KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Sultan_menteri_forum_wartawan.jpgJakarta, 13 Oktober 2009. Tanpa terasa sudah lima tahun berlalu, semenjak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terpilih secara aklamatif, tahun 2004 lalu. Dalam bidang lingkungan hidup, perjalanan pemerintahan dipercayakan kepada Prof (Hon) Ir Rachmat Witoelar, sebagai menteri yang bertanggung jawab. Lima tahun terakhir perjalanan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), penuh dengan berbagai kebijakan didalamnya. Kesemuanya terbagi dalam dua bidang besar, yaitu kebijakan di dalam negeri dan internasional.

Di dalam negeri, KLH berhasil menelurkan dua Undang-Undang baru. Undang-Undang no 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Undang-Undang mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang baru disyahkan pada minggu kedua September 2009. Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang lingkungan hidup, juga telah diluncurkan, diharapkan dengan dana ini bisa makin memancing keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan.

Dalam lingkup internasional, KLH sukses memfasilitasi negoisasi internasional mengenai isyu perubahan iklim. Terbukti dengan terpilihnya Rachmat Witoelar sebagai Presiden COP XIII pada Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007 lalu. Proses negoisasi internasional mengenai isyu ini juga terus dilanjutkan hingga Konferensi Perubahan Iklim ke XIV di Poznan dan di Copenhagen tahun 2009.

KLH juga menyelenggarakan Konferensi Pengolahan Limbah B3, pada bulan Juni 2008. Dari konferensi tersebut berhasil diamanatkan konsensus mengenai limbah antar batas negara. Indonesia sendiri kemudian menyetujui ratifikasi Konvensi Stockholm sebagai kelanjutan terakhir. Untuk memaparkan mengenai semua langkah dan kebijakan yang dihasilkan. Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar akan menjabarkan secara jelas melalui diskusi ini. Dengan tambahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan mendatang.

Diantara kedua bagian isyu besar tersebut. Tentu masih banyak masukan-masukan yang diperlukan untuk masa datang. Terutama bila memperhatikan kebutuhan paska disyahkannya UU Perlindungan Lingkungan Hidup. Diharapkan kehadiran Tjatur Sapto Edi, pengamat lingkungan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Setyo Mursidik selaku Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Indonesia (PPLUI), serta Siti Maemunah dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) bisa memberikan tanggapan-tanggapan dan masukan, sehingga perjalanan KLH bisa lebih baik pada masa mendatang.

Untuk menyebarkan informasi ini, diperlukan upaya banyak pihak didalamnya. Termasuk didalamnya para wartawan yang mampu memberikan informasi terpercaya bagi masyarakat. Harapannya, wartawan yang hadir dapat membagi kembali informasi tersebut kepada para pembaca mereka. Acara tersebut sendiri akan diadakan pada tanggal 13 Oktober 2009, mulai pukul 12.00 – 15.00 WIB dikuti oleh sekitar 30 Wartawan dari berbagai media cetak maupun elektrinik dengan nara sumber Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof.Ir. Rachmat Witoelar, Tjatur Sapto Edi (DPR), Setyo Mursidik (PPL-UI) dan Siti Maemunah (Jatam) dengan Moderator Adianto PS (Jakarta Post). Kegiatan ini sendiri merupakan bagian dari upaya untuk mempertahankan kesinambungan berita mengenai lingkungan di Indonesia.

Sumber:
DEPUTI BIDANG KOMUNIKASI LINGKUNGAN
DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT