KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 28 Agustus 2014. Menteri Lingkungan Hidup, Prof. DR. Balthasar Kambuaya, MBA memberikan keynote speech pada acara dialog bertajuk “Dangerous Mercury” yang merupakan kerjasama Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Pemerintah Amerika Serikat. Sosialisasi ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak yang menghancurkan dari penggunaan merkuri di pertambangan emas skala kecil pada masyarakat dan lingkungan hidup di Jakarta pada tanggal 26 Agustus 2014.

Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk komitmen Indonesia setelah menandatangani Konvensi Minamata sejak satu tahun lalu. Acara yang diselenggarakan di @america, pusat kebudayaan Amerika, di Jakarta, turut hadir dan memberikan sambutan pembukaan, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert Blake. Narasumber lain yang turut hadir adalah Drs. Rasio Ridho Sani, M.Com., MPM (Deputi Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan Sampah KLH), Ir. R. Sukhyar (Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM). Kurang lebih 100 peserta hadir dalam acara ini, yang terdiri dari instansi terkait, peneliti, LSM dan siswa sekolah.

Dalam sambutan pembukaannya, Menteri Lingkungan Hidup, Prof. DR. Balthasar Kambuaya, MBA menyatakan, “Saya percaya bahwa industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, tanpa pengelolaan yang ramah lingkungan, ini dapat menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan, juga dapat membahayakan orang. Dengan kata lain, pembangunan tanpa balancing dari tiga pilar pembangunan berkelanjutan, (pertumbuhan ekonomi, perlindungan sosial, manajemen ramah lingkungan), bisa menciptakan masalah serius.

Dikaitkan dengan masalah merkuri yang begitu marak terjadi, khususnya di kegiatan pertambangan emas skala kecil yang tersebar di Indonesia sampai ke daerah terpencil, dan belajar dari tragedi Pencemaran Merkuri di Minamata, maka kini saatnya kita menaruh perhatian yang sangat serius terhadap penggunaan merkuri di Indonesia.   Karena harus disadari bahwa penyakit Minamata dapat terjadi dimana saja termasuk di Indonesia akibat kecerobohan kita. Untuk itu kita harus segera mengurangi bahkan menghapuskan penggunaan merkuri pada kegiatan industri di Indonesia, termasuk yang digunakan pada pertambangan emas skala kecil.

Berdasarkan data yang ada jumlah merkuri yang diimpor kurang dari kuota yang diberikan. Namun yang terjadi di Indonesia jumlah penggunaan merkuri khususnya di Pertambangan emas skala kecil jauh lebih tinggi yaitu ± 100 ton pertahunnya. Jika dibandingkan dengan data yang ada maka kebanyakan merkuri yang beredar  tersebut didapatkan secara ilegal.

Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan Konvensi Minamata tersebut, saat ini KLH bekerjasama dengan seluruh stakeholders terkait telah melakukan beberapa kegiatan yaitu: penyusunan Rencana Aksi Nasional tentang penghapusan merkuri di sektor Artisanal Small-scale Gold Mining (ASGM) dengan target sampai dengan tahun 2018; Penerapan teknologi non merkuri di ASGM; Mencari substitusi yang tepat pengganti merkuri di sektor manufaktur dan sektor kesehatan; Harmonisasi peraturan perundangan yang ada serta penyusunan peraturan baru; Identifikasi dan Inventarisasi peraturan dan data teknis.

Mengingat merkuri ilegal sebesar 100 ton per tahun yang digunakan di kegiatan pertambangan emas skala kecil, maka dengan telah disusunnya Rencana Aksi Nasional tentang penghapusan merkuri di sektor pertambangan emas skala kecil dengan target penghapusan pada tahun 2018, maka diperkirakan pada tahun tersebut merkuri ilegal yang masuk ke Indonesia sudah tidak terjadi lagi.

Informasi lebih lanjut:

Drs. Rasio Ridho Sani, M.Com., MPM
Deputi Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun,
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan Sampah KLH
Tlp/Fax: 021-85905637,

Tags: