BATANGHARI TERUS MEROSOT

Megaproyek irigasi Batanghari yang bernilai Rp 1,3 triliun di Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, terancam tak mencapai sasaran yang diharapkan. Ini karena debit air Sungai Batanghari terus merosot, sedangkan pencetakan sawah baru yang direncanakan belum juga dimulai. Bahkan 40 persen dari 11.000 hektar lahan yang dicadangkan untuk pencetakan sawah baru sudah beralih fungsi menjadi kebun sawit dan kebun karet. Hal itu diungkapkan Bupati Dharmasraya MArlon di Singgalang, Padang, Selasa (25/10)………….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 23 OKTOBER 2005, HAL. 23

WAKIL GUBERNUR TEMUKAN RAKIT KAYU TEBANGAN LIAR, HUTAN RIAU DALAM KONDISI KRITIS

Pembalakan hutan secara liar masih marak terjadi di Riau. Hingga kini penanggulangan penebangan liar hanya merupakan lip service, tanpa penindakan hukum yang tegas. Hutan Riau kini dalam kondisi kritis. Pemerintah pusat hingga tingkat II harus serius memerhatikan kondisi ini. Itu diungkapkan oleh Wakil Gubernur Riau Wan Abu Bakar setelah melakukan inspeksi mendadak ke kawasan Sungai Gaung. Dusun Teluk Kabung. Desa Muara Sabak, Kbupaten Indragiri Hilir, Senin (24/10)………….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 26 OKTOBER 2005, HAL. 24

LUMBA-LUMBA MAKIN MARAK DIBURU DI TELUK KILUAN

Perburuan dua jenis lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) dan lumba-lumba paruh panjang (Stenella longirostris), marak terjadi di teluk Kiluan, Kecamatan Kelumbayan, Tanggamus, Lampung, sejak empat tahun terkahir. Menurut sejumlah warga Kelumbuyan yang ditemui Kompas, Minggu dan Senin (24/10), pemburuan lumba-lumba memanfaatkan sifat jinak yang melekat pada hewan itu. Lumba-lumba senang sekali mengikuti kapal atau perahu serta sering kali berenang dan meloncat mengikuti kapal. Saat itulah pemburu lumba-lumba menusukkan tombak ke tubuh hewan itu. “Para pemburu lalu memotong-motongnya dan mengumpakannya pada hiu. Mereka memasang 300-400 pancing berumpan daging lumba-lumba di sekitar kapal mereka dengan harapan hiu mendekat. Sirip hiu itulah yang lalu dijual mahal,” kata Amin, ketua RT di Kelurahan BAndung Yjaya, Kecamatan Kelumbayan……….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 26 OKTOBER 2005, HAL. 24

BUPATI TANAH LAUT TERBITKAN 26 IZIN FIKTIF

Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Selatan (Kalsel) menemukan 26 surat izin kuasa pertambangan (KP) fiktif dari 64 KP batu bara yang diterbitkan Bupati Tanah Laut Ardiansyah. Kepala Bidang Humas Polda KAasel Ajun Komisasris Besar (AKB) Puguh Raharjo, kemarin, menegaskan temuan KP fiktif tersebut semakin mempermudah polisai untuk membongkar keterlibatan berbagai pihak dalam prktik penambangan ilegal di Tanah Laut. “Kepolisian terus mengembangkan kasus dugaan keterlibatan bupati, salah satunya bupati Tanah Laut Adriansyah,” kata Puguh, kemarin….BACA SELENGKAPNYA, MEDIA INDONESIA, RABU 26 0KTOBER 2005, HAL. 9

KUTACANE KEMBALI DILANDA BANJIR

Banjir kembali melanda Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Nanggroe Aceh Drussalam (NAD) Senin (24/10). Luapan air setinggi 30 sentimeter (cm) hingga 50 cm menggenangi tiga desa di Kecamatan Badar, sekitar 20 kilometer (Km) dari lokasi banjir bandang Semalam ke arah blang Kejeren. Tidak ada korban jiwa pada peristiwa itu…….BACA SELENGKAPANYA, MEDIA INDONESIA, RABU 26 OKTOBER 2005, HAL. 9

Sumber :
KBUA Perpustakaan “Emil Salim”
Kementerian Negara Lingkumgan Hidup