KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Serba hijau menjadi trend masa kini. Mulai dari green label , green product , green packaging , green producers , green consumer , green business dan sebagainya. Semua ini sangat erat kaitannya dengan masalah pengelolaan lingkungan yang telah menjadi tuntutan pasar demi keselamatan dan kelestarian lingkungan. Pendekatan yang dilakukan oleh pelaku bisnis untuk mempertahankan kesinambungan dalam aktivitasnya yang berwawasan lingkungan dikenal dengan bisnis hijau.

Pada awalnya strategi pengelolaan lingkungan didasarkan pada pendekatan “carrying capacity approach”, akibat terbatasnya daya dukung lingkungan alamiah untuk menetralisir pencemaran yang terus meningkat, maka upaya untuk mengendalikan pencemaran berubah dari pendekatan “end of pipe treatment’ menjadi “pollution prevention”; dimana pelaku industri dituntut untuk melakukan peran aktif dalam pengelolaan lingkungan, bahkan dengan meningkatnya kesadaran industri akan pentingnya pengelolaan lingkungan, mereka bertindak proaktif didalam mengupayakan pengendalian pencemaran untuk menghasilkan suatu produk aman dan ramah lingkungan, dimana salah satu pendekatan tersebut adalah konsep “greening business”.

Sustainable Business Development

lnteraksi antara bisnis dan lingkungan adalah dalam penggunaan sumberdaya alam pada setiap tahapan aktivitas seperti, produksi, distribusi, pemasaran, dan konsumsi akhir dari barang dan jasa. Interaksi ini dapat dilihat sebagai simbiosa yang akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak apabila dilakukan aktivitas positif, yaitu tidak hanya lingkungan yang menjadi sumber eksploitasi tetapi juga bagaimana mengelola dampak lingkungan yang terbentuk akibat aktivitas bisnis.

Lingkungan merupakan suatu tantangan bagi dunia bisnis, dimana bank, asuransi atau investor dapat diyakinkan apabila perusahaan telah mempunyai surat keterangan yang menyatakan tentang resiko lingkungan yang mungkin ditimbulkan oleh suatu aktivitas bisnisnya. Untuk mencapai keunggulan bersaing, maka dunia bisnis harus mempertimbangkan faktor lingkungan disamping faktor ekonomi dan sosial. Eksploitasi yang berlebihan dari sumber daya alam akan mengakibatkan terganggunya rantai penyediaan bahan baku suatu aktivitas bisnis yang selanjutnya akan menghambat pembangunan berkelanjutan.

Aspek yang perlu dikembangkan untuk mencapai korporasi/bisnis yang berkelanjutan adalah sebagai berikut:

l. Memperluas misi dari kinerja berwawasan ekologi sehingga menjadi suatu bisnis berkelanjutan secara ekologi.

2. Memperkenalkan program pengelolaan lingkungan yang komprehensif dan terintegrasi yaitu strategic product, sistem produksi dan pelaksanaan pengelolaan limbah yang aman lingkungan, selanjutnya ditetapkan sebagai prioritas utama korporat.

3. Berperan aktif dalam menyelesaikan masalah lingkungan global untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, yang meliputi keamanan produk yang dikonsumsi oleh manusia (makanan), proteksi ekosistem, mengurangi populasi dan konservasi energi dan sumberdaya alam.

4. Meningkatkan kebijaksanaan, program dan kinerja yang berwawasan lingkungan untuk dapat memenuhi keinginan konsumen dan masyarakat yang telah sadar lingkungan.

5. Mengedukasi seluruh karyawan agar mempunyai motivasi bertanggungung jawab terhadap lingkungan dalam melaksanakan setiap aktivitasnya.

6. Membuat penilaian tentang ,dampak lingkungan yang akan ditimbulkan oleh suatu proyek baru sebelum aktivitas berjalan.

7. Mengembangkan produk dan jasa yang aman bagi lingkungan, efisien dalam penggunaan energi dan sumber daya alam dan dimungkinkan untuk didaur ulang atau dibuang secara aman.

8. Mengembangkan fasilitas dan operasi dengan menggunakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, meminimumkan dampak dan limbah yang dihasilkan serta merencanakan pembuangan akhir residu limbah yang aman lingkungan.

9. Melakukan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan bahan baku, proses, produk, kemasan, pengelolaan limbah, transportasi, distribusi dalam rangka ecoefficiency.

10. Melakukan modifikasi proses, pemasaran atau penggunaan produk yang dapat mencegah kerusakan lingkungan.

11. Mendorong kontraktor dan supplier dalam mengembangkan bisnis berwawasan lingkungan.

12. Mengembangkan dan mencegah terlepasnya B3 ke lingkungan dengan menerapkan chemical management.

13. Mengkontribusikan teknologi dan metode manajemen berwawasan lingkungan melalui industri dan sektor publik.

14. Mengkontribusikan pengembangan kebijakan dan program-program bisnis untuk meningkatkan kesadaran dan proteksi terhadap lingkungan.

15. Menjadi mediator dalam dialog dengan masyarakat dan karyawan dalam mengantisipasi dan merespon hal-hal yang berkaitan dengan bahan baku yang berpotensi B3 serta dampaknya terhadap operasi, produk, limbah dan perpindahan lintas batas.

16. Mentaati semua peraturan yang berkaitan dengan aspek lingkungan dan secara rutin membuat laporan pelaksanaannya untuk disampaikan pada institusi yang berwenang.

Bisnis Hijau

“Greening business management” adalah strategi pengelolaan lingkungan yang terpadu yang meliputi pengembangan struktur organisasi, sistem dan budidaya dalam suatu kompetensi hijau dengan cara menerapkan dan mentaati seluruh peraturan tentang pengelolaan lingkungan, termasuk pengelolaan bahan baku, pengolahan limbah, penggunaan sumberdaya alam yang efektif, penggunaan teknologi produksi yang menghasilkan limbah minimal serta menerapkan komitmen kesadaran lingkungan bagi seluruh karyawan dalam organisasinya. Berdasarkan pengalaman dari beberapa industri, maka ada 4 alasan yang menjadi penyebab industri harus meletakan masalah lingkungan sebagai aspek yang penting dalam usahanya, yaitu:

1. Lingkungan dan efisiensi

Dengan adanya kesadaran bahwa sumber daya alam (materi dan energi) sangat terbatas, maka apapun juga harus dilakukan untuk mengurangi penggunaannya. Oleh sebab itu industri harus mengupayakan daur ulang dan melakukan efisiensi dalam penggunaan setiap material dan energi dalam proses produksinya, yang mana hal tersebut mempunyai implikasi pada pengurangan biaya produksi. Program “produksi bersih” harus segera dicanangkan, sehingga jumlah limbah yang dihasilkan seminimal mungkin, dan jika dimungkinkan “zero emission”. Hal lain yang cukup efektif adalah dengan menempelkan slogan-slogan yang mengingatkan hubungan antara efisiensi dengan lingkungan seperti SMART(Save Money And Reduce Toxic), WOW (Wipe Out Waste).

2. “Image” lingkungan

Mempunyai sikap positif terhadap lingkungan merupakan suatu hal yang baik untuk dapat menumbuhkan “image” yang selanjutnya untuk memperbesar “market share”. Memperluas pasar dengan “greening image” akan tercapai apabila konsumen telah bernuansa “hijau” pula . Hal ini dapat dimulai dengan meng”hijau”kan karyawan dari perusahaan itu sendiri, sehingga muncul image “perusahaan hijau”, kemudian mensosialisasikan kepada masyarakat dengan memasarkan “produk hijau”.

3. Lingkungan dan peluang pasar

Dengan adanya tuntutan pasar terhadap pelaku Bisnis dan dunia usaha dalam hal sistem menajemen lingkungan (sml), yang selanjutnya dikembangkan menjadi pemberian sertifikasi ISO 14001, maka hal ini memberikan dampak positif pada dunia usaha. Bisnis dalam bidang instalasi pengolahan limbah, peralatan pengendalian pencemaran udara, teknologi daur ulang, desain “containers” kemasan merupakan suatu peluang pada masa transisi pengelolaan lingkungan dari strategi “end-off pipe treatment’ menjadi “waste reduction at source”.

4. Ketaatan terhadap peraturan lingkungan

Meskipun “law enforcement” pemerintah masih lemah, namun demikian apabila terjadi pelanggaran dalam pengelolaan lingkungan ataupun adanya pengaduan masyarakat akibat dampak dari suatu aktivitas industri, maka akan berdampak negatif terhadap reputasi industri tersebut.Selain itu organisasi lingkungan lokal dan internasional akan bereaksi keras apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan lingkungan. Hal ini terjadi pada kasus PT, Freeport Indonesia, PT. Newmont, dan lain-lain. Oleh sebab itu ketaatan terhadap setiap peraturan lingkungan secara proaktif sangat dianjurkan agar peluang untuk memperluas pasar dan sasaran dari bidang usaha tidak terganggu. Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa bisnis hijau adalah “trend” saat ini, yang mana untuk mencapai hal tersebut harus ada interaksi antara ekonomi dan ekologi , hal ini disebabkan karena adanya dampak terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia dari setiap aspek dari suatu aktivitas perusahaan industri. Untuk mencapai tujuannya, maka suatu perusahaan harus menciptakan sistem input, proses dan output yang terintegrasi sehingga memungkinkan tercapainya suatu perusahaan hijau secara komprehensif.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam bisnis hijau, yaitu:

· Mengembangkan produk, kemasan dan sistem operasi sesuai dengan sumber daya alam yang tersedia,

· Melakukan pemilihan lokasi fasilitas produksi yang dapat meminimumkan tranportasi dalam setiap aktivitasnya serta mengupayakan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable).

· Menggunakan teknologi yang dapat menggunakan sumber daya alam setempat dan hemat energi serta seminimal mungkin menghasilkan limbah.

· Mengimplementasikan standar lingkungan, keselamatan kerja dan kesehatan yang biasa digunakan secara internasional maupun lokal.

· Menyebarluaskan teknologi dan manajemen berwawasan lingkungan pada seluruh perusahaan diseluruh dunia terutama pada negara-negara berkembang.

· Menciptakan “safety zone” yang dilengkapi dengan fasilitas infrastruktur untuk mendukung operasi perusahaan.

Keuntungan dari “bisnis hijau” adalah sebagai berikut
· Mengurangi biaya operasi dengan mengefisiensikan eksploitasi sumber daya alam yaitu dengan mengurangi jumlah limbah yang terbentuk, memaksimumkam konservasi energi, melakukan daur ulang dan memperpanjang siklus bahan baku yang digunakan.

· Menciptakan keunggulan bersaing dan dapat mempertahankan kesetiaan pelanggan, karena dapat memenuhi keinginan pelanggan akan produk dan kemasan yang ramah lingkungan.

· Dapat menciptakan strategi lingkungan yang unik dan sukar untuk ditiru, sehingga menjadi perusahaan yang berbeda dan menjadi pemimpin dalam perusahaan berwawasan lingkungan.

· Membantu perusahaan melakukan ekspansi ke pasar global

· Meningkatkan “image” perusahaan dan hubungan baik dengan masyarakat.

· Memperkecil resiko lingkungan jangka panjang yang berkaitan dengan kerusakan sumber daya alam, konservasi energi dan pengendalian pencemaran serta pengelolaan limbah.

· Memberikan keuntungan bagi ekosistem dan komunitas dimana perusahaan itu beroperasi.

· Jika dipandang dari sudut etika merupakan sesuatu yang sangat diinginkan dan tidak dapat dihindari.

· Menjadikan perusahaan selangkah lebih maju dalam mentaati peraturan lingkungan.

Kunci sukses dalam penyelesaian masalah lingkungan adalah melakukan inovasi teknologi dan penelitian ilmiah mengenai perencanaan produk, kemasan dan proses produksi.

Contoh-contoh perusahaan yang telah memperoleh predikat “bisnis hijau”

1. The Body Shop

· Perusahaan telah menyadari perlunya proteksi lingkungan dan kesinambungan yang berwawasan lingkungan, oleh sebab itu kedua hal tersebut menjadi bagian dari misi dan visi perusahaan.

· Adanya konsistensi yang tinggi terhadap nilai-nilai lingkungan yang meliputi seluruh aspek yang ada dalam perusahaan(pengembangan produk, produksi, pengelolaan energi dan limbah, proteksi konsumen, kebijakan lingkungan dan sosial).

· Komitmen dari setiap karyawan akan tanggung jawab lingkungan harus terus menerus didukung oleh pimpinan yang karismatik.

