KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Catatan Perjalanan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Ke Kutub Utara dalam dialog tentang Pemanasan Global

Ilulissat, Greenland, 16-19 Agustus 2005, Menteri Lingkungan Hidup Denmark, Connie Hedegaard memutuskan penyelenggaraan Dialog mengenai perubahan iklim di pulau terbesar di dunia – Greenland. Greenland terletak di ujung utara planet bumi. Alasannya dari pertemuan ini adalah dampak dari perubahan iklim yang terjadi di kawasan kutub utara akibat mencairnya permukaan es yang dampaknya meningkatnya permukaan air laut terhadap daratan. Artinya, tingkat ketersediaan es di Kutub Utara menjadi barometer perubahan iklim global. Tidak kurang dari Premiér Greenland Mr. Hans Enoksen, dalam sambutan pembukaannya, menyampaikan keprihatinan beliau atas dampak dari perubahan iklim terhadap mencairnya es dan mundurnya lapisan es ke dalam pulau, peningkatan suhu di musim dingin dan kekeringan serta hujan lebat di musim panas.

Bencana lingkungan global sendiri adalah perubahan iklim akibat pemanasan global bumi. Pemanasan global diakibatkan oleh emisi carbon yang meningkat sangat tajam yang belum ada presedennya sampai akhir abad ke-20, sebagai akibat pembakaran energi bagi konsumsi manusia yang semakin meningkat pula. Carbon yang dilepas ke atmosfir mengakibatkan efek gas rumah kaca (baca: sinar matahari yang masuk ke bumi sebagian besar tidak dapat keluar lagi sehingga suhu bumi meningkat). Akibat peningkatan suhu bumi ini, sebagian es di kutub utara sudah mulai mencair dan mengakibatkan peningkatan muka air laut yang pada gilirannya mulai menimbulkan banjir akibat pasang di daerah pantai di seluruh dunia secara lebih intensif. Sebagian pulau-pulau kecil di planet bumi inipun sebetulnya sudah lenyap ditelan laut akibat kenaikan muka air laut. Pulau Dapur di kawasan Kepulauan Seribu termasuk pulau yang sudah menjadi sejarah karena tidak terlihat lagi dari udara maupun dari satelit karena telah ditelan oleh laut.

Sebelum bertolak ke Greenland pada tanggal 16 Agustus 2005, melalui Kopenhagen, Menteri Negara Lingkungan Hidup RI melakukan pembicaraan bilateral informal dengan Menteri Kerjasama Pembangunan Denmark Mrs. Ulla Tørnæs sebagai persiapan rencana kunjungan beliau ke Indonesia November 2005 dalam rangka pembahasan penandatanganan Country-to-Country Programme antara lain di bidang lingkungan hidup. Menteri Negara Lingkungan Hidup menjelaskan kebijakan dan langkah-langkah yang telah diambil serta yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah. Tampaknya cukup memuaskan pihak Pemerintah Denmark.

Perubahan-perubahan yang terjadi di Greenland sangat kasat mata dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari, kenaikan suhu bumi sebesar 4o Celcius akan mencairkan es di Greenland yang pada gilirannya akan meningkatkan muka air laut sebesar 7 meter, yang berarti kota-kota besar di dunia (bahkan negara) seperti Jakarta, bahkan Bogor, akan hilang dari peta bumi. Yang lebih dramatis adalah, apabila suhu bumi meningkat lebih dari 4o Celcius, maka es di Antartika Kutub Selatan akan mulai mencair dan melimpah ke laut dan akibatnya tidak terbayangkan mengingat massa es Kutub Selatan jauh lebih besar dari massa es di Kutub Utara. Karena itu, para ilmuwan menyatakan bahwa toleransi kenaikan suhu bumi adalah maksimum 2o. Apabila dunia tidak dapat mencegah kenaikan lebih dari 2o, maka bencana globallah taruhannya.

Sedangkan pertemuan ini sendiri dihadiri oleh 24 menteri/pejabat setingkat menteri dari berbagai negara yang mewakili seluruh kawasan di bumi ini. Dari Asia diundang menteri lingkungan hidup dari tiga negara yaitu Cina, Jepang, dan Indonesia. Dengan demikian, Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang diundang. Selain para menteri, diundang pula beberapa nara sumber pembicara (termasuk ilmuwan) yang menyampaikan paparan dalam rangka mendorong terjadinya diskusi yang produktif.

