KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Persoalan sampah tak semata terkait soal kuantitas atau banyaknya tumpukan sampah. Namun mencakup juga kualitas atau jenis sampah. Kebanyakan sampah keluarga, khususnya dari jenis sampah anorganik, adalah berupa plastic pembungkus makanan yang dikonsumsi setiap hari.

Seperti yang sudah diketahui masyarakat, plastic adalah bahan yang sangat sulit terurai. Sementara setiap keluarga tidak bisa terlepas dari sampah plastic setiap harinya. Untuk itu perlu ada solusi dan tidak sekedar bagi para konsumen (masyarakat), namun juga para produsen (pengusaha) agar menghindari atau mengurangi penggunaan plastic sebagai alat pembungkus produk tertentu.

Salah satu tindakan mengurangi penggunaan plastic dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan pemakaian produk plastic ramah lingkungan. Salah satu LSM Indonesia yaitu Dana Mitra Lingkungan (DML) telah meluncurkan produk plastik ramah lingkungan bernama Ecoplas. Sebelumnya Ecoplas ini bernama BioBag yang telah terlebih dahulu dikenal masyarakat.

Ramah Lingkungan

Ecoplas adalah kantong ramah lingkungan yang merupakan inovasi baru dengan rancangan yang menarik dan harga terjangkau yang dibuat dengan menggunakan bahan resin BE+. Tas jenis ini diproduksi dengan penghematan bahan bakar/energi.

BE+ atau Biodegradable Resin adalah resin baru yang dikembangkan dan diciptakan di Indonesia oleh putra Indonesia yang mengandung 50 persen tepung singkong Indonesia beserta sumber-sumber alami lain yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui. Resin BE+ sudah dipatenkan dan diharapkan dapat menjadi pilihan alternatif selain resin-resin lain yang sudah dikenal masyarakat.

Reseach Management Coordinator DML Eko Junaedi kepada Percik mengatakan, tas plastic pada umumnya memerlukan waktu 1000 tahun untuk terurai, sementara Ecoplas haya memerlukan waktu 10 pekan untuk terurai dalam tanah tropic. “Hal ini berdasarkan laporan tes yang dilakukan Sucofindo/SGS,