· Keuntungan perusahaan dialihkan menjadi program-program sosial lingkungan.

· Menggunakan teknologi sederhana yang menggunakan sumber daya yang dapat diperbaharui.

· “bisnis hijau” merupakan keunggulan bersaing yang efektif dan telah menjadikan perusahaan sukses secara global.

2. Procter & Gamble, Inc.

· Strategi perusahaan untuk menjadi “bisnis hijau” melalui “total system approach” yaitu melakukan perubahan sistem pada seluruh bagian yang ada meliputi penggunaan sumber daya alam, desain produk, kemasan, produksi, transportasi dan pengolahan limbah. Filosofi yang digunakan adalah “Total Quality Environment Management”; dan hal ini menjadi kerangka kerja yang terintegrasi pada seluruh asosiasi perusahaan.

· Kunci sukses dalam penyelesaian masalah lingkungan adalah melakukan inovasi teknologi dan penelitian ilmiah mengenai perencanaan produk, kemasan dan proses produksi.

· Untuk memulai program lingkungan, perusahaan memberikan kesempatan, insentif dan penghargaan pada setiap karyawannya yang melakukan upaya pengelolaan lingkungan. Mulai dari karyawan terendah sampai dengan top manajemen bertanggung jawab atas keberhasilan program lingkungan.

· Secara terus menerus berupaya menetapkan standar dan sistematika operasi untuk meningkatkan efisiensi dalam kaitannya dengan penyelesaian masalah lingkungan.

· Melibatkan seluruh “stakeholder” dalam upaya pengelolaan lingkungan yang meliputi konsumen, supplier, distributor dan pemerintah.

· Menetapkan sasaran “zero pollution” dengan melakukan peningkatan kinerja dalam hal pengelolaan lingkungan dan selalu mengukur setiap kemajuan kinerja.

3. Loblow International Merchants

· Sebagai suatu perusahaan “retail”, maka strategi yang digunakan untuk membangun “bisnis hijau” melalui pendekatan “product line” yaitu perusahaan menetapkan sejumlah produk yang ramah lingkungan, sebanyak 15 % dari total produk yang di pasarkan. Strategi ini berdampak langsung terhadap peningkatan keuntungan dan “market share” dalam bisnis “retail”.

· Atribut lingkungan pada produk dan kemasan merupakan keunggulan dalam strategi bersaing.

· Secara umum variabel-variabel marketing (produk, kemasan, harga, promosi, distribusi) dan jenis manajemen yang dipakai merupakan suatu alat yang unggul dalam mengimplementasikan program lingkungan.

· Mengupayakan “suppliers” menciptakan produk dan kemasan yang ramah lingkungan.

· Mengembangkan orientasi “vendor” agar memiliki kebijakan yang berwawasan lingkungan, sehingga kebijaksanaan-kebijaksanaannya dapat mempengaruhi antara lain: penggunaan sumber daya energi, spesifikasi produk dan kemasan serta program pengelolaan limbah.

· Untuk meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata konsumen, diadakan diskusi interaktif dengan masyarakat.

4. The 3M Company

· Tema “cost effective green technology’ menjembatani perusahaan untuk berwawasan lingkungan. Perusahaan mengembangkan teknologi baru yang dapat meminimalkan penggunaan sumber daya alam, mengurangi polusi, minimisasi limbah dan daur ulang limbah.

· Memperkenalkan program 3P (Pollution Prevention Pays) yaitu mencegah polusi pada sumbernya, untuk menghindari biaya pengelolaan limbah yang relatif besar. Dalam 15 tahun pertama, perusahaan berhasil mengurangi 123.000 ton limbah ke udara, 16.400 ton limbah cair, 409.000 ton limbah padat dan hal ini identik dengan perusahaan dapat menghemat biaya sebesar $500 juta. Perusahaan memotivasi seluruh karyawannya untuk terlibat dalam pengelolaan lingkungan dan memberikan penghargaan bagi karyawan yang berprestasi.

· Mendirikan 2 divisi yang terpisah untuk menangani masalah pengelolaan lingkungan yaitu “Environmental engineering division” dan “Pollution control division”.

Ir. Sulistyowati, MBA

Kabid P2TL Asdep Urusan Standarisasi & Teknologi KLH