KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Empat anak mewakili peserta Konferensi Anak 2008, Kamis, 30 Oktober 2008 di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta menyerahkan Deklarasi Konferensi Anak 2008 kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup yang diwakili oleh Staf Ahli Menteri  Bidang Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan.  Deklarasi tersebut berisi usulan kepada pemerintah dalam upayanya mengantisipasi pemanasan global antara lain agar setiap keluarga menanam pohon sesuai dengan jumlah anggota keluarga, memperbanyak taman kota, membuat lebih banyak jalur hijau, di atas gedung besar dibuat taman yang sejuk, naik jemputan sekolah dan tidak naik kendaraan pribadi, dan lain-lain.

Konferensi Anak ini diselenggarakan oleh Majalah Bobo yang rutin diadakan setiap tahun sejak tahun 2001, diikuti oleh anak-anak Indonesia.  Melalui karangan cerita dengan tema yang ditetapkan oleh tim dari Majalah Bobo, anak-anak mengirimkan hasil karya tulisnya yang selanjutnya diseleksi.  Pemenang dari karya tulis menjadi Delegasi Konferensi Anak dan mengikuti karantina di Jakarta.  Selama karantina mereka memperoleh pembekalan dari nara sumber, mengikuti workshop dan menghasilkan Deklarasi Konferensi Anak.

Tema konferensi tahun 2008 ini adalah mengenai gaya hidup bersahabat dengan alam.  Tema ini dipilih mengingat bahwa pemanasan global bukan lagi sekedar isu akan tetapi telah menjadi kenyataan yang kita hadapi sekarang.  Adanya pemanasan global tentunya akan mempengaruhi cuaca dan iklim yang selanjutnya akan mempengaruhi kehidupan di bumi. Adanya masalah ini tentunya perlu upaya untuk mengantisipasinya, tidak terkecuali anak-anak.  Dalam konferensi ini anak-anak diajak mengenal seluk beluk pemanasan global dan secara khusus membahas pentingnya bergaya-hidup yang bersahabat dengan alam.

Peserta konferensi tahun ini sebanyak 36 anak diseleksi dari 1500 anak yang mengirimkan karya tulisnya.  Hasil karya tulis mereka telah dibukukan oleh Majalah Bobo dalam buku berjudul: Let’s be the Greeners.

Dalam acara penyerahan deklarasi kemarin diadakan dialog dengan anak-anak.   Dari pertanyaan yang diajukan terkesan mereka sangat antusias. Dengan gaya bahasanya, mereka menanyakan masalah lingkungan terutama di sekitar tempat tinggal mereka seperti sampah yang menggunung di Ambon, sumber air yang hilang karena penambangan pasir di Muntilan, kolam-kolam bekas penambangan timah di Pulau Bangka, mengapa penambang emas masih menggunakan merkuri dan apakah  tidak ada tindakan dari pemerintah, dll.  Dalam puncak acara ini dihadiri pula oleh pimpinan Majalah Bobo, Kompas Gramedia, PT Sari Husada, tokoh lingkungan Bang Idin, para orang tua delegasi, guru-guru dan wartawan selain serta KLH.

Sumber:
Sri Hudiastuti
PLT. DEPUTI MENLH BIDANG PEMBINAAN SARANA TEKNIS
DAN PENINGKATAN KAPASITAS
dan
STAF AHLI MENTERI BIDANG EKONOMI DAN
PENGETASAN KEMISKINAN