KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Sidang Prepcom IV merupakan sidang komite persiapan menjelang Komite Tingkat Tinggi (KTT) Bumi yang rencananya diselenggarakan di Johannesburg, Afrika Selatan pada September tahun 2002, yang akan datang. Sidang tersebut secara khusus akan membahas peran kelompok negara-negara berkembang dan negara maju, dalam melaksanakan agenda pembangunan berkelanjutan seperti tertuang dalam Deklarasi Bumi di Rio De Janeiro yang diperjuangkan oleh kelompok negara-negara berkembang yang memiliki kepentingan berbeda dalam pertemuan itu.

Dalam sidang komite persiapan KTT Prepcom IV ini yang berlangsung di Nusa Dua Bali, mempersiapkan agenda untuk di bahas pada saat pertemuan Johannesburg September mendatang. Namun sampai berakhirnya Sidang Prepcom IV masih belum banyak kepentingan-kepentingan negara-negara berkembang yang berhasil di akomodir oleh negara-negara maju.

Sampai saat ini masih jelas terlihat bahwa negara-negara maju masih mendominasi terhadap beberapa kebijakan-kebijakan di bidang politik, sosial dan ekonomi yang dipercaya sangat mempengaruhi terhadap pembangunan berkelanjutan yang terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia khususnya.

Namun dalam pelaksanaannya mereka tetap mempertahankan dominasi mereka yang berakibat bisa berpengaruh sedikit tidak baik terhadap negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Dan sebagai tindak lanjut KTT Bumi di Rio De Janeiro pada tahun 1992 yang lalu. Prepcom IV dimaksudkan sebagai forum untuk mempersiapkan rencana tindakan atau agenda aksi terhadap 6 masalah utama di negara berkembang, dan saat ini sedang banyak dihadapi oleh negara seperti Indonesia, India, Pakistan dan masih banyak lagi negara lainnya. Diantara masalah tersebut adalah menyangkut masalah kemiskinan, kesehatan, sanitasi, penyediaan air bersih, pertanian dan energi.

Namun dari hasil pembahasan dalam sidang Prepcom IV terlihat bahwa negara-negara maju tak mau melepaskan kepentingan mereka atas ke enam masalah utama tersebut. Kita ambil contoh masalah kemiskinan misalnya, negara-negara maju masih saja sulit atau tidak mau menghapus hutang negara berkembang padahal hutang merupakan salah satu penyebab utarna bagi negara-negara berkembang untuk tidak dapat melanjutkan pembangunan-pembangunan yang bisa meningkatkan kegiatan untuk pembangunan berkelanjutan. Dan hutang juga merupakan salah satu bentuk kolonialisme bagi negara maju terhadap negara berkembang.

Masalah lain adalah masalah air bersih, tak jauh beda dengan masalah hutang negara maju, masih tidak mengakui bahwa negaranya sebagai penyebab pencemaran sumber air di negara berkembang. Padahal kita tahu melalui pengoperasian perusahaan-perusahaan tambang milik negara-negara maju ini justru mengakibatkan banyak sekali pencemaran-pencemaran terhadap sumber air.

Sebagai contoh untuk masalah ini adalah perusahaan tambang multi nasional Pyeserdong selama 30 tahun beroperasi di Filipina banyak sekali melakukan perusakan-perusakan lingkungan dan mencemari air bersih. Hal ini berakibat rusaknya sumber air di Marinduk yang terletak di Filipina.

Pencemaran juga terjadi di sekitar PT. Newmont di Nusa Tenggara Barat Indonesia, akibat beroperasinya tambang-tambang milik perusahaan besar tersebut sejurnlah korban pencemaran perusahaan ini sempat bersaksi di sidang Prepcom IV beberapa waktu yang lalu. Mereka katakan bahwa pembuangan PT Newmont telah meracuni tanah dan laut mereka, sehingga mengakibatkan banyak penduduk yang bertempat tinggal di sekitar pertambangan menjadi sakit.

Arogansi lain negara-negara maju juga semakin terlihat dalam masalah energi, misalnya kita juga bisa melihat usulan-usulan negara berkembang serta penggunaan energi yang diperbaharui. Seperti halnya energi surya dan biomassa sebesar 20% sampai tahun 2010 ternyata ditolak negara-negara maju. Dengan alasan yang mudah dipahami yaitu bahwa mereka tidak mau kehilangan pendapatan atas penjualan minyak bumi terhadap negara-negara berkembang, sehingga mereka tetap melaksanakan praktek-praktek tersebut.

Sejauh ini pertemuan Prepcom IV belum bisa dibilang ada kemajuan yang berarti dan pembahasan yang lebih rinci pada pertemuan 27 Juni juga masih terlihat arogansi negara berkembang untuk tetap mempertahankan argumennya. Sementara negara berkembang tetap menjadi sasaran bagi negara berkembang tanpa diberikan kelonggaran-kelonggaran, seperti penghapusan hutang misalnya. Pada sidang tersebut dibahas lebih rinci atau mendetail mengenai masalah-masalah apa yang dihadapi oleh negara berkembang dan bagaimana solusinya untuk kedepannya.sementara untuk pertemuan, namun kenyataannya masih berkisar kepada inventarisir masalah-masalah negara berkembang dan bagaimana negara-negara maju menyikapinya.

Dalam sidang Prepcom IV di Bali banyak juga kalangan-kalangan yang menentang sidang ini. Dengan adanya perkembangan dari berbagai pihak dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mereka sempat melakukan aksi demonstrasi karena mereka menganggap negara-negara maju sama sekali tidak memberikan kontribusi yang baik terhadap perkembangan negara-negara berkembang. Pihak LSM merasa tidak terwakili dalam Prepcom IV ini mereka menilai hasil sidang Prepcom tidak lebih sebagai dokumen untuk legitimasi bagi perusahaan-perusahaan multi nasional untuk menyebarkan kapitalisme di negara-negara berkembang. Demonstrasi yang dilakukan LSM ini tidak hanya dilakukan oleh LSM Indonesia, bahkan LSM dari luar negeripun ikut membentangkan spanduk-spanduk yang isinya meminta negara-negara maju untuk memperhatikan negara-negara miskin sebagai partner untuk bersama-sama melaksanakan pembangunan berkelanjutan, bukan sebagai negara yang dijadikan koloni model baru. Sayangnya aksi LSM ini tidak bisa dilihat langsung oleh para utusan dari negara-negara pengikut Prepcom IV, dan media massa yang meliput aksi ini hanya sedikit, sehingga gaungnya dan isi demonstrasi ini tidak begitu didengar oleh para peserta sidang.

Dalam acara tersebut AS Dillon dari Indonesia berbicara mengenai bagaimana solusi di negara-negara berkembang dalam menghadapi masalah kemiskinan, seperti masalah seputar hutang yang di hadapi negara-negara berkembang. Selain itu juga dalam sidang Prepcom IV itu juga diadakan Rally sepeda tua dengan rute yang dilaksanakan dari pantai Sanur – Nusa Dua sebagai upaya untuk memperingati hari Bumi yang akan dijelang. Dalam acara Rally sepeda tua ini juga diisi dengan acara memunguti sampah-sampah sepanjang rute tersebut dengan maksud membuat bumi ini bersih walaupun mungkin hanya sebagian kecil.