Salah satu dampak dari pencairan kutub adalah terjadinya kebakaran lahan dan hutan yang hebat di Portugal yang membuat Pemerintah Portugal kewalahan mengatasinya dan meminta bantuan internasional untuk membantu pemadaman api. Api baru saja padam, itupun karena dibantu oleh datangnya hujan, tetapi korban jiwa sudah jatuh. Di Cina saat ini sedang terjadi banjir dan longsor hebat di salah satu daerahnya. Eropa juga tidak luput dari bencana banjir. Saat ini, Jerman, Austria, Swiss, Rumania, dan Hungaria tengah dilanda bencana banjir hebat hingga jatuh puluhan jiwa korban. Kerugian akibat banjir di Eropa ditaksir sekitar Rp 6-7 triliun.

GREENLAND DIALOGUE.

Dalam sesi pertama mengenai hubungan antara sains dan ekonomi, terungkap bahwa masalah perubahan iklim sudah sedemikian seriusnya sehingga apabila tidak ada pihak manapun mengambil langkah tindak untuk mengatasinya (business as usual), maka biaya yang akan ditanggung akan semakin besar sehingga tidak mungkin dapat ditanggung oleh negara manapun.

Sedangkan untuk Indonesia sendiri setiap tahun mengalami banjir dan kekeringan bergantian yang semakin tidak menentu. Debit banjir yang besar atau kekeringan parah yang sebelumnya hanya berulang satu kali dalam 50 tahun misalnya, sekarang lebih kerap berulang dan tidak perlu menunggu 50 tahun lagi. Kebakaran lahan dan hutan tahun ini sudah menyebabkan pengiriman asap ke Malaysia, walaupun sebagian perusahaan yang bertanggung jawab adalah perusahaan milik pengusaha negeri Jiran tersebut. Sebagian bencana lingkungan disebabkan oleh faktor lokal, sebagian lagi akibat faktor global.

Karena itu hampir semua peserta memandang penting dan mendesaknya diambil langkah bersama mengatasi perubahan iklim, baik berupa langkah mitigasi (pengurangan emisi gas rumah kaca) maupun langkah adaptasi, yaitu upaya penyesuaian dengan perubahan iklim. Untuk itu, kendati sulit, upaya kuantifikasi langkah-langkah mengatasi dampak perubahan iklim perlu terus dilakukan.

GREENLAND DIALOGUE II.

Dalam sesi kedua, Indonesia menyampaikan kepentingannya untuk senantiasa melakukan efisiensi pemanfaatan energi dan mendorong upaya pemanfaatan sumber energi bersih dan berkelanjutan sehingga terjadi pengurangan emisi gas rumah kaca (Yang dimaksud dengan rumah kaca disini adalah mengapungnya gas karbon di udara sehingga panas matahari yang ada di bumi terperangkap, sehingga suhu bumi meningkat red.) tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi negara. Maka, teknologi lingkungan bersih menjadi sangat penting dalam upaya ini. Secara khusus, untuk Indonesia, kontribusi terbesar pengurangan emisi gas rumah kaca akan berasal dari keberhasilan kita menarik kendaraan bermotor dari jalan raya, sementara bagi kendaraan bermotor yang masih ada, mendorong pemanfaatan energi alternatif yang lebih bersih. Untuk itu, tiada jalan lain, transportasi di Indonesia–paling tidak di kota-kota besar dan kawasan padat penduduk–perlu diarahkan pada pemanfaatan angkutan cepat massal (mass rapid transport atau MRT). Investasi yang diperlukan untuk promosi teknologi inilah yang perlu mendapat perhatian dari negara maju melalui berbagai kebijakan investasi, perdagangan, Overseas Development Assistance (ODA), dan lembaga keuangan internasional. Dalam kaitan ini, Kebijakan Umum Bidang Energi Nasional serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah perlu mengakomodasi kepentingan ini.

GREENLAND DIALOGUE III.

Dalam sesi ketiga, strategi kerjasama internasional diarahkan pada pelaksanaan Protokol Kyoto yang konsisten. Dalam hubungan ini, prinsip ‘common but differentiated responsibility’ yang dicantumkan dalam Deklarasi Rio 1992 perlu mendapat penekanan kembali karena, kendati upaya mengatasi perubahan iklim merupakan tanggung jawab bersama, negara maju yang mengkonsumsi energi sumber fossil terbesarlah yang memiliki tanggung jawab lebih besar. Negara maju, dengan penduduk sebesar seperlima penduduk bumi, memproduksi dua pertiga emisi gas rumah kaca. Untuk itu, para peserta sepakat diperlukan visi melampaui tahun 2012 yang menjadi target Protokol Kyoto. Beberapa negara maju bahkan berpandangan perlunya suatu pembaruan dari Konvensi Perubahan Iklim untuk menampung kepentingan setelah tahun 2012.

