KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

The 4th International Workshop for Environmental Human Resources Development in Bali:

Pada tanggal 6 -9 November 2013, Indonesia baru saja menjadi tuan rumah kegiatan Internasional ke-4, Workshop Pembangunan Sumber Daya Manusia untuk Lingkungan Hidup. Kegiatan yang diinisiasi oleh Pemerintah Korea bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia adalah; gaya hidup ramah lingkungan (green lifestyle).

Dalam workshop yang diselenggarakan di Bali, delegasi dari masing-masing negara yang berasal dari Korea, Vietnam, Pakistan, Srilanka, Kamboja, dan Indonesia saling berbagi pengalaman dalam rangka mengajak masyarakat untuk mengadopsi dan mempraktekkan gaya hidup ramah lingkungan sehari-hari. Delegasi dari setiap negara saling belajar untuk memperkuat upaya membumikan gaya hidup ramah lingkungan di negaranya. Peserta juga diajak untuk melihat secara langsung kehidupan dan kegiatan sekolah serta kampung adat yang diakui telah mengadopsi budaya ramah lingkungan, yaitu SMA 5 Denpasar dan Desa Adat Panglipuran di Kabupaten Bangli.

Pentingnya Green Lifestyle

Wujud gaya hidup ramah lingkungan adalah perilaku kehidupan sehari-hari yang  efisien dalam memanfaatkan sumber daya alam (resource efficiency), misalnya memanfaatkan air dan energi untuk listrik, peralatan teknologi, dan moda transportasi yang kita gunakan sehari-hari; yang tidak atau sedikit mencemari lingkungan, misalnya tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan kantong plastik, dan meminimalisasi timbulan sampah dari produk atau makanan yang kita konsumsi; serta perilaku atau kebiasaan yang tidak boros menghasilkan karbon yang mengemisi atmosfer dan berkontribusi pada pemansan global (low carbon). Green lifestyle juga mencakup apa yang disebut green skills, atau bentuk kecakapan yang dalam prakteknya berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan, seperti composting, membuat lubang biopori, menanam dan merawat tanaman, dan lain sebagainya.

Dalam sambutannya, Cheruddin Hasyim, SKM, M.Si, mewakili Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Komunikasi Lingkungan dan Masyarakat menyatakan bahwa adopsi gaya hidup ramah lingkungan oleh masyarakat secara luas akan dapat berkontribusi mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan, dan menjadi bagian penting dari upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Bagi Indonesia sendiri, usaha mempromosikan gaya hidup ramah lingkungan sangat lah penting dan relevan. Berkaitan dengan itu, mengutip hasil survei perilaku ramah lingkungan nasional yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2012, Dra. Jo Kumala Dewi MSc., delegasi dari Indonesia, menyatakan bahwa rata-rata perilaku ramah lingkungan di kalangan rumah tangga di Indonesia, seperti dalam memanfatkan air dan listrik, pengelolaan sampah, serta dalam bertransportasi, masih cukup rendah.

Upaya promosi Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Hampir di setiap negara peserta worshop, upaya untuk mendorong masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan dilakukan dengan memasukkan pendidikan lingkungan hidup dalam proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah. Sehingga para siswa mendapatkan pengetahuan dan kecakapan di bidang lingkungan hidup, serta dapat mempraktikan gaya hidup yang ramah lingkungan, misalnya Eco School di Kamboja, Eco Clubs di Srilanka, Green Club di Pakistan, . Di Indonesia sendiri upaya yang telah dilakukan secara nasional untuk mempromosikan budaya ramah lingkungan di kalangan siswa sekolah diimplementasikan  dalam program Adiwiyata.

Barangkali aspek yang menarik dalam upaya mendorong masarakat mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan adalah yang dipaparkan oleh delegasi dari Korea dan Vietnam. Di kedua negara tersebut, sebagaimana dipaparkan oleh masing-masing focal point-nya, upaya yang mereka lakukan untuk mempromosikan green lifestyle diintegrasikan atau in line dengan arah dan visi pembangunan ekonomi di kedua negara tersebut. Menurut Dinh Thai Hung, Ph.D, focal point delegasi Vietnam, green lifestyle yang ia sebut dengan istilah greening life and consumption merupakan salah satu sasaran atau target utama yang harus dicapai dalam rangka mewujudkan green growth yang merupakan visi pembangunan ekonomi mereka ke depan, sebagaimana termaktub dalam dokumen Vietnam National Green Growth Strategy (2012). Adapun pendidikan untuk mendorong budaya ramah lingkungan termasuk salah satu sasaran untuk mewujudkan low carbon society (LCS) sabagai salah satu komponen penting untuk mewujudkan green growth.

Sementara itu di Korea, sebagaimana dipaparkan oleh Mr. Do Mingu dari National Institut of Environmental Human Resource Development-Korea, inisiatif untuk mempromosikan green lifestyle dilakukan dalam rangka untuk mendorong implementasi green economy. Menurutnya upaya mempromosikan green lifestyle di Korea dilaksanakan di bawah kerangka sustainable consumption and production (SCP). Dalam kerangka tersebut, masyarakat atau warga negara dipersepsikan sebagai konsumen yang harus dirangkul untuk mewujudkan green economy. Oleh karena itu upaya untuk mempromosikan pola konsumsi yang ramah lingkungan merupakan hal yang urgent untuk menciptakan perekonomian yang “pro-lingkungan”, ungkapnya. Untuk mendorong hal itu beberapa inisiatif yang telah dilakukan di Korea antara lain promosi dan pemberian insentif bagi pengguna bahan-bahan bangunan yang ramah lingkungan, Green Home-Carbon Point Program, Green Consumption Festival, Green Store Designation Program, dan Green Credit Card Initiative.

Benang merah dari pengalaman dan apa yang sedang diupayakan oleh kedua negara tersebut dalam mempromosikan green lifestyle adalah mereka melihat upaya untuk mendorong green lifestyle bukan sebagai sesuatu yang stand alone, melainkan sebagai bagian penting dari tujuan yang lebih besar, yaitu untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang digaungkan kembali dalam Konverensi Rio +20 pada tahun yang lalu. @Dian Andryanto/rr.

Sumber:
Deputi Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat

Berita terkait: