KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA – Agroekologi dinilai dapat menjadi solusi pembangunan pertanian menghadapi perubahan iklim yang berakibat pada penurunan pangan sekaligus menjadi koreksi atas sistem agribisnis.
Demikian benang merah dalam diskusi bertema ‘Kontribusi Sector Pertanian bagi Peningkatan Emisi Karbon serta Mencari Strategi Adaptasi dan Solusi Alternatif yang diselenggarakan di Institut Pertanian Bogor (IPB) di Bogor, Selasa (6/4).
Pembicara dalam diskusi itu adalah Ketua Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL) Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB Aceng Hidayat dan Tejo Pramono dari La Via Campesina, sebuah organisasi gerakan petani internasiopnal yang mengoordinasi organisasi-organisasi petani skala kecil dan menengah, pekerja pertanian, wanita perdesaan di Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa.


Aceng Hidayat mengatakan, problem Indonesia terkait dengan pertanian adalah pemanasan global yang mengakibatkan degradasi tanah, kemiskinan petani, pengangguran di pedesaan, krisis keuangan, serta perdagangan bebas.
“Hal itu berimbas pada ancaman krisis pangan, energi dan air, sehingga ia menyarankan perlunya reorientasi kebijakan pembangunan pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim” tutur dia.
Aceng menilai, kebijakan pertanian di Indonesia masih berorientasi industrialisasi, sehingga pembelaan terhadap petani bersifat artifisial. Akibatnya yang muncul adalah food estate yang bersifat monokultur.
“Budaya pertanian ala food estate hanya diperuntukkan bagi pemilik kapital, dan merupakan petaka bagi petani kecil karena petani teralienasi dari budaya bertaninya, hilangnya hutan dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat, serta rusaknya lingkungan dan ekologinya,” papar dia.
Sementara itu, Tejo Pramono lebih banyak mengkritik sistem agribisnis yang dibenturkan dengan agroekologi. Kritik atas agrobisnis itu disampaikan karena dalam agroekologi justru menghasilkan energi, sedangkan agribisnis membutuhkan energi. (ant)

Sumber:
Investor Daily Indonesia
Rabu, 07 April 2010
Halaman 30