Salah satu pandangan yang mencuat adalah perlunya elaborasi pelaksanaan CDM (Clean Development Mechanism) tanpa mengorbankan integritas lingkungan hidup, mengarah pada upaya mitigasi maupun adaptasi perubahan iklim, di tengah gencarnya AS (yang tidak menjadi pihak Protokol Kyoto) mengembangkan mekanisme baru bersama dengan Australia (bukan Negara pihak) dan mengajak beberapa negara pihak Protokol Kyoto seperti Cina dan Jepang.

Selain dialog, para peserta diajak pula berkunjung ke lokasi glacier dan icefiord Greenland untuk melihat langsung kondisi es yang mulai mencair. Di sini terasa sekali bahwa horizon waktu cairnya es ini mencakup beberapa generasi, sehingga walaupun generasi masa kini mungkin tidak akan mengalami peningkatan suhu bumi yang lebih dahsyat, bisa jadi cucu atau cicit kitalah yang akan mengalaminya. Siapkah kita menerima kenyataan ini?

Kesimpulan Dialog.

Menteri Negara Lingkungan Hidup RI sendiri berkesimpulan bahwa pertemuan ini telah berhasil membuka wawasan para peserta untuk memiliki pemahaman yang sama mengenai ancaman perubahan iklim yang mendorong adanya strategi dan kerjasama bersama secara global dalam upaya mengatasinya. Kondisi ini tentunya diharapkan akan mempermudah negosiasi yang akan dilakukan pada Pertemuan ke-11 para pihak Konvensi Perubahan Iklim yang akan diselenggarakan awal Desember 2005 tahun ini. Kesimpulan Dialog oleh Ketua merangkap tuan rumah yaitu Menteri Lingkungan Hidup Denmark antara lain berisi 10 butir sebagai berikut:

(1) Para peserta merasakan besarnya manfaat suatu dialog politik yang bersifat informal seperti Greenland Dialogue. Untuk itu, sikap jalan buntu seperti: "Saya tidak akan melakukan apapun selama kamu tidak melakukan apapun" (I don’t do anything as long as you don’t do anything), disadari tidak akan membantu memecahkan masalah (perubahan iklim).
(2) Peserta menyadari perlunya permainan "mencari kesalahan (orang lain)" diakhiri. Seluruh pemerintah perlu memberikan kontribusi bagi visi ke depan dalam mengatasi masalah perubahan iklim.
(3) Mengingat "Iceberg" (es di Greenland) terus bergerak (mencair), maka Dialog menjadi momentum bagi peluang untuk upaya mendorong pembangunan berkelanjutan melalui upaya mengatasi perubahan ikilm.
(4) Mengingat tingkat masalah yang mendesak, yang dibutuhkan sekarang adalah "Tindakan". Biaya akibat "tidak mengambil tindakan apapun" sedemikian besar sehingga tidak ada negara yang mampu memikulnya. Hampir semua Negara, termasuk Indonesia, telah melaporkan berbagai bencana lingkungan hidup di masing-masing negara akibat kekeringan, banjir, kehilangan lahan, kebakaran, dll, tidak terkecuali negara maju maupun negara berkembang.
(5) Ada indikasi kuat perlunya kemampuan yang lebih baik untuk memperikirakan biaya akibat "tidak melakukan apa-apa". Dalam hal ini, teknologi bersih untuk mengatasi perubahan iklim perlu terus dikembangkan.
(6) Diperlukan peningkatan pengetahuan dan kemampuan dalam analisis manfaat-biaya (benefit-cost) dari dampak akibat perubahan iklim.
(7) Diperlukan investasi energi yang berkelanjutan bagi upaya penurunan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim.
(8) Diperlukan pengembangan teknologi energi berkelanjutan yang baru. Mengingat teknologi energi berkelanjutan adalah teknologi tinggi dan mahal, diperlukan alih pengetahuan di bidang ini, dari negara maju ke negara berkembang.
(9) Dalam rangka persiapan Pertemuan ke- 11 Para Pihak (COP 11) Kerangka Konvensi Perubahan Iklim (KKPI) di Montréal, Kanada, akhir tahun ini, diperlukan elaborasi pelaksanaan CDM (Clean Development Mechanism) tanpa mengorbankan integritas lingkungan hidup, mengarah pada upaya mitigasi maupun adaptasi perubahan iklim. Sebagai catatan, tahun 2007-2009 telah ditetapkan sebagai Tahun Kutub Internasional (International Polar Years).
(10) Untuk itu, Diperlukan pula pandangan jauh ke depan sesudah COP 11 berupa pengembangan strategi ke dalam untuk meneliti sebuah Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim yang baru.(Ry)

Sumber:
Dana A. Kartakusuma
Staf Ahli MENLH Bidang Teknologi dan Pembangunan Berkelanjutan
Tel./Fax. (021) 8590-4937
Email: dana@menlh.go.id

Publikasi Berita KLH :
Edukasi dan Komunikasi