KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Catatan Program Ekolabel Indonesia

Kunjungan Prof. Dr. Emil Salim ke stand Asdep Standteksih, KLH, pada Eco-Product International Fair 2010 (Foto: E.Maliki)

Kepedulian produsen dan konsumen terhadap produk yang telah mempertimbangkan aspek lingkungan di Indonesia dirasakan semakin meningkat. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya produsen yang telah mempertimbangkan aspek lingkungan dari produk yang dihasilkannya, mulai dari penggunaan bahan baku, proses produksi sampai dengan produk akhir. Hal ini sejalan dengan telah banyaknya konsumen yang ingin menggunakan produk-produk yang ramah terhadap lingkungan.

Terkait dengan hal tersebut, banyak konsumen yang menginginkan pengakuan terhadap produk yang mereka hasilkan dengan mendapatkan logo ekolabel Indonesia atau pengakuan dari pihak terkait (pemerintah) terhadap produk yang dihasilkan merupakan produk yang ramah terhadap lingkungan. Hal ini terkait upaya yang dilakukannya dalam usaha memproduksi produk yang telah mempertimbangkan aspek lingkungan tersebut dan memenuhi permintaan konsumen.

Namun sampai saat ini belum banyak kriteria ekolabel Indonesia yang disusun, sehingga untuk beberapa produsen sulit untuk mendapatkan logo ekolabel Indonesia. Alternatif lain adalah dengan pernyataan diri atau swa-deklarasi klaim aspek lingkungan dari produsen terhadap produk yang dihasilkan.

Hal tersebut diatas merupakan tema yang sering ditanyakan dan diskusikan di stan Asisten Deputi Urusan Standardisasi, Teknologi dan Produksi Bersih (Asdep Standteksih), KLH, pada Eco-product International Fair 2010. Acara tersebut dilaksanakan dari tanggal 4 – 7 Maret 2010 bertempat di Jakarta Convention Center. Pameran ini diadakan oleh Asian Productivity Organization (APO) bekerja sama dengan KADIN dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kegiatan  ini merupakan rangkaian kegiatan yang sebelumnya juga diadakan di beberapa negara ASEAN yang dimulai sejak tahun 2004 di Malaysia, 2005 di Thailand, 2006 di Singapore, 2008 di Vietnam dan 2009 di Philipine.

Pada kesempatan ini selain mengedepankan program ekolabel yang erat hubungannya dengan tema pemeran, Asdep Standteksih juga memberikan informasi terkait program dan produk yang dihasilkan oleh Asdep Standteksih diantaranya Manajemen Lingkungan, Sistem Manajemen Lingkungan, Produksi Bersih, Kompetensi dan Laboratorium Lingkungan.

Pada saat ini Asdep Standteksih mengembangkan 2 (dua) tipe ekolabel, yang berpedoman kepada standar label lingkungan yang dikembangkan oleh International Organisation for Standardization (ISO). Ekolabel tipe I(satu) yang dikembangkan mengacu pada ISO 14024 Environmental labels and declarations – Type I ecolabelling – Principle and guidelines. Ekolabel tipe I ini berbasis multi kriteria yang disepakati pemangku kepentingan, dengan sertifikasi oleh pihak ketiga. Penerapan ekalabel ini bersifat proaktif sukarela.

Untuk menunjang program ekolabel tipe I tersebut, saat ini telah dikembangkan infrastruktur penunjang seperti logo ekolabel Indonesia dan skema ekolabel tipe I yang telah ditetapkan pada peringatan hari lingkungan hidup pada tanggal 5 Juni 2004. Selain itu juga telah disusun  7 (tujuh) kriteria ekolabel Indonesia yang telah dijadikan Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu, kertas cetak tanpa salut, serbuk deterjen pencuci sintetik rumah tangga, tekstil dan produk tekstil, kulit jadi, sepatu kasual dari kulit, kertras tisu untuk kebersihan dan kertas kemas.

Ekolabel tipe II (dua) adalah klaim lingkungan swadeklarasi. Pengembangan ekolabel tipe II ini mengacu pada standar ISO 14021 yang telah diadopsi menjadi SNI ISO 14021: 2009 Label lingkungan dan deklarasi – Klaim lingkungan swadeklarasi (pelabelan lingkugan tipe II) ISO 14021: 1999, IDT. Pada ekolabel tipe II ini produsen, importir, distributor, pengencer atau pihak lain yang mungkin memperoleh manfaat dari klaim tersebut dapat membuat klaim lingkungan tanpa harus sertifikasi pihak ketiga yang mandiri. Namun dalam pembuatan klaim tersebut ada rambu-rambu atau ketentuan yang harus dipenuhi.

Pada saat ini Asdep Standteksih sedang menyusun pedoman yang dapat digunakan oleh pihak terkait dalam membuat klaim lingkungan swadeklarasi.  Pedoman tersebut dikembangkan dengan referensi kepada SNI ISO 14021:2009, dengan penambahan mekanisme penggunaan logo yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Pedoman tersebut diharapkan dapat menjembatani keinginan produsen yang ingin mendapatkan logo ekolabel Indonesia, namun produknya belum memiliki kriteria ekolabel untuk dapat melakukan klaim lingkungan swadeklarasi, atau produsen yang ingin mendapatkan pengakuan terhadap produknya dari  pemerintah. (THAU)

Informasi lebih lanjut :
Dra. Sri Tantri Arundhati, MSc,
Asisten Deputi Urusan Standardisasi, Teknologi dan Produksi Bersih, Kementerian Lingkungan Hidup
Telpon : 021-8590 6167, 021-8584 638
Email : ekolabel@menlh.go.id