KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Pelaksanaan Workshop National Action Plan dilakukan pada tanggal 29 Agustus 2002. Sebagai pembukaan pada acara Workshop tersebut telah disampaikan kebijakan Produksi Bersih di Indonesia oleh Asisten Deputi Urusan Standarisasi dan Teknologi dan penjelasan rencana kegiatan penerapan Produksi Bersih pada 6 sektor oleh Bapak Achmad Djani dan selanjutnya diteruskan dengan paparan dari 2 industri dan 5 sektor. Pesertanya dari berbagai instansi pemerintah terkait.

Hasil

Sebagai hasil dari workshop tersebut dapat disampaikan beberapa hal sbb:

1. Dengan adanya otonomi daerah, pihak PEMDA menanyakan tentang pelaksanaan kebijakan produksi bersih di daerah dan pada kesempatan tersebut telah disampaikan bahwa Produksi Bersih bersifat sukarela dan untuk itu semua stakeholder pengelolaan lingkungan dapat terlibat secara aktif.

2. Sebagai salah satu program dalam kebijakan Produksi Bersih di Indonesia adalah dengan mendirikan National Center for Cleaner Production (NCCP) dan untuk itu Kementerian Lingkungan Hidup akan bekerjasama dengan balai-balai di daerah dan menghimpun hasil-hasil penelitian dari lembaga-lembaga yang kompeten. Disampaikan pula bahwa NCCP tidak akan tumpang tindih dengan institusi lain justru akan saling mendukung, sebagai contoh NCCP dengan klinik Produksi Bersih, Depperindag akan bekerjasama dalam hal tukar menukar informasi.

3. Pada pemaparan success story, PT. ASTRA menyampaikan bahwa perusahaannya berhasil menerapkan program Produksi Bersih pada seluruh anak perusahaan PT. ASTRA dan menganjurkan pelaksanaan Produksi Bersih tidak hanya merupakan project based melainkan output based. Selain itu, PT. ASTRA menerapkan Green Company Concept untuk seluruh lini perusahaan. Saat ini PT. ASTRA sedang mengembangkan:

· Green Factory dengan membentuk Recycle Center.

· Green Vendor dengan memilih vendor yang mempunyai produk/material yang bersifat green.

· Green Plantation dengan melakukan biological pest control.

· Green Workshop

PT. ASTRA melakukan pertemuan rutin untuk membahas masalah Environmental, Health and Safety 4 kali dalam setahun.

4. Sedangkan PT. Novartis dalam pemaparannya menyampaikan perlunya Top Management membuat komitmen untuk mengimplementasikan program-program lingkungan terutama yang berkaitan dengan pollution prevention.

Pelaksanan program Produksi Bersih pada PT. Novartis melalui implementasi sistem ISO 14001 dengan cara:

· Mengupayakan pengurangan jumlah limbah yang terbentuk.

· Menerapkan inventory management.

· Mengembangkan pola pikir 3M (murah, mudah dan manfaat) dalam pemilihan bahan baku, proses dan pengelolaan limbah.

5. Program Produksi Bersih pada sektor perindustrian dan perdagangan telah dikembangkan pada industri pulp and paper, electroplating and plywoood dan informasi yang berkaitan dengan hat tersebut telah didesiminasikan kepada sektor terkait dan swasta. Selain itu Balai Besar Kulit di Yogyakarta sedang mengembangkan mesin chrome recovery.

6. Dari sektor pertanian diinformasikan bahwa program Produksi Bersih baru diterapkan pada perkebunan kelapa sawit yaitu melalui penghematan penggunaan air dan penggunaan NH3 cair untuk memproses latex yang terbentuk. Disampaikan bahwa saat ini produk-produk pertanian ramah lingkungan penjualannya meningkat, sebagai contoh pemerintah Kanada meminta Indonesia dan Malaysia memasok minyak kelapa sawit senilai 22 billion dolar. Program Produksi Bersih yang sedang dikembangkan oleh sektor pertanian adalah: Organic Plant, Ecofarming, Ecoagroindustry (misalnya industri kompos rakyat).

Selain itu sektor pertanian menetapkan program Go Organic 2010 yaitu dengan memberikan insentif bagi petani melalui penyediaan 100 unit mesin composting.

7. Penerapan program Produksi Bersih pada sektor Energi Sumber Daya Mineral telah dicanangkan pada proses drilling, penambangan dan proses-proses lain, disamping itu diinformasikan tentang adanya ketentuan pertambangan yang melarang eksploitasi di Taman Nasional.

8. Prioritas program Produksi Bersih pada sektor kesehatan adalah untuk Rumah Sakit yaitu melalui pengkajian IPAL untuk Rumah Sakit Kecil sejumlah 900 unit dan Rumah Sakit besar sejumlah 1000 unit.

9. Sektor perhubungan menerapkan program Produksi Bersih melalui pemberlakuan uji emisi gas buang disertai dengan tindakan hukum untuk yang melewati Nilai Ambang Batas Emisi Gas Buang.

10. Sebagai kesimpulan dari hasil pelaksanaan pemaparan Action Plan Penerapan Produksi Bersih adalah sebagai berikut:

· Hampir semua sektor/stakeholder dapat bersinergi satu sama lain dalam rangka menerapkan program Produksi Bersih.

· Perlu adanya koordinator yang dapat berfungsi sebagai fasilitator untuk semua sektor dalam penerapan program Produksi Bersih.

Tindak Lanjut

Tindak lanjut dari penerapan program Produksi Bersih pada sektor terkait adalah mengimplementasikan rencana/program penerapan produksi bersih di instansinya dan mendukung untuk segera merealisasikan terbentuknya National Center for Cleaner Production pada unit Asisten Deputi Urusan Standarisasi dan Teknologi, Kementerian Lingkungan Hidup.