KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Bogor (ANTARA News) – Ekosistem Burung Indonesia terancam puna karena menyusutnya ruang terbuka hijau (RTH) akibat pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada berubahannya ekosistem menjadi kawasan perkotaan.

Hal ini disampaikan oleh Ria Saryanthi, Conservation Programer Manager Burung Indonesia atau yang dikenal Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia melalui email yang dikirimkannya kepada ANTARA News, Selasa.

Ia mengemukakan hal itu dalam rangka memperingati Hari Habitat Dunia yang jatuh pada Senin pertama bulan Oktober setiap tahunnya yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ria menjelaskan, Hari Habitat Dunia menjadi kesempatan tahunan untuk melakukan refleksi, bagaimana kita menciptakan kota kita sebagai tempat yang lebih baik bagi semua. Mengenai ekosistem buru Indonesia yang terancam punah, dijelaskannya berkurangnya RTH tentunya membuat keberadaan burung terancam.

“Tidak mudah bagi burung untuk hidup di kawasan minim pepohonan karena pohon merupakan merupakan sumber kehidupan, tempat mencari makan, bersarang, dan berkembang biak. Begitupun dengan keberadaan sungai, kanal, atau danau yang belum tercemar dan ketersediaan pakan seperti ikan dan udang yang berlimpah. Hanya burung gereja yang masih umum ditemui di lingkungan padat penduduk,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, kecilnya areal RTH serta letaknya yang berjauhan tanpa jalur penghubung membuat burung-burung yang hidup di dalamnya terisolasi. Akibatnya jumlah jenis dan populasi pun menyusut.

“Hoogerwerf, seorang naturalis dari Belanda, pada tahun 1948 mencatat, di Jakarta masih ditemukan 256 jenis burung. Namun, hasil survei sebuah LSM konservasi di Jakarta tahun 2006-2007 hanya menemukan 121 jenis burung, termasuk jenis burung pantai,” ungkapnya.

Ia mengatakan, contoh utama RTH di Jakarta tahun 1992 yang seluas 1.235 ha berkurang menjadi 805 ha di tahun 2005. Idealnya, sebuah kota memiliki 30% wilayah hijau, sementara saat ini belantara beton di Jakarta hanya menyisakan 9% wilayah hijau.

Kondisi ini berbanding terbalik pada masa Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (1618 – 1623), Batavia tempo dulu bukan hanya terkenal sebagai “Venesia dari Timur”.

Oleh karena, menurut dia, kala itu Batavia juga memiliki kawasan ruang terbuka hijau sangat luas dan kekayaan ragam burungnya. Dalam perkembangannya, proses urbanisasi membuat ruang terbuka hijau kerap disulap menjadi perumahan, perkantoran, pusat perbelanjaan dan wilayah industri

Keberadaan burung di perkotaan merupakan indikator alami kebersihan dan mutu lingkungan. Secara sederhana, burung mandar atau raja udang tidak akan terlihat di daerah aliran sungai yang mengitari Jakarta karena airnya sudah tercemar.

Menurut Ria, jenis burung ini tidak sudi hidup di daerah yang telah tercemar karena pasti pakan mereka sudah tidak ada lagi. Berdasarkan indikator burung tersebut, sudah dapat tergambar seberapa parah pencemaran air di sungai-sungai maupun kanal-kanal di kota Jakarta.

“Selain itu, kicau burung memberikan nuansa alami yang menyehatkan jiwa raga,” ujar Ria.

Diungkapkannya, hasil survei di enam kota besar di Jawa-Bali menunjukkan bahwa satu dari tiga rumah memelihara burung dalam sangkar, sementara Burung adalah salah satu hidupan liar yang mudah dijumpai di mana saja dan dapat ?diundang?.

Kawasan hunian yang dapat menyediakan cukup makan, minum dan tempat berlindung akan mengundang burung-burung untuk datang. Kawasan hunian dapat difungsikan sebagai habitat alami hidupan liar, yang memberikan nilai tambah bagi penghuni dan meningkatkan apresiasi kepada alam.

Menghadapi permasalahan tersebut, ujar Ria, sebagai lembaga nirlaba non pemerintah yang bergerak di bidang konservasi dan merupakan bagian dari kemitraan global Bird Life International. Burung Indonesia bekerja bersama masyarakat dalam upaya pelestarian jenis-jenis burung di Indonesia.

Upaya yang dilakukan adalah menciptakan konsep hunian yang lebih dari sekadar hijau harus dikedepankan, perancangan dan penataan kawasan sehingga lebih asri, alami dan kaya keragaman hayati. Perancangan kawasan dengan mempertimbangkan kaidah ekologis akan memungkinkan terciptanya habitat yang lebih baik dan mengundang kehadiran burung di sekitar.

“Burung-burung dan hidupan liar lainnya seperti kupu-kupu akan menjadi bagian dari kualitas hidup kita sehari-hari di kawasan hunian yang alami di tengah Jakarta,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, kehijauan yang saling menyambung ini tidak hanya bagus untuk burung tetapi juga baik bagi seluruh penghuni kota. Warga kota di negara tropis yang sehari-hari berjalan kaki, bersepeda, dan tak mengendarai kendaraan bermotor, sangat membutuhkan keteduhan.

“Keteduhan ini hanya bisa tercipta melalui kerindangan pohon. Kehijauan yang disenangi burung sebenarnya ikut dinikmati manusia. Pohon juga berfungsi menghisap atau menetralisir sebagian polutan dari udara. Dengan demikian, tata kota dan hunian ramah burung otomatis ramah manusia juga,” ujarnya.
(T.KR-LR/P003)

Sumber:
AntaraNews.com
Selasa, 5 Oktober 2010 21:16 WIB