KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Foto: (kiri) Batuan di bawah permukaan tanah, yang dapat berfungsi sebagai bidang gelincir, sehingga mampu menyebabkan longsor, (kanan) Rumah warga yang berada tepat di bawah tebing, padahal keadaan tebing telah mengalami longsor.

 

Desa Gerdu, Kec. Karangpandan, Kab. Karanganyar, Prop. Jawa Tengah. Pemanfaatan lahan secara optimal dilakukan dengan tujuan untuk memanfaatkan lahan yang selain memberikan nilai ekonomi juga secara ekologi mampu memberikan perlindungan terhadap lahan. Salah satu bentuk optimalisai lahan dilakukan melalui sistem agroforestri. Agroforestri dapat diartikan sebagai sistem penggunaan lahan (usahatani) yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian untuk meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan.

Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2010 melakukan pengembangan demplot rehabilitasi lahan rawan longsor di Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar Propinsi Jawa Tengah.

Program rehabilitasi dan konservasi lahan di daerah yang beresiko longsor memerlukan serangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagai upaya penyadaran masyarakat dan partisipasi masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup dengan mengedepankan terpeliharanya proses ekologis yang menopang kehidupan masyarakat. Agar masyarakat didaerah yang berisiko longsor ini mampu mengelola sendiri lahannya, maka dilakukan demplot menggunakan tanaman jambon, suren dan meranti.  Bibit yang diserahkan sebanyak 4500 bibit, yang terdiri dari 2000 bibit Jabon, 1500 bibit meranti dan 1000 bibit suren.

Beberapa tanaman yang sesuai dengan kondisi wilayah pegunungan dan termasuk fast growing species, antara lain:

a. Jabon (Anthocephalus cadamba)

Karakteristik Jabon
Termasuk jenis evergreen. Di alam bebas tinggi pohon bisa mencapai 45 meter dengan diameter lebih dari 100 cm. Bentuk tajuk seperti payung, dengan sistem percabangan melingkar. Tidak berbanir, berbatang silindris, dengan tingkat kelurusan batang yang sangat bagus.

Manfaat jabon
Tanaman ini dapat ditanam sebagai tanaman ornamental maupun tanaman pelindung.

b.  Suren (Toona sureni)

Karakterisrik Suren
Pohon berukuran sedang sampai besar, dapat mencapai tinggi 40-60 m dengan tinggi bebas cabang hingga 25 m. Diameter dapat mencapai 100 cm, bahkan di pegunungan dapat mencapai hingga 300 cm. Berbanir hingga tinggi 2 m. Kulit batang terlihat pecah-pecah dan seolah tumpang tindih, berwarna coklat keputihan, pucat hingga keabu abuan, dan mengeluarkan aroma apabila dipotong. Kayunya ringan, dengan gubal merah muda dan teras coklat. 

Manfaat Suren
Sering ditanam di perkebunan teh sebagai pemecah angin. Jenis ini cocok sebagai naungan dan pohon di sepanjang tepi jalan. Kayunya bernilai tinggi dan mudah digergaji serta memiliki sifat kayu yang baik. Kayunya sering digunakan untuk lemari, mebel, interior ruangan, panel dekoratif, kerajinan tangan, alat musik, kotak cerutu, finir, peti kemas, dan konstruksi.

c.  Meranti (Shorea macrophylla)

Karakterisrik dan Persebaran Suren
Kayu meranti ini tergolong kayu keras memiliki batang lurus, berdiameter besar, tinggi, bebas cabang, minim cacat mata kayu (karena Meranti memiliki kemampuan pruning, yaitu pembebasan cabang pohon) alami secara swadaya dan mandiri. Menariknya, keberadaan pohon besar itu justru melindungi anakan Meranti (yang lemah) sehingga anakan Meranti terbantu tumbuh dengan keberadaan Meranti besar. Tidak sebaliknya, Meranti besar menindas anakan Meranti yang baru berkembang.

Manfaat Meranti
Manfaat meranti adalah sebagai dapat mengurangi dampak erosi, menyuburkan tanah dengan dekomposisi daun dan perkembangan mikoriza, meningkatkan sumber cadangan air. (Arief. S)