KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA KLH,  30 Agustus 2006 – Pada hari ini terjadi diskusi bedah buku berjudul Objektivitas Berita lingkungan Jurnalis Berkelanjutan karangan Andi Noviriyanti. Menurutnya, isu lingkungan umumnya tidak menarik karena "serius" dan dingin. Bandingkan, misaInya, dengan berita infotainment, atau berita kriminal dan olahraga. Tak jarang, untuk mencuri perhatian, berita lingkungan dibuat dengan sensasi. Namun terkadang suka terjebak pada advokasi yang membabi buta dengan mengabaikan fakta. Begitu pula dengan pilihan narasumber dan keberimbangan.

Melalui buku berjudul Objektivitas Berita Lingkungan ‑ Jurnalistik Berkelanjutan, Andi Noviriyanti hendak memaparkan perselingkuhan. Yang dimaksud perselingkuhan ini adalah keberpihakan yang membabi buta dalam liputan lingkungan terhadap narasumber. Mungkin maksudnya baik, agar isu lingkungan mendapat perhatian. Tapi kerja jurnalistik tetap harus mengabdi kepada fakta.

Novi, panggitan penulis buku ini mengatakan bahwa awalnya merasa sedih melihat seorang perempuan yang suaminya diberitakan sebagai pelaku perambahan liar. "Itu satu kasus akibat sebuah berita lingkungan yang tidak objektif telah mengguncang seorang perempuan. Akhirnya saya mengumpulkan berbagai berita lingkungan dan memberi catatan," paparnya pada peluncuran buku tersebut di Jakarta, 30 Agustus 2006.

Menurut catatan Novi, dari berita lingkungan di berbagai media massa yang diamatinya terdapat tujuh pelanggaran objektivitas. "Tujuh pelanggaran objektivitas yang dimaksud adalah memasukkan istilah yang menyesatkan, membuat berita tidak berimbang, memasukkan opini, mengurangi informasi dan konteks, menghilangkan berita tertentu dengan maksud memanipulasi sentimen pubtik, menggunakan fakta yang benar untuk menggambarkan kesimpulan yang salah, serta distorsi fakta yaitu tidak memeriksa informasi dari sumber yang tepat," urai jurnalis di Riau itu.

Maksud penulisan buku ini, menurut Novi, merupakan bahan belajar bagi wartawan untuk membuat berita tingkungan lebih baik. Sehingga pembelaan terhadap lingkungan melalui media massa tidak mengorbankan prinsip‑prinsip dasar jurnalisme. Hal senada diungkapkan Ismi Hadad, Direktur Eksekutif Kehati. Menurutnya buku hasil penelitian pelanggaran terhadap obyektivitas berita‑berita lingkungan ini bisa membantu wartawan membuat berita yang tidak membabi‑buta dalam memperjuangkan kelestarian tingkungan.

Membuat berita lingkungan lebih berat dan membawa misi besar. "Jadi jangan sampai wartawan terjebak pada siaran pers tanpa metakukan verifikasi," imbuh Novi. Rachmat Witoelar, Menteri Negara Lingkungan Hidup mengatakan hal yang lebih penting adalah keberpihakan yang tidak membabi‑buta. "Saya sangat menghargai jurnalis yang memberitakan isu tingkungan. Namun harus tetap menjunjung tinggi nitai‑nitai objektivitas terhadap suatu pemberitaan," ucap Rahmat.**

Informasi :
Andi Noviriyanti 08126851530