KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Indonesia memimpin pertemuan Environmentally Sustainable Cities
Kementerian Lingkungan Hidup – Surabaya, 28 Pebruari 2014.  Salah satu hasil penting dari Pertemuan Tingkat Tinggi Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development-WSSD) adalah adanya pengakuan tentang pentingnya keberlanjutan pembangunan yang selaras dengan aspek-aspek lingkungan hidup. Sejalan dengan itu, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan The 5th High Level Seminar on Environmentally Sustainable City (HLS-ESC) yang berlangsung di Surabaya tanggal 28 Februari hingga 1 Maret 2014, dihadiri oleh 10 negara ASEAN ditambah 8 negara yaitu New Zealand, China, India, Australia, Korea Selatan, Jepang, Amerika, dan Rusia.

Pertemuan ini pada dasarnya  merupakan platform untuk melakukan pembahasan dan bertukar pandangan dan informasi tentang berbagai peluang dan manfaat yang disampaikan oleh kota-kota peserta dibidang permasalahan lingkungan perkotaan. Kota-kota di wilayah ASEAN beragam tahap perkembangannya, namun secara umum menghadapi permasalahan yang sama, seperti pencemaran udara yang berasal dari industri dan kendaraan bermotor, kurangnya infrastruktur pengolahan air baku dan pengelolaan limbah serta sampah yang belum memadai.

Dalam kesempatan ini Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dalam kata sambutannya yang disampaikan oleh Deputi IV MenLH Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah Bahan Berbahaya, Drs. Rasio Ridho Sani M.Com, MPM. menyampaikan,“Tantangan perkotaan seperti kemiskinan, ekonomi dan permasalahan lingkung masih terus meningkat, oleh karenanya perlu dicari solusi menuju pengelolaan perkotaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tantangan ini diperberat dengan adanya dampak perubahan iklim dan harus mengakomodir kekayaan budaya dan keanekaragaman hayati. Salah satu solusi tantangan perkotaan adalah kerjasama mutualisme ASEAN seperti: ASEAN Plus Japan, untuk Lingkungan Kota Berkelanjutan.”

Dalam seminar ini akan dibahas beberapa pokok penting antara lain membangun semangat Deklarasi Surabaya dengan semangat transformasi semua peserta untuk layanan air dan udara bersih serta Clean and Green City melalui Kota Layak Huni (Lifeable City). Merupakan suatu kewajiban pengelola kota untuk dapat memberikan ketersediaan air bersih, dan minum, udara bersih, ruang terbuka hijau dan keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan rakyatnya, walaupun banyak kendala yang dihadapi dalam pengelolaan perkotaan seperti : tidak konsistennya pelaksanaan tata ruang, tingginya pertumbuhan penduduk dan penigkatan kebutuhan konsumsi dibandingkan dengan produksinya.

Beberapa upaya pemerintah Indonesia kaitannya dengan Environmentally Sustainable Cities adalah penetapan beberapa tahapan untuk jaringan kerjasama antar kota, pertukaran pengetahuan di kalangan pemangku kebijakan dan sector. Kementerian Kehutanan untuk konservasi ruang terbuka hijau, Kementerian Perhubungan untuk konservasi energi dan Departemen Dalam Negeri untuk pasokan air terkait dan ruang terbuka hijau. Sejalan dengan indikator kunci di “ESC Award” untuk Clean Land, Clean Water, Clean Air dan Biodiversity (Keanekaragaman Hayati) yang dianggap sebagai dasar yang kompetitif, Indonesia menghubungkan indikator ini dengan program yang ada  seperti Adipura yang dikenal sebagai Clean and Green Cities Program.  Di Indonesia sudah ada dua kota yang mendapatkan “Environmentally Sustainable City Award” (ESC Award) yaitu Kota Palembang pada tahun 2008 dan kemudian pada tahun 2011 Kota Surabaya meraih ESC Award, Kota Banjarmasin mendapatkan sertifikat Clean Water, dan Makassar meraih sertifikat Clean Air

Selain itu, Indonesia telah mengidentifikasi dan mereplikasi inisiatif masyarakat seperti Bank Sampah yang melakukan pemilahan sampah serta memasukan edukasi pemilahan sampah ke dalam pendidikan sekolah dan pembuatan kompos. Surabaya kembali menjadi contoh kota berwawasan lingkungan dimana saat ini telah mengembangkan sistem persampahan yang baik dengan memiliki Super Depo. Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia memfasilitasi kerjasama antar kota dengan kota di negara lain seperti kerjasama Surabaya – Kitakyushu dan bentuk kerjasama ini akan terus dikembangkan antara kota-kota lain di Indonesia dan kota-kota di negara lain.

Informasi lebih lanjut :
Drs. Rasio Ridho Sani, M.Com, MPM,
Deputi IV MenLH Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya
dan Beracun, Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun dan Sampah,
Telp/Fax : (021) 85905637,
www.menlh.go.id