KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 15 Desember 2004 – Menjawab kontroversi tentang adanya pencemaran di perairan Teluk Buyat di Minahasa Selatan Sulawesi Utara, pemerintah telah melakukan penelitian terpadu di Teluk Buyat dan sekitarnya. Penelitian tersebut dilakukan oleh Tim Penanganan Kasus Pencemaran dan/atau Perusakan Lingkungan Hidup di Desa Buyat Pante dan Desa Ratatotok Timur Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara yang dibentuk dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 97 Tahun 2004, Jo Keputusan MENLH No. 191 tahun 2004. Tim ini dikenal dengan nama Tim Terpadu. Aspek lingkungan yang diteliti oleh Tim Terpadu meliputi antara lain; kualitas air laut, sungai, air tanah, air minum; kandungan logam berat di dalam ikan, biota laut lainnya, dan bahan makanan utama lainnya; biodiversitas ikan, benthos, plankton; pola arus; lapisan termoklin; dan teknologi pengolahan yang digunakan oleh PT. Newmont Minahasa Raya (NMR).

Hasil penelitian Tim Terpadu menyimpulkan bahwa perairan Teluk Buyat telah tercemar utamanya oleh logam berat Arsen (As). Indikasi pencemaran logam arsen di Perairan Teluk Buyat terlihat dari tingginya kandungan logam arsen di sedimen perairan Teluk Buyat. Kandungan logam arsen di dalam ikan dan biota laut lainnya yang ada di Teluk Buyat juga cukup tinggi. Indikasi lain terjadinya pencemaran Teluk Buyat adalah terganggunya biodiversitas dari benthos yang ada perairan Teluk Buyat. Biota benthos di perairan Teluk Buyat terganggu berat dengan tingkat biodiversitas sangat rendah dibandingkan dengan lokasi di sekitarnya.

Penelitian Tim Terpadu juga menyimpulkan pencemaran perairan Teluk Buyat ini diakibatkan oleh pembuangan tailing PT. Newmont Minahasa Raya (NMR). Temuan penting lainnya dari penelitian ini adalah lokasi pembuangan tailing PT. NMR tidak berada di bawah lapisan Termoklin sebagaiamana yang dipersyaratkan di dalam Dokumen AMDAL. Di dalam dokumen AMDAL pembuangan tailing harus dilakukan di bawah Termoklin. Untuk menghindari hal yang sama dikemudian hari maka Tim Terpadu menyarankan agar penerapan teknologi pembuangan tailing ke laut (Submarine Tailing Disposal) sejenis dengan PT. NMR perlu dipertimbangkan secara ketat.

Lebih lanjut dari hasil penelitian ini terlihat bahwa persoalan lingkungan lainnya yang secara serius harus diperhatikan adalah tingginya kadar logam berat pada air sumur penduduk di Desa Buyat. Kandungan arsen dalam air di empat dari enam sumur penduduk jauh lebih tinggi dari persyaratan air minum yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan, sehingga diperkirakan berpengaruh pada timbulnya penyakit yang saat ini diderita masyarakat sekitar saat ini.

Pada saat ini kesimpulan dari Tim Terpadu tersebut di atas telah menjadi keputusan resmi pemerintah. Hasil verifikasi yang dilakukan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) menyimpulkan bahwa sistem dan metodologi penelitian yang dilakukan oleh Tim Terpadu tersebut sahih/absah atau dengan kata lain dapat dipertanggung-jawabkan. Menindaklanjuti sikap resmi pemerintah ini, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ir Rachmat Witoelar mengatakan bahwa