KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 

Terjadinya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang dampaknya saat ini kita rasakan bersama,  tidak terlepas dari adanya perubahan perilaku dan gaya hidup manusia yang cenderung konsumtif dan eksploitatif. Sepanjang perjalanan dari Jakarta hingga ke Sukabumi saya  mengamati perubahan lingkungan yang sedang  terjadi, kepadatan penduduk dengan berbagai aktivitasnya, toko dan bangunan semakin banyak, kendaraan semakin banyak, sementara pepohonan di kanan kiri jalan sudah sangat berkurang. Hal ini mengingatkan kita semua bahwa sebetulnya pemicu terjadinya pemanasan global antara lain adalah karena ulah dari 20 % masyarakat dunia yang memiliki gaya hidup dan perilaku tidak ramah lingkungan, berlebihan, tamak dan rakus. Namun karena kita berada pada planet yang sama dampaknya ikut merasakan. Sebagai ilustrasi dan perbandingan misalnya dalam hal penyediaan makanan untuk penduduk Swiss yang terkenal

paling kaya di dunia, untuk sekali makan dengan 4 orang anggota keluarga dapat memenuhi kebutuhan untuk 14 keluarga penduduk Ethopia dengan jumlah keluarga yang sama, begitu juga di Amerika yang 40 % kebutuhannya didatangkan dari negara lain. Oleh karena itulah para pimpinan Pondok Pesantren dan Santrinya diharapkan dapat menjadi pelopor dalam mengendalikan gaya hidup yang ramah lingkungan sesuai dengan tuntunan syariat islam yang mengisyaratkan untuk hidup tidak berlebihan bahkan berhenti makan sebelum kenyang. Demikian disampaikan oleh Dr. Henry Bastaman, MES, Deputi MENLH Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat KNLH, dalam sambutannya pada pembukaan Sosialisasi Program Eco-Pesantren dan Pembentukan Kader lingkungan Pondok Pesantren Tahap III se Cluster Bogor, Sukabumi Cianjur yang dihadiri oleh 90 orang Kyai, Ustadz dan santri perwakilan dari 30 Pondok Pesantren di kawasan perkotaan Kota Bogor, Kab. Bogor, Kota Sukabumi, Kab. Sukabumi dan Kab. Cianjur, Selasa 18  Maret 2010, di Hotel Agusta Sukabumi.

Sementara itu Hilman Bakrie dalam sambutannya mewakili  Kepala  BPLHD Provinsi Jawa Barat, antara lain menyampaikan Pemerintah Jawa Barat sangat menyambut baik Program Eco-Pesanten ini karena selain sejalan dengan kebijakan Pemerintah Jawa Barat juga sudah saatnya para pimpinan pondok Pesantren peduli terhadap lingkungan dan mau melakukan advokasi atau mengajak masyarakat agar memahami bahwa permasalahan lingkungan adalah permasalahan kita bersama yang harus diperhatikan dan di jaga kelestariannya secara berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama selain K.H. Thonthowi D. Musaddad Pimpinan Pondok Pesantren Luhur Al Wasilah Garut, sebagai nara sumber utama,  juga Ir. Abdul Hafid Paronda, MT dari LSM Masalih Bekasi yang dalam paparannya antara lain menyampaikan bahwa sudah saatnya para Pemuka Agama dan pimpinan Pondok Pesantren,  selain mengkaji kitab kuning juga mengkaji kitab-kitab lainnya yang berkaitan dengan lingkungan, karena kita tidak bisa hidup tanpa adanya lingkungan yang terpelihara kelestariannya serta membuka peluang untuk bekerja sama dengan pihak lain, menjalin kemitraan dengan kalangan dunia usaha dalam mengembangkan pesantren berwawasan lingkungan sebagai percontohan pengelolaan lingkungan secara islami dikawasan Pondok Pesantren.

Kepada peserta selain  diberikan materi tersebut diatas, diberikan kesempatan mengikuti lomba usulan kegiatan ramah lingkungan pendukung Eco-Pesantren, diberikan bibit pohon produktif dan copy CD Pengelolaan sampah organik di kebun karinda, (ws)

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan