KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Program Eco-Pesantren yang dicanangkan pada tahun 2008 adalah merupakan salah satu program strategis Kementerian Lingkungan Hidup dalam upaya  perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui jalur keagamaan dengan mengembangkan dan mereplikasikan berbagai kegiatan ramah lingkungan  yang dicontohkan oleh 10 pondok pesantren penerima penghargaan Kalpataru.

Melalui Program Eco-Pesantren ini diharapkan dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya pesantren percontohan ramah lingkungan. Pesantren percontohan tersebut diharapkan akan menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat sekitarnya, sesuai dengan potensi yang terdapat di pondok pesantren tersebut. Untuk pelaksanaan ini, Kementerian Lingkungan Hidup mencoba menerapkan system no single model, tidak bersifat hit and run, tapi terus menerus dan berkelanjutan, serta membangun sinergi kegiatan dengan instansi teknis terkait.

Demikian antara lain disampaikan oleh Ir. Bambang Widyantoro dalam mewakili Deputi VI KLH  pada pembukaan Sosialisasi Program Eco-Pesantren  dan Pembentukan Kader lingkungan Pondok Pesantren Cluster Jawa Tengah Tahap III di Eks Kresidenan Pati  yang meliputi : Kab. Jepara, Kab. Pati, Kab. Kudus, Kab, Rembang dan Kab. Demak, dihadiri 80 orang Pimpinan dan Ustadz  perwakilan dari 35 Pondok Pesantren, bertempat di Hotel  Griptha, Kudus  tanggal 14  Juli  2010.

Sementara itu  Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah dalam sambutannya antara lain menyampaikan bahwa pada prakteknya, cukup banyak pondok pesantren yang telah melakukan upaya ramah lingkungan sesuai dengan tuntunan ALLAH, kegiatan pelestarian lingkungan hidup seharusnya menjadi jiwa pesantren, mengingat dalam kegiatannya sehari-hari tidak terlepas dari pemanfaatan sumber daya alam seperti air untuk ibadah, pemenuhana sandang, papan dan pangan bagi santrinya. Pondok pesantren yang juga merupakan lembaga pendidikan tertua di Nusantara, menyebar sampai ke pelosok dan pedalaman, pondok pesantren tertua di Pulau Jawa adalah Pondok Pesantren Glagah Wali di Demak yang siswanya menjadi salah satu wali yaitu Raden Patah.

Saat ini terdapat + 5.000 pondok pesantren di Jawa Tengah. Pondok pesantren dalam kegiatannya harus mengikuti sifat ALLAH yang maha pengasih dan penyayang, begitu juga dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, kalau tidak mengikuti sifat tersebut berarti lari dari fitrahnya.

Pada kesempatan yang sama Prof. Dr. H. Mujiyono Abdillah, MA, Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga, Semarang dalam paparan materi berjudul Kewajiban Manusia dalam melestarikan lingkungan sesuai perspektif Islam,  antara lain menyampaikan sebenarnya hidup ramah lingkungan sudah menjadi spirit dan jiwa pondok pesantren, sehingga menjadi tanggung jawab terhadap lingkungannya. Konsep hubungan fungsional ekologis manusia dalam lingkungan, bertujuan memposisikan peran manusia dalam lingkungan. Peran tersebut dirumuskan dalam bentuk tanggung jawab ekologi manusia dengan konsep manusia sebagai mandataris ILLAHI RABBI (khalifah), dalam konotasi ekologis, bukan politis.

Kepada peserta selain  diberikan materi tersebut di atas, diberikan kesempatan mengikuti lomba usulan kegiatan ramah lingkungan pendukung Eco-Pesantren dan copy CD Pengelolaan sampah organik di kebun karinda, (ws)

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotaan