CAGAR ALAM PARARAWEN DIAWASI

BALAI Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kali­mantan Tengah (Kalteng) memperketat pengawasan Cagar Alam Pararawen di Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara. Hal itu dilakukan karena adanya laporan yang menye­butkan terdapat beberapa unit alai berat milik perusahaan batu bara yang diduga me­masuki kawasan cagar alam seluas 5.855 hektare (ha).   “Memang di dalam kawasan itu dulunya [...]

22 Mar 2010 04:13 WIB

BALAI Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kali­mantan Tengah (Kalteng) memperketat pengawasan Cagar Alam Pararawen di Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara.

Hal itu dilakukan karena adanya laporan yang menye­butkan terdapat beberapa unit alai berat milik perusahaan batu bara yang diduga me­masuki kawasan cagar alam seluas 5.855 hektare (ha).

 

“Memang di dalam kawasan itu dulunya ada bekas jalan, tetapi sudah lama tidak dipergunakan dan mungkin ini akan di pakai oleh perusahaan pertambangan tersebut. Kalau nantinya laporan itu benar, kita tidak izinkan mereka melewati kawasan tersebut,” ujar Kepala BKSDA Kalteng Mega Har­yato di Palangkaraya, Sabtu (20/3).

 

 

Mega mengaku pihaknya belum mengetahui nama pe­rusahaan tambang yang melin­tasi cagar alam tersebut karena masih menunggu laporan tim yang melakukan investigasi di lapangan.

Menurut Mega, cagar alam itu merupakan hutan hujan tropis dan masih merupakan ekosistem dataran rendah. Cagar alam itu menjadi daerah resapan air dan masyarakat sekitar memanfaatkan air di kawasan itu untuk kebutuhan sehari-hari.

“Saat ini kami tengah menunggu laporan tim kami yang sudah berada di lapangan dan bila memang nantinya ter­bukti ada alat berat perusahaan yang memasuki kawasan, kami tidak akan mengizinkannya.”

Dari Bengkulu dilaporkan, sekitar 15 ha dari 500 ha hutan yang berada dalam kawasan Cagar Alam Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) dalam kon­disi kritis akibat perambahan pada 2009.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu Khairil Burhan mengatakan kawasan tersebut terus mengalami keru­sakan akibat kurangnya penga­wasan pihak terkait.

“Sebanyak 15 ha hutan yang berada dalam kawasan itu te­lah mengalami kerusakan dan kritis sehingga harus dilakukan upaya penghijauan kembali,” katanya. (SS/MY/N-1). Senin, 22 Maret 2010 Media Indonesia

 

Kerjasama

  • Luar Negeri
  • Dalam Negeri
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor