KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

eco pesantren

eco pesantren

“Tiga ratus wakil dari 40 pondok pesantren se- Karasidenan Blitar hadir di Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal Kunir Wonodadi Kab. Blitar Jawa Timur pada kegiatan sosialisasi Ecopesantren dan bimbingan teknis pengelolaan lingkungan hidup dan dilanjutkan dengan launching Ecopesantren yang dihadiri oleh 5000 santri melalui kegiatan Gerakan Tanam dan pelihara pohon serta serta simulasi dan launching bank sampah Al-Kamal.”

Data Pondok Pesantren tahun 2011-2012 sebanyak 27.230 Pondok Pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia dengan Populasi Pondok Pesantren terbesar berada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten yang berjumlah 78,60% dari jumlah seluruh Pondok Pesantren di Indonesia. Dengan rincian Jawa Barat 7.624 (28,00%), Jawa Timur 6.003 (22,05%), Jawa Tengah 4.276 (15,70%), dan Banten 3.500 (12,85%). Dan berdasarkan tipologi Pondok Pesantren, terdapat sebanyak 14.459 (53,10%) Pondok Pesantren Salafiyah, dan 7.727 (28,38%) Khalafiyah/Ashriyah, serta 5.044 (18,52%) sebagai Pondok Pesantren Kombinasi.

Data tersebut dapat menyimpulkan bahwa pondok pesantren yang ada di Indonesia sebagian besar masih pada tipologi Salafiyah, yang pembelajarannya masih murni mengaji dan membahas kitab kuning. Sebagian lain sudah modern dengan pengembangan pembelajaran ilmu science dan sebagian lain lagi mengkombinasikan pembelajaran kitab kuning dan ilmu science dan iptek.

Potensi yang besar menjadikan pilihan bagi Kementerian Lingkungan Hidup untuk merencanakan program pengembangan Eco-Pesantren. Dimana program tersebut di canangkan pada pertemuan nasional pondok pesantren, tanggal 5 Maret 2008 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Program yang bertujuan untuk mendorong peningkatan pengetahuan, kepedulian, kesadaran dan peran serta aktif warga pondok pesantren terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup berdasarkan ajaran agama Islam.

Dalam pengembanganya pada tanggal 11-12 September 2014, hadir 40 Pondok Pesantren di Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal Kunir Wonodadi Kab. Blitar Jawa Timur guna kegiatan sosialisasi Ecopesantren dan bimbingan teknis pengelolaan lingkungan hidup dan dilanjutkan dengan launching Ecopesantren yang dihadiri oleh 5000 santri melalui kegiatan Gerakan Tanam dan pelihara pohon serta pengelolaan bank sampah.

Pada acara sosilisasi dan bimbingan teknis dihadiri oleh Asdep Peningkatan Peran Organisasi Kemasyarakatan, Kepala BLH Provinsi Jawa Timur, Kepala BLH Kab. Kediri, Penggagas bank sampah pertama di Indonesia Sdr. Bambang Sudewa, serta motivator sekaligus pengasuh yang sukses dengan program ecopesantren pada pondok pesantren SPMAA Turi Lamongan Jawa Timur, Sdr. Gus Hafid SK.

Ada banyak masalah lingkungan dipondok Pesantren, sanitasi yang kurang baik, dan sampah yang tidak terkelola dengan baik menjadi ancaman yang serius yang merusak lingkungan disekitar, hal ini ditambah lagi dengan kesadaran dan perilaku warga pondok pesantren yang kurang peduli. Hal ini diperkuat oleh hasil survey BLH Jawa Timur terhadap 11 pondok pesantren di Jawa Timur, yang memberikan gambaran bahwa pondok pesantren belum mendapatkan informasi yang cukup tentang ecopesantren tetapi mengenal ecopesantren dan mengenal isu-isu lingkungan hidup namun belum diterapkan dengan baik didalam lingkungan pondok pesantren, pengenalan tersebut hanya didapatkan melalui informasi-informasi yang terbatas, sehingga perlu intervensi pemerintah agar program dan kegiatanya dapat diterima dan diterapkan dengan baik.

Survey tersebut disambut baik oleh peserta pada forum sosialisasi dan bimbingan teknis dengan harapan agar ecopesantren dapat diimplementasi melalui “gerakan” baik melalui penguatan internalisasi isue lingkungan kedalam proses belajar mengajar maupun aksi kepedulian dan perubahan perilaku warga pondok pesantren yang didukung oleh penguatan sarana ramah lingkungan. Dalam memperkuat program tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup menggunakan 4 komponen indikator bagi pengembangan Eco-Pesantren, antara lain: Kebijakan ramah lingkungan, Pengembangan kurikulum berbasis alam, Pengembangan kurikulum berbasis Tadabur alam dan Pengembangan sarana dan prasarana.

Banyak harapan dari pondok pesantren agar ecopesantren menjadi program yang berlanjut dan strategis bagi pondok pesantren, sehingga dibutuhkan kegiatan yang lebih untuk melakukan sosialisasi yang lebih intensif mengenai maksud, tujuan dan pelaksanaan program eco-pesantren, Memberikan workshop/pelatihan tentang model-model penerapan eco-pesantren untuk meningkatkan kualitas SDM, Melakukan benchmarking kepada ponpes-ponpes yang telah berhasil menjalankan konsep eco-pesantren, lebih mengembangkan lagi model-model ecopesantren, menjadikan eco-pesantren menjadi program tahunan (dalam bentuk pemberian penghargaan/ award), membuat instrumen penilaian yang baku (terstandarisasi) untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan eco-pesantren, menggandeng pihak swasta/ BUMN untuk bersama-sama menjalankan program eco-pesantren melalui mekanisme CSR, itu semua merupakan rangkaian masukan, dan diskusi yang berkembang dari peserta dan narasumber kegiatan.

Pada kesempatan yang sama Ketua PC NU Cabang Blitar menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi pondok pesantren khususnya ponpes di Blitar jawa timur dengan tujuan untuk menciptakan perilaku ramah lingkungan di kalangan pondok pesantren terlebih lagi menciptakan lingkungan pondok pesantren yang sehat dan ramah lingkungan.

Sementara Pada hari ke-dua acara dihadiri oleh Wakil Bupati Kab Blitar yang memimpin Deklarasi “Selamatkan Lingkungan di Kabupaten Blitar” dan selain Deklarasi juga dilakukan Gerakan Aksi Tanam dan Pelihara Pohon sebanyak 3000 pohon di lingkungan pondok pesantren, Launching Bank Sampah Ponpes Al-Kamal serta Orasi santri tentang penguatan komitmen santri dalam melakukan upaya melindungi dan mengelola lingkungan. Kami harus sadar dan peduli serta melakukan sesuatu ! kata santri dalam orasinya. Dan hal tersebut diperkuat kembali dengan suara lantang oleh Wakil Bupati dalam mengakhiri Deklarasinya dengan jargon, Ecopesantren bergerak, yang sambut oleh ribuan peserta dengan teriakan Bismillah !. (Wahyu Indraningsih- Asisten Deputi Peningkatan Peran Organisasi Kemasyarakatan)