KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA




Cara alternatif untuk merecovery mercury dan rsen dari limbah padat/ tailing<br /> (Mencermati gonjang ganjing kasus Buyat)


Merujuk gonjang ganjing kasus Buyat.
Dugaan
terjadinya pencemaran logam berat di perairan pantai Buyat karena pembuangan
limbah padat (tailing) seharusnya tidak akan terjadi, seandainya limbah tersebut
sebelum dibuang dilakukan pengolahan lebih dulu. Pengolahan limbah bertujuan
untuk mengurangi hingga kadarnya seminimal mungkin bahkan jika mungkin menghilangkan
sama sekali bahan-bahan beracun yang terdapat dalam limbah sebelum limbah
tersebut dibuang. Walaupun peraturan dan tatacara pembuangan limbah beracun
telah diatur oleh Pemerintah dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup, tetapi
dalam prakteknya dilapangan, masih banyak ditemukan terjadinya pencemaran
akibat limbah industri. Mungkin terbatasnya tenaga pengawas disamping proses
pengolahan limbah biasanya memerlukan biaya yang cukup besar.Logam berat adalah
logam yang massa atom relatifnya besar, kelompok logam-logam ini mempunyai
peranan yang sangat penting dibidang industri misalnya : Kadmium Cd digunakan
untuk bahan batery yang dapat diisi ulang. Kromium Cr untuk pemberi warna
cemerlang/ verkrom pada perkakas dari logam. Kobalt Co untuk bahan magnet
yang kuat pada loudspeker atau microphone. Tembaga Cu untuk
kawat listrik.
Nikel Ni untuk bahan baja tahan karat/ stainless steel.
Timbal Pb untuk bahan batery/ Accu pada mobil.  Seng Zn untuk pelapis kaleng.
Mercury Hg dapat melarutkan emas sehingga banyak digunakan untuk memisahkan
emas dari campurannya dengan tanah,  bahan pengisi termometer dan dan masih
banyak lagi kegunaan logam berat yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya
disini. Hanya sangat disayangkan disamping begitu banyak kegunaannya, kelompok
logam-logam berat ini sangat beracun misalnya Hg, Pb Cd dan Cr dan lain-lain.
Ditambah lagi sifatnya yang akumulatif di dalam tubuh manusia, dimana setelah
logam berat ini masuk ke dalam tubuh manusia, biasanya melalui makanan yang
tercemar logam berat. Logam berat ini tidak dapat dikeluarkan lagi oleh tubuh
sehingga makin lama jumlahnya akan semakin meningkat. Jika jumlahnya telah
cukup besar baru pengaruh negatifnya terhadap kesehatan mulai terlihat, biasanya
logam-logam berat ini menumpuk di otak, syaraf, jantung, hati, ginjal yang
dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan yang ditempatinya.

Tersebarnya logam berat di tanah, peraian ataupun udara dapat melalui berbagai
hal misalnya : Pembuangan secara langsung limbah industri, baik limbah padat
maupun limbah cair, tetapi dapat pula melalui udara karena banyak industri
yang membakar begitu saja limbahnya dan membuang hasil pembakaran ke udara
tanpa melalui pengolahan lebih dulu. Banyak orang beranggapan bahwa dengan
cara membakar maka limbah beracun tersebut akan hilang, padahal sebenarnya
kita hanya memindahkan dan menyebarkan limbah beracun tersebut keudara.
Pencemaran dengan cara ini lebih berbahaya karena udara lebih dinamis sehingga
dampak yang diakibatkannya juga akan lebih luas dan membersihkan udara jauh
lebih sulit (Gambar: 1).

height=266
src="/buyat/image001.jpg">

Gambar :1. Daur pencemaran mercury.

Dalam kasus Buyat, logam berat mercury kemungkinan dapat
berasal dari limbah proses pemisahan biji emas atau dari tanah bahan tambangnya
sendiri memang mengandung mercury. Banyak alternatif yang dapat digunakan
untuk mengolah limbah yang mengandung logam berat kususnya mercury diantaranya
ialah dengan teknologi  Low TemperatureThermal Desorption (LTTD) atau
dengan teknologi Phytoremediation.

