KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA, – Terhadap ancaman perubahan iklim dan pemanasan global (global warming), Indonesia masuk dalam kategod "vulnerability" (sangat rentan). Demikian kesimpulan seminar sehad "Strategi Adaptasi Perubahan lklim; Mengurangi Potensi Konflik dan Bencana di Indone­sia," yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni ITB DKI Jakarta di Hotel Sultan, 22 Nopember lalu.

Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang sangat panjang, memiliki jutaan masyarakat miskin dengan ketergantungan tinggi terhadap sumber days alam untuk ketahanan pangannya, Indonesia niscaya mengalami dampak yang sangat besar baik dalam skala dan kompleksitas yang pads gilirannya sangat berpotensi menimbulkan bencana dan konflik yang membahayakan kelangsungan dan keutuhan bangsa.

Perubahan iklim dan pemanasan bumi yang sekarang terjadi di seluruh dunia, —termasuk Indonesia—, adalah sebuah gejala yang bersifatglobal dalam arti yang sesung­guhnya, dimana saja. Bagaimana sebuah masyarakat atau bangsa mengelola kadar emisi karbonnya akan mempengaruhi kualitas alam dan lingkungan diseluruh dunia.

Dampak perubahan iklim dan pemanasan bumi mengancam kehidupan umat manusia dan organisms hidup lainnya. Kita melihat kenaikan intensitas and frekuensi kejadian bencana alam, kenaikan air laut, kerusakan keanekaragaman hayati, penurunan sumber iar bersih, musim kemarau yang lebih panjang dan perubahan pola serta curah hujan, dan seterusnya.

Menghadapi hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan rencana penanggulangan dampak perubahan iklim dalam sebuah draft Rencana Aksi Nasional (RAN). RAN ini jadi acuan dasar bagi semua komponen bangsa Indonesia dalam menghadapi dan menyikapi ancaman perubahan iklim dan pemanasan global. Kendati RAN tersebut telah memiliki lingkup yang menyeluruh, termasuk di dalamnya tentang skema Clean Development Mec­hanisms (CDM), namun dari kajian yang dilakukan oleh Ikatan Alumni ITB-Jakarta, ada beberapa aspek yang dapat ditingkatkan di dalam konsep RAN tersebut antara lain:

  • Pendekatan clusterdalam mengembangkan strategi dan adaptasi dimana terdapat clusters yang pengelompokannya berdasarkan karakteristik teftentu (baik sektoral, geografis, jenis bencana akibat perubahan, iklim, dan sosial-ekonomi) beserta strategi khusus yang sesuai dengan karakteristik masing-masing cluster.
  • Memposisikan carbon-emission-reduction (CER) bukan sebagai liabilitybagi community dan dunia usaha, tetapi sebagai investasi.
  • Fokus yang lebih kuat pads urban planning and development dan tidak semata-mata tertuju pads waste manajement. Hal ini dikarenakan kota-kota dan urban area memberikan kontribusi yang semakin meningkat terhadap emisi karbon.
  • Strategi yang lebih tajam untuk mengembangkan CDM dimana program skala kecil, menengah, dan besar dikelola untuk mengoptimalkan benefit untuk pengurang kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.
  • Fokus kepada komunikasi yang down-to-earth yang secara jelas menggambarkan bagaimana sebenamya criti­cal nature dari dampak perubahan iklim dan pemanasan bumi, siapa yang akan menjadi korban, dimana, dan seterusnya.

Usulan dan Rekomendasi Strategic

Dalam kesimpulan seminar tersevut jugs diajukan beberapa usulan dan rekomendasi strategis yang diperoleh berdasarkan pengkajian atas RAN dan kertas kerja yang dihasilkan oleh Ikatan Alumni ITB-Jakarta berupa analisis makro dan mikro terhadap strategi Adaptasi lokal yang merupakan dampak dad perubahan iklim dan pemanasan global, berikut ini beberapa rekomendasi strategis yang diusulkan :

  • Inisiatif nasional dalam Knowledge Management untuk perubahan iklim dimana seluruh riset terkait, data, informasi dari multi disiplin ilmu dikelola dan dikaji secara menyeluruh untuk mengembangkan kebijakan nasional menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global.
  • Memilihara dan mengembangkan pengetahuan lokal (keadfan lokal) dan perilaku masyarakat dalam interaksinya dalam alam dan lingkungan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim dan pemanasan bumi.
  • Menetapkan skala prioritas yang jelas dengan jangka waktu terbatas serta menetapkan tolak ukur keberhasilan dan proses evaluasi yang transparan dan accountable.
  • Membentuk working groups yang memiliki fokus masing-masing namun terintegrasi yang mencakup policy framework, empowerment, dan enforcement serta riset, inovasi, kolaborasi, dan eco-entrepreneur. n style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings">n KSP-04

Sumber:
Koran Surya pagi
edisi: 29 November – 4 Desember 2007

Hal: 10