Gerakan masyarakat Bambu Pertiwi dan Deklarasi Persaudaraan Pecinta Bambu Indonesia

Bandung, 26 November 2012. Menteri Lingkungan Hidup menghadiri dan memberikan arahan dalam acara “Gerakan Masyarakat Bambu Pertiwi” di Saung Angklung Udjo, Bandung. Acara yang juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat dan perwakilan dari beberapa Kementerian terkait, diantaranya Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kehutanan, diselenggarakan sebagai komitmen untuk melestarikan bambu dan mewujudkan kemanfaatannya secara berkelanjutan serta meningkatkan [...]

27 Nov 2012 08:10 WIB

Bandung, 26 November 2012. Menteri Lingkungan Hidup menghadiri dan memberikan arahan dalam acara “Gerakan Masyarakat Bambu Pertiwi” di Saung Angklung Udjo, Bandung. Acara yang juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat dan perwakilan dari beberapa Kementerian terkait, diantaranya Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kehutanan, diselenggarakan sebagai komitmen untuk melestarikan bambu dan mewujudkan kemanfaatannya secara berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat disamping untuk fungsi pelestarian lingkungan. Acara ini merupakan prakarsa bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup dengan para pemangku kepentingan, penggiat dan pecinta Bambu juga  di dukung oleh Saung Angklung Udjo Foundation, Yayasan Kehati, CIMB Niaga, Komunitas Cinta Bambu (KOCIBA), dan SABA. Gerakan ini juga sekaligus dalam rangka memperingati pengakuan angklung sebagai warisan budaya tak benda yang dicanangkan oleh UNESCO pada tanggal 16 November 2011. Di samping itu acara ini juga dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2012.

Pertemuan yang dihadiri sekitar 200 orang terdiri dari berbagai komunitas pecinta bambu, peneliti, lembaga swadaya masyarakat dan berbagai komponen masyarakat peduli bambu dari seluruh Indonesia ini, menyepakati sebuah “Deklarasi Persaudaraan Pecinta Bambu Indonesia” yang bertekad untuk melestarikan, melindungi, mengembangkan tanaman bambu berlandaskan budaya dan pendidikan, budidaya, pemanfaatan, pengelolaan dan regulasi.

Berbagai upaya pelestarian dan pemanfaatan bambu telah dilakukan oleh berbagai pihak baik peneliti, kelompok masyarakat maupun pemerintah melalui berbagai kebijakan. Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Baltashar Kambuaya, MBA, dalam sambutannya mengatakan, “Melalui forum ini diharapkan dapat memberikan kesepakatan kepada pihak-pihak yang berkepentingan demi pelestarian dan pemanfaatan bambu secara keberlanjutan di bumi pertiwi ini”.

Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati di dunia, memiliki keanekaragaman jenis bambu.Dari sekitar 1500 jenis bambu yang sudah dikenal, 147 merupakan jenis asli Indonesia termasuk jenis-jenis bambu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Berdasarkan keterangan pengusaha dan investor bambu, antara lain Oprins NV dan Fiberstrength USA, nilai bisnis bambu di dunia saat ini mencapai US$ 7 miliar dan permintaannya dari waktu ke waktu terus meningkat. Eropa saja membutuhkan 700 ton panel bambu per bulan atau 8,4 juta ton per tahun, sementara AS membutuhkan 20 juta ton per tahun. Industri di Indonesia memerlukan lebih banyak bambu untuk bahan bakunya, seperti industri kertas, tekstil, arang bambu, dan lain-lain. Sebagai contoh, industri karbon aktif dengan kapasitas 100 ton per bulan memerlukan tanaman bambu seluas 300 Ha agar pasokan bahan baku dapat terjamin.

Bambu mempunyai fungsi lingkungan yang sangat signifikan dalam menjaga sistem hidrologis sebagai pengikat tanah dan air. Bambu mempunyai kemampuan menyerap karbon hingga 62 ton karbon per tahun per 1 (satu) hektar tanaman bambu. Sebaliknya bambu juga dapat melepaskan oksigen 35% lebih banyak dari pada kayu. Ada sebanyak 22 (dua puluh dua) juta Ha lahan bambu di dunia yang dapat menyerap 727 tera gram karbon. Tanaman bambu yang rapat dapat mengikat tanah pada daerah-daerah lereng, sehingga mampu berfungsi dalam mengurangi erosi, sedimentasi dan longsor. Bambu juga merupakan salah satu tanaman yang dapat menyimpan air dan menyimpan karbon, menahan kebisingan, serta mempunyai nilai ekonomis yang memiliki citra sebagai produk ramah lingkungan.

Keahlian tradisional di bidang bambu seperti pembuatan anyaman, alat rumah tangga, alat musik dan rumah tradisional, perlu di inventarisasi dan dilestarikan keberadaannya karena saat ini keahlian di bidang ini hampir punah. Di Jawa Barat misalnya, hanya beberapa orang tua saja, sementara anak-anak muda kurang berminat. Sangat disayangkan, pihak asing justru lebih menghargai produk bambu dari bangsa kita sendiri. Oleh sebab itu, guna mengembalikan citra bambu bagi kehidupan masyarakat, Kementerian Lingkungan Hidup bersama dengan pihak terkait  secara bersama akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Melakukan inventarisasi dan pemetaan bambu sebagai dasar menentukan langkah kebijakan pelestarian dan pemanfaatan bambu secara berkelanjutan;
  2. Melakukan sistem pengembangan agribisnis dan agroindustri bambu. Meningkatnya kebutuhan bambu untuk kepentingann pembangunan, perlu di imbangi dengan upaya pengembangan populasi bambu di lapangan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan baku;
  3. Merehabilitasi lahan kritis/DAS dengan penanaman bambu karena bambu merupakan jenis tanaman yang tepat digunakan untuk upaya konservasi tanah-tanah miring yang rawan longsor, dan lahan kritis.
  4. Memasyarakatkan kembali bambu. Pengenalan dan penyebaran informasi berbagai manfaat ekologi dan ekonomi bambu perlu di tingkatkan  sebagai upaya memperoleh penghargaan masyarakat yang lebih memadai;
  5. Melakukan konservasi bambu. Untuk menjalin kelestarian bambu terutama jenis asli setempat, perlu dibangun suatu taman pelestarian atau hutan bambu;
  6. Melakukan pengembangan industri bambu. Dorongan pasar yang kuat akan produk bambu perlu terus dilakukan dan ditingkatkan.

Gerakan Masyarakat Bambu Pertiwi adalah upaya terpadu dari berbagai pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, maupun masyarakat yang peduli akan pelestarian lingkungan pada umumnya dan bambu pada khususnya guna pelestariannya, pemanfaatannya hingga pengembangan industri bambu. “Kami harapkan kegiatan ini dapat di implementasikan, sehingga sasaran pelestarian dan pemanfaatan bambu secara berkelanjutan dapat di capai dan bambu lebih memasyarakat serta tidak lagi terasing di negeri sendiri”, ucap MenLH.

Berita Terkait: KLH-YBI Peringati “World Bamboo Days” Gerakan Masyarakat Menanam Bambu

Untuk Informasi Lebih Lanjut:
Ir. IlyasAsaad, MP, MH,
Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat,
Kementerian Lingkungan Hidup,
Tlp/Fax: 8580087,
email: humas@menlh.go.id

Kerjasama

  • Luar Negeri
  • Dalam Negeri
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor