HEMAT ENERGI DENGAN KOTORAN HEWAN

JANGAN heran jika ke depan beragam kotoran baik ternak sampai manusia menjadi bahan baku yang dicari-cari. Sebab, beragam limbah dari hasil pembuangan mahluk hidup ini bisa menjadi energi alternatif. Kini, di tengah keterbatasan sumber energi lain terus dicari, termasuk memanfaatkan limbah. Salah satunya pemanfaatan kotoran sapi untuk bahan pembuatan biogas di pedesaan melalui program Biogas [...]

19 Jul 2010 03:13 WIB

JANGAN heran jika ke depan beragam kotoran baik ternak sampai manusia menjadi bahan baku yang dicari-cari. Sebab, beragam limbah dari hasil pembuangan mahluk hidup ini bisa menjadi energi alternatif. Kini, di tengah keterbatasan sumber energi lain terus dicari, termasuk memanfaatkan limbah. Salah satunya pemanfaatan kotoran sapi untuk bahan pembuatan biogas di pedesaan melalui program Biogas Rumah (Biru) disejumlah provinsi seperti kali ini di bantul, Yogyakarta.

Provincial Coordinator Indonesia Domestic Biogas Programme, maria Epik Pranasari di bantul, jum’at (16/7) mengatakan, mengajak masyarakat manfaatkan potensi yang ada. “Kotoran ternak mereka bisa hasilkan energi biogas. Mereka kita ajari bangun reaktor biogas rumah sesuai standar,” katanya.

Sejak diluncurkan, sudah ada 260 unit reaktor tersebar di jawa Barat, Jawa Timur dan jawa Tengah. Untuk Yogyakarta program mulai berjalan di bantul dan Sleman dengan target 200 unit bisa reaktor biogas hingga akhir 2010.

Pembuatan reaktor biogas rumah bagian dari kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Belanda melalui lembaga HIVOD (Institusi kemanusiaan untuk kerja sama pembangunan). Lalu SNV (lembaga pembangunan Belanda) yang ditunjuk sebagai pengelola program nasional Indonesia Biogas Domestic Programme (IBDP) bersama dengan Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi. “HIVOS sediakan dana bantuan untuk pembuatan reaktor. Tukang atau pekerja bangunan yang terlibat proyek mendapat pelatihan dahulu seta setifikasi. tujuannya agar ada standar baku bangunan reaktor hingga bisa optimal dimanfaatkan,” ucap Maria.

Maria menambahkan, pembangunan reaktor Biru di Dusun Tangkil, Srihardono, Pundong bantul bertujuan mengenalkan kepada warga sekitar memanfaatkan kotoran ternak yang selama ini tidak mereka olah. Harga satu unit reaktor biogas rumah berkapasitas empat meter kubik membutuhkan biaya Rp4 juta hingga Rp5 juta. Warga dibantu sebagian dan diharapkan mau menginventasikan dana untuk membangun.

Tahap awal pembangunan reaktor biogas diawali pelatihan pembangunan bagi para tukang batu di Dusun Tingkil, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul dan peserta dari Kabupaten Boyolali Jawa Tengah.  Mereka mendapatkan pelatihan soal teknologi fixed dome atau kubah  beton. “Setiap warga rata-rata di Tingkil mempunyai piaraan sapi dua sampai tiga ekor.

Hingga kotoran hewan ini sangat mampu menopang keberlangsungan kesediaan bahan baku biogas.”

Darmanto, kepala Dusun Tangkil Srihardono, Kecamatan Pundong Bantul menyatakan, nbanyak keluarga menggantungkan hidup dari usaha pertanian dan ternak sapi maupun kambing. Pengenalan pembangunan reaktor Biru diharapkan memancing ketertarikan warga lain turut mengolah kotoran ternak menjadi bahan bakar gas.

Kotoran sapi yang melimpah biasanya hanya untuk pupuk. Setelah diolah dalam biogas ada dua keuntungan untuk biogas atau pupuk. “Pembangunan reaktor biru bisa bantu warga dalam kurangi konsumsi energi. Bisa hemat dana karena tidak perlu beli gas lagi. Bahan bakar bisa diperoleh dari pengolahan kotoran ternak. Sangat hemat karena tak harus membeli gas lagi,” kata Darmanto.

Sumber:
Jurnal Nasional
Senin, 19 Juli 2010
Hal. 12
Much Fatchurochman

Kerjasama

  • Luar Negeri
  • Dalam Negeri
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
Sex izle Film izle Hd Film izle Seo Danışmanı