KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Pelatihan Sampah Bagi  Masyarakat Permukiman Kota Palangkaraya.
eco_Pesantren_kalteng.jpgBanyak manusia berpikir bagaimana merubah dunia, tapi jarang sekali manusia berpikir bagaimana  merubah dirinya sendiri. Ini masalah perilaku. Karena itu sow a though (reap and action), sow and action (reap a habit), sow a habit  (reap a character), sow a character (reap a destiny), merupakan tahapan yang harus dilakukan.  Kerusakan lingkungan sudah sangat terkait dengan perilaku dan moral. Untuk meminimalisir degradasi ini, Pondok Pesantren menjadi tumpuan kita bersama, karena disanalah tempat menempa moral manusia. Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. H. Dedi Djubaedi, MA Direktur Pasca Sarjana STAIN Cirebon, dalam topik Lingkungan Hidup dalam Perspektif Islam yang disampaikan di depan peserta sosialisasi Program Eco-Pesantren cluster Kalimantan Tengah yang diselenggarakan pada tanggal 15 Juli 2008, di Hotel Batu Suli Palangkaraya.

Sementara Kepala BPLHD Propinsi Kalimantan Tengah yang baru saja mutasi menjadi Kepala Dinas Pertambangan, mengatakan bahwa salah satu misi yang pernah dibicarakan dengan KNLH yaitu ikut memberdayakan komunitas keagamaan, dan saya bangga karena sudah terwujud hari ini mengikutsertakan Ponpes yaitu Program Eco-Pesantren. Berkaitan dengan program ini, beliau mengharapkan :
• Peran pemerintah sebagai fasilitator dan regulator terus ditingkatkan. Sebagai fasilitator harus komit dengan cara menyiapkan anggaran dan regulasi yang mendukung program ini.
• Berhasilnya program Eco-Pesantren ini sangat ditentukan siapa pimpinan Ponpesnya. Karena itu harus ada komitmen terhadap kebersihan. Setelah ada   komitmen baru diadakan rencana aksi jangka pendek dan jangka panjang. Dari rencana aksi yang dibuat, baru dipilah mana yang bisa dilaksanakan sendiri dan mana yang perlu minta bantuan. Dan atur waktu untuk implementasi yang tepat. Kalau tidak mampu biaya sendiri, diperlukan perluasan jaringan kemitraan.

Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan KNLH, Ir. Bambang Widyantoro mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan tahun 2007 yang diadakan di gedung pramuka. Penggabungan antara kegiatan Eco-Pesantren dan pelatihan sampah bagi masyarakat permukiman ini adalah sermata-mata untuk kemudahan dan praktisnya acara. Dan pada tataran aktivitasnya maka kedua kelompok ini  dipisahkan di kelasnya masing-masing dengan nara sumbernya sendiri. Setiap kegiatan yang kami lakukan bagi masyarakat, selalu melakukan pendekatan-pendekatan, yaitu no single model, karena penerapan kebijakan di satu wilayah belum tentu diterima di wilayah lainnya. Jadi sesuai dengan kemampuan, kekuatan dan konsidi daerah setempat. Hal ini memunculkan adanya suatu lokal wisdom, yaitu suatu kearifan lokal. Dimana kebijakan yang dibuat disesuaikan dengan pengetahuan lokal masyarakat setempat.

Adapun kelas praktek pengolahan sampah diikuti 45 orang dengan komposisi PKK, Karang Taruna dan Pramuka. Tiga jenis yang dipraktekkan yaitu pemanfaatan limbah telur, limbah plastik dan kain perca untuk produk yang bernilai ekonomi tinggi. Untuk menopang aktivitas mereka telah diberikan bantuan 8 mesin jahit untuk masing-masing kelompok dan bantuan modal sebesar  Rp 10 juta per kelompok oleh Bapedalda Kota Palangkaraya.

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masayarakat Perkotaan Gedung B Lantai 5