style='color:black'>Pada sistem thermal desorption material  diuraikan
pada suhu rendah (< 300 oC) dengan pemanasan tidak langsung
serta kondisi tekanan udara yang rendah (vakum). Dengan kondisi tersebut material
akan lebih mudah diuapkan dibandingkan dalam tekanan tinggi. style='color:black'>Jadi dalam sistem ini yang terjadi adalah proses fisika tidak
ada reaksi kimia seperti misalnya reaksi oksidasi. Cara ini sangat efektif
untuk memisahkan bahan-bahan organik yang mudah menguap misalnya,
lang=FI>(volatile organic compounds/VOCs), semi-volatile organic
compounds (SVOCs), (poly aromatic hydrocarbon/PAHs),
(poly chlorinated biphenyl/PCBs),
minyak, pestisida
dan beberapa logam Cadmium, Mercury Timbal serta non logam misal Arsen, Sulfur,
Chlor dan lain-lain. Material yang telah terpisah dalam bentuk uapnya akan
lebih mudah untuk dikumpulkan kembali dengan cara dikondensasikan, diadsorbsi
menggunakan filter, larutan atau media lain sehingga tidak tersebar kemana-mana.
Dengan sistem
lang=FI style='color:black'>thermal desorption material
yang berbahaya di pisahkan agar lebih mudah untuk ditangani entah akan dibuang
atau dimanfaatkan kembali, sedangkan bahan-bahan organik yang sukar menguap
akan terkarbonisasi menjadi arang (Gambar 2).

width=575 height=214
src="/buyat/image002.jpg">

Gambar 2 : Gambar prinsip Low TemperatureThermal Desorption
(LTTD)

lang=FI>Limbah padat yang mengandung polutan mercury dan arsen dimasukkan ke dalam
sistem LTTD, limbah akan mengalami pemanasan tidak langsung dengan kondisi
tekanan udara lebih kecil dari 1 atmosfer. Polutan mercury dan arsen akan
menguap (desorpsi), sedangkan limbah padat yang telah bersih dari polutan
dapat dibuang ke tempat penampungan. Kemudian uap polutan yang terbentuk
dialirkan ke dalam media pengabsorpsi (absorber). Untuk menangkap uap logam
mercury dapat digunakan butiran logam perak atau tembaga yang kemudian membentuk
amalgam. Sedangkan untuk menangkap ion-ion mercury dan arsen dapat digunakan
larutan hidroksida (OH- lang=FI> )  sulfida (S2 lang=FI style='font-family:Symbol'>- lang=FI>) yang akan mengendapkan ion-ion tersebut. Dalam sistem ini perlu
ditambahkan wet scrubber dan filter karbon untuk menangkap partikulat dan
gas-gas beracun yang mungkin terbentuk pada proses desorbsi. Keunggulan
sistem ini ialah prosesnya cepat dan biaya investasi peralatan dan operasionalnya
murah, unitnya dapat dibuat kecil sehingga dapat dibuat sistem yang mobil.

Teknologi mengolah limbah dengan sistem Phytoremediasi, menggunakan tanaman
sebagai alat pengolah bahan pencemar. Pada limbah padat atau cair yang akan
diolah, ditanami dengan tanaman tertentu yang dapat menyerap, mengumpulkan,
mendegradasi bahan-bahan pencemar tertentu yang terdapat di dalam limbah tersebut.
lang=FI>Banyak istilah yang diberikan pada sistem ini sesuai dengan mekanisme
yang terjadi pada prosesnya. Misalnya :

src="/buyat/image003.jpg">

Phytostabilization: polutan distabilkan di dalam tanah oleh pengaruh
tanaman. Phytostimulation: akar tanaman menstimulasi penghancuran
polutan dengan bantuan bacteri rhizosphere

height=142
src="/buyat/image004.jpg">

Phytodegradation: tanaman mendegradasi polutan dengan atau tanpa menyimpannya
di dalam daun, batang atau akarnya untuk sementara waktu. Phytoextraction lang=FI>: polutan terakumulasi dijaringan tanaman terutama daun.

src="/buyat/image005.jpg">

Phytovolatilization: polutan oleh tanaman diubah menjadi senyawa yang
mudah menguap sehingga dapat dilepaskan ke udara. Rhizofiltration: polutan
 diambil dari air oleh akar tanaman pada sistem hydroponic.

src="/buyat/image006.jpg">

Proses remediasi polutan dari dalam tanah atau air terjadi
karena jenis tanaman tertentu dapat melepaskan zat carriers yang biasanya
berupa senyawaan kelat, protein, glukosida yang berfungsi mengikat zat polutan
tertentu kemudian dikumpulkan dijaringan tanaman misalnya pada daun atau akar.
Keunggulan sistem phytoremediasi diantaranya ialah biayanya murah dan dapat
dikerjakan insitu, tetapi kekurangannya diantaranya ialah perlu waktu yang
lama dan diperlukan pupuk untuk menjaga kesuburan tanaman, akar tanaman biasanya
pendek sehingga tidak dapat menjangkau bagian tanah yang dalam. Yang perlu
diingat ialah setelah dipanen, tanaman yang kemungkinan masih mengandung polutan
beracun ini harus ditangani secara khusus.

Jakarta, 4 Agustus 2004

Sunardi
Pengamat Lingkungan
Staf Pengajar
Departemen Kimia
FMIPA-UI