KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 20 Maret 2013. Dalam rangka implementasi HydroChloroFluoroCarbon (HCFC) Phase-Out Management Plant (HPMP), Kementerian Lingkungan Hidup akan memberikan Hibah HPMP pada industri manufaktur pengguna HCFC. Hal ini merupakan upaya memenuhi komitmen Pemerintah Indonesia terhadap Konvensi Wina dan Protokol Montreal dalam mempercepat penghapusan konsumsi Bahan Perusak Ozon (BPO) jenis HCFC. Protokol Montreal merupakan satu-satunya konvensi yang mengatur tentang kewajiban Negara anggota untuk menghapuskan konsumsi BPO dengan menyediakan dana kompensasi bagi Negara berkembang (Negara Artikel 5). Indonesia termasuk Negara yang berhak mendapakan bantuan pendanaan dari Multilateral Fund yang diberikan melalui United Nations Development Programme (UNDP), World Bank dan UNIDO dalam melaksanakan HPMP tersebut.

Besaran hibah ditentukan sesuai dengan jumlah konsumsi HCFC yang akan dihapuskan, di mana Indonesia menerima USD 12,692,684 untuk menghapuskan HCFC sebesar 1.686 metrik ton.  Bantuan pendanaan tersebut digunakan untuk membantu industri lokal manufaktur yang menggunakan BPO HCFC agar menganti teknologinya menjadi teknologi non-HCFC. Untuk tahun 2013 – 2018, pendanaan hibah tersebut diberikan pada 21 industri AC, 27 industri refrigerasi dan 30 industri foam. Pada tahap awal implementasi trance-1 ini, KLH melalui UNDP akan memberikan hibah HPMP (HCFC Phase-Out Management Plan) atau pelaksanaan alih teknologi HCFC menjadi non-HCFC pada 8 industri melalui Memorandum of Agreement.

Dalam Sambutannya, Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya menyatakan “Pemerintah Indonesia melakukan berbagai strategi dalam upaya penghapusan Bahan Perusak Ozon jenis HCFC ini, antara lain dengan pemberian bantuan alih teknologi, pengembangan kebijakan dan regulasi dan peningkatan kapasitas bagi berbagai pemangku kepentingan serta peningkatan kesadaran masyarakat.”  Koordinasi yang kuat antara Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan serta Dirjen Bea Cukai menjadi kunci keberhasilan Program Penghapusan HCFC di Indonesia.

Target Penghapusan BPO jenis HCFC ini akan dilakukan secara bertahap yaitu pada:

  1. Januari 2013: Kembali ke Baseline (Rata-rata konsumsi tahun 2009-2010)
  2. Januari 2015: Penurunan konsumsi HCFC sebesar 10% dari baseline
  3. Januari 2020: Penurunan konsumsi HCFC sebesar 35% dari baseline
  4. Januari 2025: Penurunan konsumsi HCFC sebesar 67.5% dari baseline
  5. Januari 2030: Penurunan konsumsi HCFC sebesar 97.5% dari baseline (sisa 2.5% untuk kegiatan servis)

Pertemuan ini dihadiri pula Regional Coordinator, Asia-Pacific Montreal Protocol Unit/UNDP, Mr. Nandan Chirmulay, yang membantu KLH menyalurkan dana hibah dan memfasilitasi “Technology Forum on Indonesia HPMP Implementation for Air Conditioning and Commercial Refrigeration Sectors” yang merupakan peningkatan kapasitas akan Teknologi dengan bahan baku non HCFC  dengan menghadirkan narasumber berbagai Negara seperti USA, Denmark, Cina, Jerman dan Italia.

Untuk Informasi Lebih Lanjut:

Ir. Arief Yuwono, MA,
Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Ikim,
Kementerian Lingkungan Hidup,
Tlp/Fax: (021-85904923),
email: humaslh@gmail.com