KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

SP S. 686/II/PIK-1/2005 – Dilihat dari namanya “Rossaâ€Â?, kita akan membayangkan seorang gadis manis, dan berkulit putih. Namun “Rossaâ€Â? yang ini lain, ia bukanlah seorang gadis, melainkan satwa liar yang hidup di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Provinsi Lampung. “Rossaâ€Â? adalah nama seekor Badak Sumatera liar yang dalam setahun terakhir mengalami perubahan perilaku menjadi jinak. Rossa sering terlihat bermain di perkampungan dan akrab dengan warga sekitar. Fenomena ini belum pernah terjadi di dunia, mengingat Rossa adalah badak liar yang tinggal di habitat alaminya.

Awal mula badak tersebut diberinama Rossa, yaitu sejak tahun 2004 lalu, petugas TNBBS dan Rhino Protection Unit (RPU) sering menjumpai seekor Badak Sumatera yang keluar hutan dan berada di jalan tembus Sukaraja – Pemerihan. Saking seringnya bertemu dengan sang badak, petugas menamainya “Rossa�, karena diketahui jenis kelamin Badak Sumatera tersebut betina, dan saat itu berumur sekitar 5 tahun.

Selanjutya sejak bulan Mei 2004, dilakukan pemantauan secara intensif, karena ada indikasi Rossa mulai jinak. Fenomena ini, semakin tampak setelah memasuki tahun 2005, Rossa sering keluar jauh dari kawasan hutan, dan berada di kebun/talang penduduk. Untuk seekor badak liar, Rossa terlalu jinak. Pemantauan terus dilakukan mengingat bukan tidak mungkin ada oknum-oknum yang akan memanfaatkan kejinakan Rossa untuk kepentingan pribadi. Di samping itu, ancaman lain juga sangat dimungkinkan, misalnya makanan yang tidak sesuai dengan pencernaannya, yang diberikan oleh penduduk, atau orang yang lewat.

Oleh kerena itu, keselamatan Rossa menjadi pertimbangan Balai TNBBS selaku pengelola kawasan. Saat ini Balai TNBBS telah berkoordinasi dengan RPU dan mengambil langkah-langkah strategis dengan meningkatkan pemantauan dan pengamanan secara khusus, termasuk memetakan pergerakan Rossa untuk mengetahui posisinya secara pasti.

Namun karena keterbatasan yang ada, kemudian disusun strategi penyelamatan yang melibatkan beberapa pihak seperti, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Dephut, International Rhino Foundation, Perkumpulan Kebun Binatang Indonesia, Yayasan Sumatera Rhino Sanctuary, Taman Safari Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan LSM. Dari beberapa pertemuan dihasilkan 2 alternatif tindakan penyelamatan, yaitu : (1) Ditangkap dan dibuatkan kandang sementara di TNBBS, yang mungkin dapat menampung badak-badak lain; (2) Ditangkap dan dibuatkan kandang sementara untuk dipindahkan ke tempat lain yang lebih aman. Pertemuan tersebut merekomendasi alternatif kedua, yaitu Rossa dimungkinkan untuk dipindahkan ke Suaka Rhino Sumatera (SRS), yang merupakan salah satu program penangkaran badak yang berada di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Upaya ini dipilih untuk mendukung program Pemerintah dalam penangkaran semi alami.

Untuk itu telah dilakukan persiapan antara lain pembuatan paddock kandang adaptasi di daerah Patok 32 Sukaraja Atas, bersamaan dengan penggiringan Rossa dari Suoh, Lampung Barat ke kandang adaptasinya. Saat ini, Rossa telah berada di lokasi kandang sementara. Habituasi akan terus dilakukan terkait dengan rencana berikutnya untuk membawa Rossa ke SRS di Taman Nasional Way Kambas. Habituasi tersebut termasuk analisa kesehatan serta potensi reproduksinya.

Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan satwa langka dilindungi yang menghuni hutan tropis di Pulau Sumatera. Upaya konservasi satwa ini terus dilakukan mengingat Badak Sumatera masuk dalam daftar Red Data Book dari IUCN dengan kategori endangered. TNBBS sebagai salah satu kawasan yang terdiri dari hutan hujan tropis dataran rendah merupakan habitat terbaik bagi Badak Sumatera. Sebagai kawasan pelestarian alam terbesar ketiga di Sumatera, TNBBS memiliki populasi badak terbesar di antara 2 Taman Nasional lainnya di Sumatera. Berdasarkan hasil survey dan monitoring, dari sekitar 200 ekor Badak Sumatera yang terdapat di Pulau Sumatera, sekitar 65-80 ekor terdapat di TNBBS.

Saat ini habitat Badak Sumatera di TNBBS mengalami kemerosotan dan bahkan populasinya terkonsentrasi pada daerah-daerah tertentu. Penyebab kelangkaan Badak Sumatera adalah kegiatan perambahan, illegal logging, dan perburuan. Oleh karena itu satwa yang hanya mampu melahirkan 5 ekor dari satu induk dengan masa produktif maksimal hingga usia 30 – 35 tahun ini memerlukan tindakan perlindungan yang serius.

Informasi Lebih Lanjut:

Pusat informasi Kehutanan
oproom@dephut.go.id