KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Alexander Yahya Datuk:
Pengajar di FISIP Universitas Indonesia

Ada artikel singkat namun menarik di bisnis.com hari ini ( 26/08/95) .
Diungkapkan bahwa harga gula di pasar dunia telah mengalami peningkatan tajam
hingga 27 % dalam 3 bulan terakhir. Harga ini adalah yang tertinggi dalam 7
tahun terakhir ini. Diungkapkan lagi, bahwa penyebabnya adalah karena Brazil,
sebagai produsen utama gula dunia, enggan untuk melepas produksi gula kualitas
tinggi, ke pasar dunia, sehingga supply gula menjadi terbatas.

Hal yang luput diungkapkan dalam artikel tersebut adalah alasan sebenarnya,
kenapa Brazil tidak melepas produksi gulanya ke pasar dunia ? Dalam artikel itu
hanya dikatakan bahwa rakyat Brazil tidak ingin mengekspor gula putih
berkualitas tinggi. Sebenarnya terdapat alasan yang lebih jauh dari itu.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Brazil telah menjadi salah satu produsen
utama bahan bakar alternatif dan terbarui, bernama Ethanol. Ethanol sebagai
bahan bakar dapat di produksi dari tebu, kentang, jagung, dan disisi lain,
Brazil memiliki perkebunan tebu dan kapasitas produksi gula salah satu terbesar
di dunia. Produksi gula yang secara tradisional menjadi komoditi eksport
andalan, nampaknya sudah mulai berubah fungsi. Seiring dengan krisis harga dan
kelangkaan bahan bakar hydrocarbon seperti minyak bumi, gas dan batubara, maka
Ethanol telah menjadi pilihan yang tepat bagi mereka. Selain harga Ethanol
lebih kompetitif, Brazil dapat lebih memastikan keberadaan supply energi dalam
negeri, yang sangat krusial bagi stabilitas dan pembangunan ekonomi mereka.

Dan seterusnya anda tentunya dapat memprediksi apa yang terjadi. Mereka
mengutamakan produksi gula mereka untuk memproduksi Ethanol, dan me-nomer
duakan eksport Gula. Apalagi harga minyak bumi dunia sekarang ini tercatat
hingga lebih dari $ 65/barrel.

Bagi pengamat lingkungan dan energy alternatif, hal ini dapat disadari sebagai
fenomena besar. Kenapa ?
Peristiwa ini adalah kali pertama sebuah komoditi energi alternatif, telah
memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar global. Selama ini, energi
alternatif, banyak hanya bertengker di tataran wacana, perdebatan dan
eksperimen, dan tidak pernah memiliki pengaruh terhadap pasar dunia. Sekalipun
pembangkit listrik tenaga angin di Belanda, nuklir di Perancis, dan geothermal
di Islandia sudah memiliki peranan signifikan sebagai sumber energi alternatif,
namun semua itu tetap tidak memiliki pengaruh besar terhadap pasar global.
Namun sekarang kita sudah mencatat sejarah baru !

Bila kita hendak memprediksi, maka harga bahan bakar hydrocarbon akan sangat
sulit untuk turun diharga yang rasional ( kalau tidak mau dikatakan tidak
mungkin ). Hal ini akan memacu Brazil dan mungkin banyak negara produsen gula
utama untuk memproduksi Ethanol dengan kuantitas yang lebih besar lagi. Dan ini
artinya, bila produksi Ethanol ini tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas
produksi gula yang seimbang, maka harga gula dunia akan terus meroket.

Sebagai sebuah pertimbangan bagi pemerintah Indonesia, maupun BUMN dan sektor
swasta yang terkait, Indonesia memiliki kapasitas produksi gula yang
signifikan. Coba tengok perkebunan gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Disisi
lain, Indonesia-pun dapat saja memproduksi energi alternatif lainnya seperti
biodiesel / palmdiesel dari minyak sawit. Indonesia dewasa ini, berkelimpahan
produksi sawit, dan dapat dikatakan sebagai salah satu produsen sawit utama
dunia. Perusahaan minyak Thailand ( PTT ) dan Malaysia ( Petronas ) sudah mulai
dengan serius mengembangkan palm diesel ini. Dan perlu diingat bahwa ini bukan
lagi semata-mata wacana, diskusi atau eksperimen, karena Brazil telah
membuktikan bahwa energi alternatif itu riil dan memiliki gigi.

Alexander Yahya Datuk
Pengamat lingkungan dan energy alternatif
Pengajar di FISIP Universitas Indonesia